Harga Asia Melambung, Ekspor LNG AS ke Eropa Anjlok untuk Pertama Kali dalam Dua Tahun
Baca dalam 60 detik
- Data pelacakan kapal menunjukkan kurang dari separuh ekspor LNG AS pada Juni 2025 dikirim ke Eropa, pertama sejak Juli 2024.
- Premium harga spot Asia yang mencapai 4 dolar AS per mmBtu dibandingkan Eropa mendorong pengalihan kargo ke kawasan timur.
- Mesir mencatat rekor impor LNG AS sebesar 1,06 juta ton, sementara pembeli Eropa menahan pembelian karena ekspektasi pasokan global meningkat.

Untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, pangsa ekspor gas alam cair (LNG) Amerika Serikat ke Eropa pada Juni 2025 turun di bawah 50 persen. Pergeseran ini dipicu oleh melonjaknya harga di Asia dan rekor impor dari Mesir, menurut data awal pelacakan kapal dari LSEG.
Sepanjang Juni, hanya 4,41 juta metrik ton (MT) LNG AS—atau kurang dari 42 persen dari total ekspor 10,6 juta MT—yang berlabuh di pelabuhan Eropa. Angka ini turun signifikan dibandingkan Mei yang mencapai 5,13 juta MT atau lebih dari 50 persen. Ini merupakan kali pertama sejak Juli 2024 benua biru tidak menjadi tujuan utama LNG Amerika.
Analis menilai lonjakan harga spot Asia menjadi pemicu utama. Indeks acuan Asia JKM tercatat rata-rata 17,33 dolar AS per juta British thermal unit (mmBtu) pada Juni, sementara patokan Eropa TTF hanya 13,19 dolar AS per mmBtu. Selisih harga yang mencapai lebih dari 4 dolar AS ini menciptakan peluang arbitrase yang menggiurkan bagi eksportir AS.
Faktor lain yang mendorong perubahan rute adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membatasi pasokan dari kawasan tersebut, serta permintaan Eropa yang lebih lemah. Pembeli Eropa, yang masih perlu mengisi kembali penyimpanan menjelang musim dingin, justru menahan pembelian karena mengharapkan harga lebih rendah di masa depan. "Backwardation pada kurva forward membuat pedagang bertahan dan sangat sedikit membeli gas," ujar Hans van Cleef, kepala riset energi di Eqolibrium. "Ketakutan membayar terlalu mahal masih mendominasi."
Di luar Asia, Mesir muncul sebagai pembeli utama dengan mencatat rekor impor 1,06 juta MT LNG AS pada Juni—hampir 10 persen dari total ekspor AS. Sementara itu, pengiriman ke Amerika Latin juga meningkat menjadi 0,96 juta MT, menggantikan pasokan dari Trinidad dan Tobago yang terganggu perawatan fasilitas Atlantic LNG milik Shell dan BP. Sekitar 0,73 juta MT LNG AS dikapalkan tanpa tujuan tetap, menunggu pembeli di tengah laut.
Konteks Indonesia: Pergeseran aliran LNG global ini berpotensi mempengaruhi pasar energi Indonesia. Sebagai importir LNG berskala kecil namun strategis, Indonesia bisa menghadapi persaingan harga yang lebih ketat jika permintaan Asia terus mendorong harga spot naik. Di sisi lain, jika pasokan global meningkat seperti perkiraan analis, harga bisa melunak pada akhir tahun. Pemerintah dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) perlu mencermati dinamika ini untuk mengoptimalkan kontrak jangka panjang dan mengamankan pasokan domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Eropa akan kembali agresif membeli LNG saat musim dingin mendekat, atau justru tren diversifikasi tujuan ekspor AS akan berlanjut. Dengan ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga, para pelaku pasar energi global—termasuk Indonesia—harus siap menghadapi peta pasokan yang semakin cair.



