Smart Glasses Inmo Air3 Ditarik di AS dan Kanada: Risiko Luka Bakar Picu Kekhawatiran Wearable
Baca dalam 60 detik
- Inmo menarik lebih dari 1.600 unit kacamata pintar Air3 di AS dan Kanada setelah laporan overheating pada bagian pelipis kiri yang dapat menyebabkan luka bakar.
- Insiden ini menyoroti tantangan keselamatan pada perangkat wearable yang menempel langsung di wajah, dengan harga jual mencapai US$1.300.
- Konsumen diminta menghentikan pemakaian dan menunggu pembaruan perangkat lunak gratis; regulator menekankan potensi cedera serius.

Inmo, produsen kacamata pintar, resmi menarik lebih dari 1.600 unit Air3 di Amerika Serikat dan Kanada setelah menerima laporan bahwa bagian pelipis kiri perangkat dapat mengalami panas berlebih dan melukai pengguna. Penarikan ini mencuatkan persoalan mendasar pada perangkat wearable canggih: ketika elektronik menempel erat di wajah selama berjam-jam, cacat perangkat sekecil apa pun bisa berubah menjadi bahaya serius.
Menurut laporan The Verge, kacamata tersebut dijual antara Desember 2025 hingga Agustus 2026 melalui situs resmi Inmo, Amazon, dan kampanye crowdfunding Kickstarter, dengan banderol US$900 hingga US$1.300. Komisi Keamanan Produk Konsumen AS (CPSC) mengungkapkan telah menerima 10 keluhan dari pengguna yang merasakan "sensasi terbakar di wajah dan sisi kiri telinga" saat memakai perangkat. CPSC memperingatkan bahwa pelipis kiri kacamata "dapat memanas selama pemakaian berkepanjangan, menimbulkan risiko cedera serius atau kematian akibat bahaya luka bakar."
Unit yang ditarik dapat dikenali dari bingkai hitam dan label di pelipis kanan bertuliskan "Air3" serta "Inmo". Inmo sebelumnya telah mengirimkan sarung pelindung yang dimaksudkan untuk menahan panas berlebih, dan beberapa ulasan menyebutkan masalah overheating pada pelipis kiri. Langkah penarikan ini menegaskan bahwa desain perangkat yang menempel langsung di kulit sensitif memerlukan standar keselamatan lebih ketat dibanding gawai konvensional.
Dalam instruksi resminya, Inmo meminta konsumen segera menghentikan penggunaan Air3 dan menghubungi tim dukungan melalui telepon atau email. Perusahaan menawarkan pembaruan perangkat lunak daring gratis untuk mengatasi masalah tersebut. Pemilik yang belum yakin apakah unitnya termasuk dalam penarikan diminta memeriksa label di pelipis kanan dan memastikan tempat serta waktu pembelian.
"Pelipis kiri dapat memanas selama pemakaian berkepanjangan, menimbulkan risiko cedera serius atau kematian akibat bahaya luka bakar," demikian peringatan CPSC.
Insiden ini bukan kasus pertama yang menyoroti risiko perangkat wearable. Sebelumnya, Meta menghadapi sorotan terkait privasi dan iklan pada kacamata pintarnya, termasuk kontroversi kemampuan mengenali orang secara real-time. CPSC juga pernah memperingatkan pembeli Amazon tentang insole pemanas yang dapat menyala meski dalam keadaan mati. Pola ini menunjukkan bahwa inovasi di segmen wearable sering kali mendahului kesiapan regulasi dan pengujian keselamatan yang memadai.
Bagi Indonesia, penarikan ini menjadi pengingat bahwa perangkat wearable premium kerap masuk melalui jalur impor langsung atau pasar daring tanpa pengawasan ketat. Konsumen di dalam negeri perlu waspada terhadap produk yang belum memiliki sertifikasi keamanan resmi, terutama yang menempel di tubuh dalam waktu lama. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) memiliki peluang untuk memperkuat pengawasan terhadap gawai pintar impor, seiring meningkatnya adopsi teknologi wearable di kalangan profesional muda dan penggemar gadget.
Ke depan, produsen kacamata pintar dituntut tidak hanya bersaing pada fitur dan desain, tetapi juga memastikan sistem proteksi panas yang andal. Regulator di berbagai negara kemungkinan akan memperketat standar keselamatan baterai dan komponen pemanas pada perangkat yang menyentuh kulit. Pertanyaannya, apakah industri wearable siap mengedepankan keselamatan sebelum inovasi, atau akankah konsumen terus menjadi kelinci percobaan?



