Harga Minyak Melonjak Hampir 2%: Iran Kembali Menahan Pembukaan Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Minyak mentah Brent dan WTI menguat signifikan setelah pernyataan Iran yang menegaskan sejumlah syarat belum dipenuhi AS untuk membuka kembali Selat Hormuz.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan Houthi ke kilang Saudi Aramco, kembali menghidupkan premi risiko di pasar energi global.
- Pasar energi dunia masih diliputi ketidakpastian; setiap perkembangan negosiasi atau gangguan pasokan baru berpotensi menggerakkan harga secara tajam.

Harga minyak mentah dunia melonjak hampir dua persen pada perdagangan Senin (10/8) setelah Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi sejumlah tuntutan sebelum Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Brent tercatat naik 1,7 persen ke level 84,95 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke 79,51 dolar AS. Pergerakan ini membalikkan tren pelemahan pekan lalu yang sempat menembus tujuh persen akibat optimisme kesepakatan Iran-Oman.
Sebelum konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Kini, jalur air strategis itu praktis tertutup, dan Iran menyatakan sedang mendekati kesepakatan final dengan Oman untuk mendefinisikan jalur pelayaran baru. Namun, Teheran mengulangi bahwa Washington harus memenuhi syarat lain, termasuk kompensasi, penghentian sanksi, dan penghentian ancaman militer, sebelum selat tersebut dibuka kembali.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Minggu (9/8) menegaskan bahwa negaranya tidak akan memulai pembicaraan dengan AS selama Washington masih melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni lalu. Sikap ini meredupkan harapan pasar akan solusi cepat, meskipun analis SEB Research menilai harga minyak saat ini di kisaran 80โ85 dolar AS per barel masih mencerminkan optimisme bahwa jalan keluar akan ditemukan dalam waktu dekat.
Ancaman pasokan kian nyata setelah kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran mengklaim telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan, sekutu Sunni, sebagai respons atas meningkatnya ketidakstabilan regional akibat perang AS-Israel melawan Iran. Langkah ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin meluas, tidak hanya di jalur laut tetapi juga di daratan Arab.
Di sisi lain, perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab (UAE), ADNOC, mengungkapkan bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai. Angka ini mempertegas risiko nyata yang dihadapi pelaku industri migas di kawasan Teluk. Sugandha Sachdeva, pendiri SS WealthStreet yang berbasis di New Delhi, mengingatkan bahwa setiap kemajuan berarti menuju pemulihan pelayaran bebas dapat menekan harga, sementara kegagalan negosiasi atau gangguan pasokan baru dapat dengan cepat menghidupkan kembali premi risiko geopolitik.
Bagi Indonesia, dinamika harga minyak ini memiliki dampak langsung terhadap anggaran negara dan harga energi domestik. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Pemerintah pun harus cermat mengelola subsidi energi, terutama di tengah tekanan fiskal yang sudah ada. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memicu inflasi, yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Ke depan, pasar akan terus memantau setiap sinyal dari Teheran dan Washington. Pertanyaannya, akankah AS bersedia melonggarkan sanksi demi memulihkan stabilitas pasokan global, atau justru eskalasi konflik akan semakin memperpanjang penutupan Selat Hormuz? Jawabannya tidak hanya menentukan arah harga minyak, tetapi juga stabilitas ekonomi kawasan dan dunia.



