Kebakaran Hutan Gunung Soputan Meluas, Capai 300 Hektare: Upaya Pemadaman Terkendala Angin Kencang
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan lindung Gunung Soputan di Sulawesi Utara meluas hingga 300 hektare, dipicu angin kencang yang memicu munculnya titik api baru.
- Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus berjibaku memadamkan api, namun medan sulit dan cuaca ekstrem menghambat laju penanganan.
- Luas area terbakar diperkirakan terus bertambah, mengancam ekosistem hutan lindung dan berpotensi memicu bencana asap di wilayah sekitarnya.

Kebakaran hutan lindung Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, kian meluas hingga mencapai 300 hektare. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memperkirakan angka tersebut masih bisa bertambah karena angin kencang terus menyulut titik-titik api baru di kawasan yang sulit dijangkau.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Minahasa Tenggara, Julex Wanga, mengungkapkan bahwa sejak kebakaran pertama kali terdeteksi pada Minggu (2/8) pagi, api telah menghanguskan area seluas tiga kali lipat dari perkiraan awal. Pada hari kedua, petugas masih mendata luasan yang terbakar antara 50 hingga 100 hektare, namun eskalasi cepat terjadi akibat hembusan angin yang membuat api berpindah-pindah.
“Angin bertiup sangat kencang, badan terasa mau roboh, dan areal semakin susah dijangkau,” ujar Julex saat dihubungi di Manado, Selasa. Kondisi ini mempersulit upaya pemadaman yang dilakukan personel gabungan dari pemerintah daerah, TNI, Polri, pecinta alam, hingga masyarakat setempat. Mereka bahkan harus bekerja hingga tengah malam pada hari kedua untuk menekan laju api.
Fenomena titik api yang muncul bergantian—padam di satu lokasi, lalu menyala di lokasi lain—menjadi tantangan tersendiri. Hingga Senin malam, setidaknya empat hingga lima titik api besar masih aktif. Petugas menduga material vulkanik kering dari Gunung Soputan, yang merupakan gunung berapi aktif, menjadi bahan bakar yang mempercepat perambatan api.
Kebakaran hutan lindung ini bukan sekadar bencana lokal. Gunung Soputan berada di kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis penting bagi Sulawesi Utara. Hilangnya tutupan hutan dapat memicu erosi, mengganggu habitat satwa endemik, dan meningkatkan risiko banjir di daerah hilir. Lebih jauh, asap tebal yang dihasilkan berpotensi mengganggu kesehatan warga di beberapa kabupaten/kota di sekitar Minahasa Tenggara, termasuk Manado.
Menanggapi situasi ini, BPBD bersama instansi terkait terus berkoordinasi untuk memperkuat strategi pemadaman. Namun, akses ke lokasi yang berada di lereng gunung menjadi kendala utama. Helikopter water bombing belum dapat dikerahkan secara optimal karena kondisi angin yang tidak bersahabat. Sementara itu, petugas di lapangan harus berjalan kaki bermil-mil membawa peralatan seadanya.
Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa kebakaran hutan di Indonesia, terutama di kawasan lindung, sering kali dipicu oleh faktor manusia, baik disengaja maupun tidak. Meski penyebab pasti kebakaran Gunung Soputan belum diumumkan, pola kemunculan titik api yang sporadis mengindikasikan perlunya investigasi lebih lanjut. Jika terbukti ada unsur kesengajaan, pelaku dapat dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang ancaman hukumannya cukup berat.
Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering akibat fenomena El Nino. Pemerintah daerah diimbau untuk meningkatkan patroli dan sosialisasi pencegahan kebakaran, terutama di area rawan seperti lereng gunung dan lahan gambut.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berupaya menjinakkan api. Pertanyaannya, mampukah mereka mengendalikan kebakaran sebelum luas lahan terbakar semakin membengkak dan menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas? Jawabannya sangat bergantung pada kondisi angin dan dukungan logistik yang tersedia dalam beberapa hari ke depan.



