NASA Tantang Dunia Ciptakan Sistem Pangan Mars, Mahasiswa Philadelphia Raih Hadiah Rp4,8 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Chinyere Ukeje, 25, memenangi hadiah utama US$300.000 dalam kompetisi 'Mars to Table' NASA dengan sistem pangan adaptif yang mampu menopang 15 awak selama 513 hari Bumi.
- Sistem bernama Adaptive Nourishment Infrastructure (ANI) ini menggabungkan pertanian lingkungan terkendali, fermentasi, dan daur ulang nutrisi tertutup untuk menghasilkan setengah kebutuhan pangan di luar Bumi.
- Inisiatif ini menjadi fondasi teknologi pangan antariksa yang berpotensi mempercepat misi berawak ke Mars pada dekade 2030-an, sekaligus menawarkan solusi untuk ketahanan pangan di Bumi.

NASA menetapkan Chinyere Ukeje, warga Philadelphia berusia 25 tahun, sebagai pemenang pertama kompetisi desain sistem pangan "Mars to Table" dengan hadiah US$300.000 (sekitar Rp4,8 miliar). Kemenangan ini menandai langkah konkret badan antariksa Amerika Serikat itu dalam memecahkan salah satu hambatan terbesar misi berawak ke Mars: menyediakan makanan bergizi bagi kru selama perjalanan panjang di luar Bumi.
Kompetisi yang diluncurkan awal tahun ini menantang partisipan dari seluruh dunia untuk merancang rencana makan lengkap dan sistem produksi pangan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi awak di Mars. Dari 113 proposal yang masuk dari 33 negara dan 28 negara bagian AS, gagasan Ukeje terpilih sebagai yang paling menjanjikan. Ia mengusulkan Adaptive Nourishment Infrastructure (ANI), sebuah sistem yang mengintegrasikan pertanian lingkungan terkendali, budidaya jamur dan fermentasi, serta daur ulang nutrisi tertutup melalui bioreaktor. Pendekatan ini diklaim dapat memproduksi hingga 50 persen kebutuhan pangan langsung di lokasi, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Bumi.
NASA menilai metode konvensional tidak lagi memadai untuk misi antarplanet. Selama ini, makanan astronot dimasak, dikemas, dan dikirim dari Laboratorium Sistem Pangan Antariksa di Johnson Space Center ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Perjalanan satu arah ke Mars memakan waktu minimal sembilan bulan, sehingga membawa seluruh persediaan makanan dari Bumi dinilai tidak berkelanjutan. Sistem ANI menawarkan solusi dengan kemampuan memasak hidangan segar setiap hari dan menyediakan cadangan menghadapi krisis pasokan daya, air, peralatan, atau waktu kru.
Ukeje, yang sedang menempuh gelar master ilmu komputer di Johns Hopkins University, merancang sistem di mana astronot dapat mengolah kubus makanan bergizi menggunakan kotak makan siang listrik portabel. Menurutnya, tantangan pangan di Mars bukan sekadar bercocok tanam. "Anda ingin mereka merasa seperti di rumah ketika berada jutaan mil jauhnya dari rumah," ujarnya kepada The Philadelphia Inquirer. Pendekatan ini menyoroti aspek psikologis dan kenyamanan awak, yang kerap terabaikan dalam diskusi teknis misi antariksa.
Selain Ukeje, NASA menganugerahi empat pemenang lain yang idenya akan menjadi landasan pengembangan sistem pangan luar angkasa di masa depan. Jennifer Edmunson, manajer program Centennial Challenges di Marshall Space Flight Center, menyatakan pihaknya antusias melanjutkan inovasi ini. "Masa depan eksplorasi antariksa manusia akan bergantung pada sistem pangan yang inovatif, dan menakjubkan melihat betapa banyak kecerdikan yang berhasil kami identifikasi dari peserta di dekat dan jauh," kata Edmunson.
Bagi Indonesia, terobosan ini membuka peluang kolaborasi riset pangan dan bioteknologi, terutama karena negara ini memiliki kekayaan biodiversitas jamur dan fermentasi. Konsep daur ulang nutrisi tertutup juga relevan untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan di daerah terpencil, pulau kecil, atau kawasan bencana. Teknologi bioreaktor skala kecil yang dikembangkan untuk Mars dapat diadaptasi menjadi solusi pangan mandiri di wilayah dengan akses logistik terbatas. Selain itu, keberhasilan Ukeje—seorang mahasiswa imigran asal Nigeria—menegaskan bahwa inovasi antariksa tidak lagi eksklusif milik negara maju, melainkan terbuka bagi talenta global, termasuk dari Indonesia.
NASA masih memiliki waktu beberapa tahun sebelum misi ke Mars benar-benar diluncurkan. Badan itu bahkan belum kembali mendaratkan manusia di Bulan, dan memperkirakan misi Mars paling cepat baru terwujud pada 2030-an. Namun, kompetisi seperti "Mars to Table" menunjukkan bahwa persiapan menuju planet merah tidak hanya soal roket dan wahana, tetapi juga soal kemampuan manusia bertahan hidup dari apa yang bisa ditanam dan diolah di tempat asing. Pertanyaannya, akankah teknologi pangan antariksa ini cukup matang sebelum jendela peluncuran berikutnya tiba, dan siapkah negara-negara berkembang ikut serta dalam rantai pasok risetnya?



