Paramount Cari Utang Tambahan Rp122 Triliun, Akuisisi Warner Bros Discovery Tertunda di Pengadilan
Baca dalam 60 detik
- Paramount Skydance menggalang pinjaman senior secured senilai $7,5 miliar untuk membiayai akuisisi Warner Bros Discovery dan melunasi utang lama.
- Langkah pendanaan ini muncul setelah hakim federal menunda persetujuan konsesi dan mengizinkan pihak penentang ikut campur dalam proses hukum.
- Jika rampung, merger ini akan menyatukan studio legendaris Hollywood dan menciptakan raksasa hiburan dengan valuasi perusahaan $110 miliar.

Paramount Skydance kembali menggalang dana besar-besaran. Perusahaan hiburan yang dipimpin David Ellison itu mengumumkan pencarian pinjaman tambahan senilai $7,5 miliar (sekitar Rp122 triliun) untuk membiayai akuisisi Warner Bros Discovery, di tengah proses hukum yang kembali menemui hambatan. Langkah ini menegaskan skala transaksi yang luar biasa besar dan taruhan finansial yang dihadapi Paramount.
Dalam pernyataan resminya, Paramount menyebut dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembelian Warner Bros Discovery serta melunasi sebagian utang yang ada. Perusahaan juga berencana menghimpun sekitar $44,4 miliar dalam bentuk pinjaman berbasis jaminan tambahan, bergantung pada kondisi pasar. Secara total, kebutuhan pendanaan untuk mengakuisisi Warner Bros Discovery mencapai puluhan miliar dolar, menjadikannya salah satu transaksi terbesar di industri media global.
Kesepakatan akuisisi ini pertama kali diumumkan pada Februari lalu, dengan nilai perusahaan Warner Bros Discovery mencapai $110 miliar. Paramount setuju membayar $31 per saham secara tunai. Jika terwujud, entitas gabungan akan menaungi portofolio hiburan yang sangat luas: Paramount Pictures, CBS, Paramount+, Warner Bros, HBO, HBO Max, hingga CNN. Perpustakaan kontennya mencakup waralaba raksasa seperti Harry Potter, Game of Thrones, DC Universe, Mission: Impossible, Top Gun, dan SpongeBob SquarePants.
Namun, jalan menuju merger mulus masih terjal. Sebanyak 12 jaksa agung negara bagian sempat menggugat untuk memblokir transaksi, sebelum akhirnya mencapai kesepakatan konsesi dengan Paramount pekan ini. Kesepakatan itu masih memerlukan persetujuan pengadilan. Di bawah rancangan konsesi, Paramount harus menaikkan belanja produksi film domestik setidaknya $1,5 miliar selama lima tahun, membentuk dana $47,5 juta bagi pekerja terdampak, serta menjaga independensi editorial CBS News dan CNN.
Kendati demikian, pada Kamis (24/09/26), Hakim Distrik AS Araceli Martรญnez-Olguรญn mengizinkan kelompok penentang untuk ikut campur dalam proses persetujuan konsesi dan menunda sidang yang diharapkan mempercepat kesepakatan. Koalisi Block the Merger mengajukan permohonan darurat agar pihak berkepentingan dapat menantang apa yang mereka sebut sebagai "konsesi lemah dan tidak dapat ditegakkan". Penundaan ini menjadi pukulan bagi Paramount yang telah mengantongi izin regulasi di puluhan yurisdiksi, termasuk Inggris, Uni Eropa, Australia, Kanada, Brasil, Tiongkok, Meksiko, dan dari Departemen Kehakiman AS.
"Kami akan menggunakan hasil bersih pinjaman ini, bersama kas yang ada dan hasil pembiayaan ekuitas yang telah diumumkan sebelumnya, untuk membiayai harga pembelian Warner Bros Discovery dan melunasi sebagian utang," demikian pernyataan resmi Paramount.
Transaksi ini mendapat dukungan pembiayaan yang solid. Bank of America, Citigroup, dan Apollo berkomitmen pada pembiayaan utang, sementara pembiayaan ekuitas didukung keluarga Ellison dan RedBird Capital Partners. Larry Ellison, pendiri Oracle sekaligus ayah David, bahkan memberikan jaminan pribadi. David Ellison sendiri dikenal sebagai salah satu eksekutif paling berpengaruh di Hollywood setelah sukses dengan Skydance Media dan merger dengan Paramount pada 2025.
Bagi Indonesia, gelombang konsolidasi raksasa media global ini bisa berdampak pada industri kreatif dan pasar hiburan tanah air. Jika Paramount dan Warner Bros Discovery resmi bergabung, kekuatan negosiasi mereka terhadap platform distribusi digital, termasuk layanan streaming yang beroperasi di Indonesia, akan meningkat. Hal ini berpotensi memengaruhi harga lisensi konten, akses waralaba global, serta peluang kerja sama produksi lokal. Di sisi lain, konsentrasi kekuatan media di tangan segelintir pemain besar dapat mempersempit ruang bagi kreator independen dan studio lokal yang selama ini menjadi mitra produksi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah pengadilan AS meloloskan konsesi yang ada, atau justru memperkuat tuntutan penentang? Jika merger tetap berjalan, lanskap hiburan global akan berubah drastis, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi gelombang baru dominasi korporasi media lintas negara.



