Meta Rilis Kacamata Audio Tanpa Kamera, Tapi Isu Privasi Masih Menggantung
Baca dalam 60 detik
- Meta memperkenalkan Ray-Ban Meta Audio tanpa kamera, lebih ringan, dan fitur bantuan dengar bersertifikat FDA.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya Meta membersihkan citra kacamata pintar yang kerap disalahgunakan untuk merekam orang tanpa izin.
- Meski menawarkan opsi bebas kamera, Meta tetap merilis model kamera generasi baru, sehingga persoalan privasi belum terselesaikan.

Meta resmi meluncurkan kacamata pintar terbaru dalam ajang Meta Connect, Rabu (18/9). Kali ini, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu memperkenalkan Ray-Ban Meta Audio, kacamata tanpa kamera yang lebih ringan dan dirancang untuk menemani aktivitas sehari-hari. Langkah ini dianggap sebagai jawaban atas kritik panjang soal penyalahgunaan kacamata kamera untuk merekam orang tanpa persetujuan.
Produk anyar tersebut memiliki bobot hanya 43 gram, daya tahan baterai hingga 12 jam, dan memungkinkan pengguna mendengarkan musik tanpa headphone serta berinteraksi dengan agen AI terbaru Meta, Muse. Tersedia dalam 23 kombinasi warna dan lensa, termasuk dua gaya baru: Clubmaster dan Burbank. Kacamata ini dapat dipesan lebih awal dengan harga 349 dolar AS dan mulai dikirim pada 13 Oktober mendatang.
Selain itu, Meta memperkenalkan fitur peningkatan pendengaran berbayar yang mengubah kacamata menjadi alat bantu dengar bersertifikat FDA untuk gangguan pendengaran ringan hingga sedang. Zuckerberg menyebut fitur ini berpotensi mengubah hidup banyak orang. Dalam video peluncuran, desainer fesyen Lindsay Jones menceritakan pengalamannya menggunakan kacamata tersebut untuk membantu pendengarannya yang menurun di telinga kiri, terutama di lingkungan bising.
Meski menghadirkan opsi tanpa kamera, Meta tidak serta-merta meninggalkan perangkat berkamera. Di acara yang sama, perusahaan meluncurkan Ray-Ban Meta generasi ketiga seharga 499 dolar AS dengan baterai dan mikrofon yang lebih baik, serta 27 kombinasi warna dan lensa. Kacamata ini akan mampu merekam video dengan audio spasial Dolby Atmos. Meta juga memperbarui lini Meta Glasses yang lebih murah, mulai 249 dolar AS, dengan varian edisi Kylie Jenner dan dua bingkai kolaborasi dengan penyanyi Blackpink, Lisa, masing-masing 399 dolar AS. Kacamata Ray-Ban Display juga akan dijual online di AS mulai 799 dolar AS.
Peluncuran ini memperlihatkan upaya Meta memperluas pasar kacamata pintar dengan menawarkan beragam pilihan gaya dan fungsi. Namun, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut belum menyentuh akar masalah: penyalahgunaan kacamata berkamera untuk merekam orang tanpa izin, yang sering menimpa perempuan dan anak-anak. Beberapa yurisdiksi di AS, termasuk New York, telah melarang penggunaan kacamata pintar di gedung pengadilan. Meta sendiri sempat merilis perbaikan pada Agustus untuk menutup celah perekaman dengan lampu indikator tertutup, dan pada Juli, kepala Instagram Adam Mosseri menyatakan akan memblokir pengguna yang mengunggah video pelecehan, meski laporan menyebut konten semacam itu masih beredar.
"Saat kami menguji ini, menjadi jelas bahwa ini berpotensi mengubah hidup banyak orang," ujar Zuckerberg dalam peluncuran fitur bantuan dengar.
Bagi Indonesia, kehadiran kacamata pintar tanpa kamera ini bisa menjadi angin segar di tengah kekhawatiran global terhadap pelanggaran privasi. Namun, tantangan regulasi tetap membayangi. Hingga kini, Indonesia belum memiliki aturan spesifik yang mengatur penggunaan kacamata pintar, terutama yang dilengkapi kamera. Jika perangkat ini masuk pasar domestik, pemerintah perlu mempertimbangkan perlindungan data pribadi yang lebih ketat, sejalan dengan UU Perlindungan Data Pribadi yang baru berlaku. Di sisi lain, fitur bantuan dengar bersertifikat FDA dapat menjadi solusi bagi penyandang gangguan pendengaran di Indonesia, di mana akses terhadap alat bantu dengar masih terbatas dan mahal.
Meta masih menjadi pemimpin pasar kacamata pintar dengan pangsa yang jauh melampaui pesaing. Namun, kompetisi akan memanas dengan kehadiran Snap Specs AR (2.200 dolar AS) serta rencana Google, Apple, dan Samsung yang diperkirakan segera menyusul. Pertanyaannya, apakah strategi Meta mengedepankan gaya dan fungsi tanpa kamera cukup untuk meredam kekhawatiran privasi, atau justru menjadi pengalih perhatian dari masalah yang lebih mendasar? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Meta kali ini setidaknya menunjukkan bahwa mereka mulai mendengar kritik.



