Pasokan Gas Bangladesh Membaik Setelah Terminal LNG AS Pulih Sebagian: Dampaknya bagi Pasar Energi Regional
Baca dalam 60 detik
- Unit regasifikasi di terminal LNG Moheshkhali mulai beroperasi lagi, menambah 115 juta kaki kubik gas per hari ke jaringan nasional Bangladesh.
- Pemulihan parsial ini meredakan krisis pasokan yang memukul sektor listrik, industri, dan rumah tangga, namun kapasitas penuh masih menunggu perbaikan menyeluruh.
- Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi Bangladesh, sekaligus menjadi pelajaran bagi negara-negara importir LNG lain, termasuk Indonesia.

Pasokan gas bumi ke jaringan nasional Bangladesh berangsur pulih setelah salah satu unit regasifikasi di terminal LNG terapung milik perusahaan asal Amerika Serikat, Excelerate Energy, kembali beroperasi secara parsial. Sebelumnya, fasilitas tersebut terhenti lebih dari dua pekan akibat kebakaran yang merusak sistem kelistrikan boiler pada 21 Juli lalu.
Kebakaran itu memangkas pasokan gas harian hingga 450 juta kaki kubik, memicu gangguan pada pembangkit listrik, produksi industri, dan kebutuhan rumah tangga. Kini, dengan kembalinya satu unit regasifikasi, tambahan sekitar 115 juta kaki kubik gas per hari mulai mengalir ke jaringan, menurut keterangan pejabat Petrobangla, perusahaan energi milik negara Bangladesh.
Meski demikian, pemulihan ini baru tahap awal. Kapasitas penuh terminal yang biasanya mencapai 500โ550 juta kaki kubik per hari masih jauh dari pulih. Tim teknisi Excelerate Energy terus melakukan perbaikan dan memasang peralatan pengganti yang diimpor dari luar negeri. Petrobangla memperkirakan tekanan gas akan membaik secara bertahap seiring selesainya seluruh proses perbaikan.
Krisis ini terjadi di tengah pasar LNG global yang sudah ketat. Sebelumnya, Qatar memberlakukan force majeure pada sebagian kargo akibat konflik Iran, memaksa Dhaka mencari pasokan alternatif dengan harga lebih tinggi dan risiko pengiriman di Selat Hormuz yang meningkat. Situasi ini menegaskan betapa rapuhnya ketahanan energi Bangladesh yang sangat bergantung pada impor LNG untuk menutup penurunan produksi gas domestik.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat penting. Sebagai negara yang juga mengimpor LNG, Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam menjaga keandalan pasokan energi di tengah fluktuasi pasar global dan risiko geopolitik. Ketergantungan pada infrastruktur impor yang rentan gangguan, seperti FSRU, menuntut strategi diversifikasi sumber dan penguatan cadangan strategis.
Menurut analis energi, pemulihan parsial ini memberikan napas lega jangka pendek, tetapi Bangladesh masih menghadapi defisit pasokan yang kronis. Negara itu mengonsumsi sekitar 3.800โ4.000 juta kaki kubik gas per hari, sementara pasokan dari jaringan nasional rata-rata hanya 2.600 juta kaki kubik. Kesenjangan ini menuntut solusi jangka panjang, termasuk pengembangan lapangan domestik dan kontrak impor yang lebih fleksibel.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat Excelerate Energy dapat memulihkan kapasitas penuh terminal dan apakah Bangladesh akan mempercepat diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada LNG impor yang rapuh. Bagi Indonesia, pengalaman Bangladesh ini bisa menjadi bahan evaluasi dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu.



