Sabalenka Tersingkir di Toronto: Persiapan AS Terbuka Ganda
Baca dalam 60 detik
- Unggulan pertama Aryna Sabalenka harus mengakui keunggulan Ekaterina Alexandrova di babak keempat Kanada Terbuka, mengakhiri laju juara bertahan AS Terbuka.
- Kekalahan ini menambah daftar hasil mengecewakan petenis top jelang Grand Slam, memberi sinyal persaingan yang semakin ketat di puncak tenis putri.
- Alexandrova, yang kini melaju ke perempat final, akan berhadapan dengan Elina Svitolina, membuka peluang kejutan lebih lanjut di turnamen WTA 1000 ini.

Petenis nomor satu dunia asal Belarusia, Aryna Sabalenka, harus mengubur ambisinya di Kanada Terbuka setelah takluk dari Ekaterina Alexandrova pada babak keempat, Sabtu (9/8). Unggulan keenam belas asal Rusia itu menang dramatis dengan skor 7-6(3), 4-6, 6-4 dalam pertarungan sengit yang berlangsung hampir dua setengah jam. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi persiapan Sabalenka menjelang AS Terbuka, turnamen yang ia menangkan tahun lalu.
Laga yang berlangsung di Toronto ini memperlihatkan pertarungan dua gaya bermain yang kontras. Sabalenka, yang dikenal dengan pukulan keras dan agresif, justru kerap melakukan kesalahan sendiri di momen krusial. Alexandrova, sebaliknya, tampil tenang dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Ia berhasil memenangi tiebreak di set pertama setelah sempat tertinggal, lalu bertahan di set kedua, dan akhirnya memastikan kemenangan di set penentuan.
Momen kunci terjadi saat Sabalenka berusaha mempertahankan servisnya di kedudukan 4-5 di set ketiga. Ia sempat menyelamatkan dua match point, namun double fault pada kesempatan ketiga memastikan kemenangan Alexandrova. "Saya hanya mencoba bermain setiap poin seolah-olah itu yang terakhir, karena dengan dia, Anda tidak punya banyak kesempatan selama pertandingan," ujar Alexandrova dalam wawancara di lapangan. "Jujur, saya berusaha tidak memikirkan skor atau apa pun. Hanya memukul bola, dan itu saja. Saya sangat senang bisa menang karena setelah set kedua, saya pikir kesempatan itu sudah lewat."
Kekalahan ini menandai kegagalan Sabalenka untuk mempertahankan gelar di turnamen yang pernah ia menangkan pada 2023. Ini juga menjadi catatan buruk jelang Grand Slam terakhir musim ini, di mana ia berstatus juara bertahan. Sebelumnya, Sabalenka juga tersingkir lebih awal di beberapa turnamen, menunjukkan bahwa konsistensinya sedang diuji. Para pengamat menilai bahwa tekanan sebagai pemuncak klasemen dan juara bertahan mungkin memengaruhi performanya di lapangan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak karena menunjukkan betapa kompetitifnya tenis putri saat ini. Meski tidak ada pemain Indonesia yang berpartisipasi di turnamen ini, dinamika persaingan di puncak klasemen WTA memberikan gambaran tentang standar yang harus dicapai oleh petenis Asia Tenggara jika ingin bersaing di level tertinggi. Selain itu, turnamen seperti Kanada Terbuka sering menjadi barometer bagi performa pemain top sebelum Grand Slam, sehingga hasil ini bisa menjadi bahan analisis bagi pengamat tenis Tanah Air.
Di sisi lain, kemenangan Alexandrova menjadi bukti bahwa peringkat tidak selalu menjadi jaminan. Petenis Rusia yang kini berusia 30 tahun itu menunjukkan kedewasaan dalam bermain, terutama dalam mengelola emosi dan tekanan. Ia mengaku tidak memikirkan skor dan hanya fokus pada setiap pukulan, strategi yang terbukti efektif melawan pemain sekelas Sabalenka. "Saya sangat senang bisa menang karena setelah set kedua, saya pikir kesempatan itu sudah lewat," tambahnya, menggambarkan betapa tipisnya margin kemenangan di level ini.
Dengan tersingkirnya Sabalenka, persaingan di Kanada Terbuka semakin terbuka. Para unggulan lain seperti Iga Swiatek dan Coco Gauff masih bertahan, dan mereka akan menjadi favorit untuk merebut gelar. Namun, penampilan Alexandrova dan Svitolina menunjukkan bahwa kejutan selalu mungkin terjadi. Bagi Sabalenka, kekalahan ini menjadi bahan evaluasi penting sebelum AS Terbuka yang akan digelar akhir bulan ini. Pertanyaannya, mampukah ia bangkit dan mempertahankan gelar Grand Slam-nya, atau justru tekanan semakin berat? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, persaingan di puncak tenis putri semakin sengit dan tidak bisa diprediksi.



