Inflamasi Sistemik Tingkatkan Risiko Jantung 43%, Studi Terbesar Ungkap Kaitannya dengan Gaya Hidup
Baca dalam 60 detik
- Penelitian pada 488.079 partisipan menemukan bahwa kadar GlycA yang tinggi berkorelasi dengan risiko kejadian kardiovaskular mayor 43% lebih besar.
- Faktor seperti merokok, depresi, dan lemak perut terbukti meningkatkan inflamasi, sedangkan aktivitas fisik dan pola makan sehat menekannya.
- Temuan ini menegaskan bahwa risiko jantung tidak ditentukan gen semata; intervensi gaya hidup tetap efektif menekan peradangan kronis.

Sebuah studi berskala besar yang dipublikasikan di European Journal of Preventive Cardiology mengungkap bahwa peradangan kronis di seluruh tubuh—yang diukur melalui penanda darah bernama glycoprotein acetyls (GlycA)—berkaitan erat dengan perubahan struktur jantung dan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular mayor. Analisis terhadap 488.079 partisipan UK Biobank ini menjadi salah satu bukti terkuat yang menghubungkan inflamasi sistemik dengan kesehatan jantung.
Para peneliti menemukan bahwa individu dengan kadar GlycA tertinggi memiliki kemungkinan 43% lebih besar mengalami serangan jantung, stroke, atau kematian akibat penyakit kardiovaskular dibandingkan mereka dengan kadar terendah. Angka ini jauh melampaui estimasi risiko dari faktor tradisional seperti kolesterol LDL semata. Selain itu, kadar GlycA yang tinggi juga dikaitkan dengan volume ventrikel kiri yang lebih kecil, penebalan dinding jantung, dan gangguan fungsi diastolik—semuanya merupakan penanda awal gagal jantung.
Yang membedakan studi ini dari riset sebelumnya adalah pendekatan komprehensifnya: tidak hanya melihat biomarker, tetapi juga mengaitkannya dengan faktor lingkungan dan genetik. Merokok, depresi, lemak visceral (perut), dan distribusi lemak android (perut, dada, tubuh bagian atas) secara konsisten meningkatkan kadar GlycA. Sebaliknya, aktivitas fisik rutin, pola makan sehat, dan status sosial ekonomi yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar inflamasi yang lebih rendah.
"Dalam praktik klinis, saya memandang GlycA sebagai satu kepingan puzzle, bersama ApoB atau kolesterol LDL, tekanan darah, gula darah, obesitas visceral, status merokok, dan riwayat kardiovaskular. Ini adalah penanda risiko, bukan diagnosis atau target pengobatan tersendiri," ujar Michelle Routhenstein, ahli diet kardiologi preventif dari EntirelyNourished, yang tidak terlibat dalam studi.
Dr. Cheng-Han Chen, ahli kardiologi intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, menambahkan bahwa temuan ini sejalan dengan pemahaman luas bahwa inflamasi persisten berkontribusi pada proses penyakit kardiovaskular. "Orang dengan kadar GlycA tertinggi memiliki risiko 43% lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor. Itu perbedaan yang berarti dan menambah bukti bahwa GlycA dapat memberikan informasi berguna tentang risiko kardiovaskular," ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa studi ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, sehingga riset lanjutan masih diperlukan untuk memastikan peran GlycA sebagai biomarker prognostik.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi penyakit jantung yang terus meningkat dan gaya hidup sedentari yang kian umum di perkotaan. Data Riskesdas 2018 menunjukkan penyakit jantung menjadi salah satu penyebab kematian utama, dengan faktor risiko seperti merokok, obesitas sentral, dan kurang aktivitas fisik yang tinggi. Studi ini menegaskan bahwa intervensi gaya hidup—bukan sekadar obat penurun kolesterol—harus menjadi pilar utama pencegahan.
Routhenstein menekankan bahwa risiko kardiovaskular bukanlah pertarungan antara gen dan gaya hidup. "Gen kita mungkin memengaruhi seberapa kuat tubuh merespons lemak perut, merokok, diet, stres, atau kurang gerak, tetapi gen tidak menentukan masa depan kita sendiri," jelasnya. "Faktor yang dapat kita ubah melalui nutrisi berbasis sains—kualitas diet, aktivitas fisik, berhenti merokok, tidur, tekanan darah, gula darah, dan manajemen kolesterol—tetap bermanfaat bagi semua orang, terlepas dari latar belakang genetik."
Dengan temuan ini, pertanyaan ke depan adalah apakah pengukuran GlycA akan diadopsi dalam skrining rutin di Indonesia dan negara lain, serta bagaimana sistem kesehatan dapat mengintegrasikan penanda inflamasi ke dalam strategi pencegahan yang lebih personal. Jika terbukti efektif, langkah ini bisa merevolusi cara kita memprediksi dan mencegah penyakit jantung jauh sebelum gejala muncul.



