Empat Jam Prabowo Serap Masukan Pakar: Strategi Baru Kendalikan Karhutla dan Gambut
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat tertutup selama empat jam bersama akademisi dan BRIN untuk membahas pengelolaan gambut serta penanggulangan karhutla.
- Diskusi menyoroti tiga fokus: penanganan darurat, konservasi ekosistem gambut, dan pemilihan varietas tanaman yang adaptif.
- Pemerintah berencana memperkuat Satgas Darat dan menerapkan teknik pengeboran dangkal untuk pemadaman api di lahan gambut.

Presiden RI Prabowo Subianto menghabiskan waktu empat jam, Kamis (24/9/2026), untuk mendengarkan pandangan para pakar mengenai pengelolaan ekosistem gambut dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, itu dihadiri sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi serta perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, diskusi menyentuh tiga area krusial. Pertama, langkah optimal ketika api sudah membakar lahan. Kedua, cara memanfaatkan sekaligus melindungi ekosistem gambut. Ketiga, pemilihan jenis tanaman dan varietas yang cocok dibudidayakan di kawasan gambut.
“Kami banyak menerima masukan dari para pakar, baik dari universitas maupun BRIN,” ujar Faisal usai pertemuan. Ia menambahkan bahwa pemerintah ingin memastikan penanganan karhutla tidak lagi bersifat reaktif, melainkan berbasis kajian ilmiah yang mumpuni.
Dalam aspek penanganan darurat, para pakar merekomendasikan penguatan Satuan Tugas (Satgas) Darat yang diterjunkan langsung ke titik api. Salah satu teknik yang dibahas adalah pengeboran dangkal untuk mendapatkan sumber air, lalu memompa air tersebut dengan pompa portabel guna memadamkan api dalam radius sekitar 200 meter dari titik bor. Pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk medan gambut yang sulit dijangkau alat berat.
Faisal juga menekankan pentingnya peran masyarakat sekitar. Kelompok masyarakat peduli api akan diperkuat untuk membantu pemadaman sekaligus mencegah munculnya titik api baru di lingkungan mereka. “Kekuatan komunitas menjadi kunci,” imbuhnya.
Dari sisi pencegahan, para ahli menyoroti pentingnya menjaga kelembapan gambut. Permukaan lahan harus tetap tertutup vegetasi agar tidak mengalami penguapan berlebihan yang membuat gambut kering dan mudah terbakar. “Kami berupaya menjaga permukaan air gambut tidak turun lebih dari 40 sentimeter dari permukaan tanah,” jelas Faisal. Jika gambut lebih jenuh, risiko kebakaran dapat ditekan.
Selain itu, operasi modifikasi cuaca tetap menjadi instrumen andalan ketika kondisi awan memungkinkan. Pemerintah juga akan menjaga reservoir air di bawah lahan gambut untuk mempertahankan kelembapan alami.
“Yang pertama, kalau sudah terbakar apa yang harus dilakukan. Kedua, bagaimana memanfaatkan dan menjaga ekosistem gambut. Ketiga, tanaman dan varietas apa yang cocok untuk daerah gambut,” ujar Faisal merangkum isi diskusi.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar respons musiman. Karhutla telah lama menjadi momok yang merugikan ekonomi, kesehatan, dan hubungan diplomatik. Dengan melibatkan pakar dan BRIN, pemerintah berupaya membangun strategi jangka panjang yang lebih terukur. Investor dan pelaku usaha di sektor perkebunan, kehutanan, serta energi perlu mencermati arah kebijakan ini karena akan memengaruhi tata kelola lahan, kepatuhan lingkungan, dan biaya operasional.
Ke depan, efektivitas rencana ini bergantung pada implementasi di lapangan. Apakah Satgas Darat dan teknik pengeboran dangkal cukup untuk menekan eskalasi karhutla? Dan sejauh mana kolaborasi lintas sektor—dari BMKG, BRIN, hingga masyarakat adat—dapat diwujudkan? Publik menanti bukti, bukan sekadar diskusi empat jam.



