Banjir Cedera di Kanada Terbuka: PTPA Desak ATP Tinjau Ulang Kalender Padat
Baca dalam 60 detik
- Rentetan mundurnya bintang tenis di Kanada Terbuka memicu peringatan PTPA tentang risiko cedera akibat jadwal padat.
- Data PTPA menunjukkan lonjakan cedera lengan hingga 112% pada 2026, mempertanyakan kebijakan ATP memperpanjang turnamen Masters 1000.
- PTPA mendesak ATP melibatkan pemain dalam penyusunan kalender dan mempertimbangkan kembali format 12 hari demi keselamatan atlet.

Gelombang pengunduran diri pemain top di Kanada Terbuka pekan ini menjadi alarm baru bagi dunia tenis profesional: Asosiasi Pemain Tenis Profesional (PTPA) menilai kalender kompetisi yang semakin panjang dan padat telah meningkatkan risiko cedera secara signifikan. Dalam pernyataan resminya, PTPA mengungkapkan keprihatinan mendalam atas absennya sejumlah nama besar, yang dinilai sebagai konsekuensi logis dari berkurangnya waktu pemulihan antarturnamen.
Turnamen yang berlangsung di Montreal itu kehilangan petenis nomor satu dunia Jannik Sinner, legenda 24 gelar Grand Slam Novak Djokovic, serta Carlos Alcaraz yang mengalami cedera pergelangan tangan. Pebulu tangkis andalan tuan rumah, Felix Auger-Aliassime, juga mundur sebelum laga pembukanya akibat cedera punggung. Di sektor putri, juara bertahan Victoria Mboko, finalis Wimbledon Karolina Muchova, Emma Raducanu, dan Jasmine Paolini turut absen karena cedera. Rentetan mundurnya pemain ini bukan sekadar kebetulan, melainkan gejala dari masalah yang lebih sistemik.
PTPA, yang selama tiga tahun terakhir mengumpulkan data cedera dari lebih dari 30.000 pertandingan profesional di semua level, menemukan pola yang mengkhawatirkan. Analisis mereka menunjukkan cedera tubuh bagian atas meningkat 42 persen pada kuartal pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih mencengangkan lagi, cedera lengan melonjak hingga 112 persen dibandingkan rata-rata 2025. Data ini memperkuat argumen bahwa musim kompetisi terlalu panjang, waktu pemulihan semakin sempit, dan cedera terjadi lebih awal serta lebih parah.
Kebijakan ATP yang memperpanjang tujuh dari sembilan turnamen Masters 1000 menjadi 12 hari melalui rencana strategis OneVision dinilai PTPA sebagai biang keladi utama. Format baru yang mulai diterapkan penuh pada 2025 ini secara langsung memangkas waktu istirahat, latihan, dan perjalanan antarturnamen. Padahal, para pemain sudah lama menyuarakan kekhawatiran mereka tentang tuntutan fisik yang berlebihan. PTPA menegaskan bahwa kepentingan komersial jangka pendek tidak boleh mengorbankan kesehatan atlet.
PTPA mendesak ATP untuk mengambil pendekatan berbasis data dan kesehatan pemain dalam merombak kalender. Mereka meminta agar pemain diberi peran bermakna dalam penyusunan jadwal, serta mengurangi kewajiban turnamen yang bersifat wajib agar ada ruang pemulihan yang memadai. Lebih jauh, PTPA menyerukan agar ATP mempertimbangkan kembali format 12 hari untuk Masters 1000. Sementara itu, ATP sebelumnya menyatakan bahwa pemain tetap memiliki pilihan atas jadwal mereka dan sedang berupaya menciptakan insentif untuk jumlah pertandingan yang sesuai.
Bagi Indonesia, isu ini relevan dengan perkembangan tenis nasional yang mulai bangkit. Dengan semakin banyaknya turnamen internasional yang digelar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, para petenis muda tanah air akan semakin terpapar pada tuntutan fisik yang sama. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) perlu mengantisipasi hal ini dengan menyusun program pembinaan yang memperhatikan manajemen beban latihan dan jadwal pertandingan, agar talenta muda tidak cepat rusak akibat cedera. Selain itu, keputusan ATP ke depan akan memengaruhi kalender turnamen yang bisa diikuti petenis Indonesia, baik di level Challenger maupun ATP.
Pertanyaan besarnya, akankah ATP merespons tuntutan PTPA dengan mengubah kebijakan, atau justru mengabaikan data yang sudah terkumpul? Jika tidak ada perubahan, bukan tidak mungkin gelombang pengunduran diri seperti di Kanada Terbuka akan semakin sering terjadi, dan pada akhirnya merusak daya tarik tenis sebagai olahraga profesional. Masa depan tenis bergantung pada keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kesehatan atlet, sebuah dilema yang tidak bisa ditunda lagi.



