Brad Pitt Menangis Usai Baca Skenario Heart of the Beast, Ungkap Alasan di Baliknya
Baca dalam 60 detik
- Brad Pitt mengaku terharu hingga menangis diam-diam setelah membaca naskah film survival Heart of the Beast.
- Aktor 62 tahun itu memerankan James Belmont, seorang perwira Special Forces yang bertahan hidup bersama anjing tempur pensiunnya, Odin, usai kecelakaan pesawat di Alaska.
- Pitt menilai cerita yang menyentuh dan bermakna semakin ia prioritaskan di fase kariernya sekarang, dan ia berperan sebagai produser dalam film arahan David Ayer tersebut.

Aktor Hollywood Brad Pitt mengungkapkan pengalaman emosional saat pertama kali membaca naskah film terbarunya, Heart of the Beast. Pria berusia 62 tahun itu mengaku sampai menangis diam-diam karena tersentuh oleh kekuatan cerita yang disodorkan kepadanya.
Dalam wawancara dengan Extra, Pitt menuturkan bahwa ia sempat menepi sejenak setelah menuntaskan bacaan naskah. "Saya letakkan naskah itu, lalu saya menyelinap ke belakang dan menangis pelan-pelan. Ceritanya benar-benar menyentuh saya," ujarnya. Menurut Pitt, jika sebuah naskah mampu memicu reaksi sekuat itu, maka upaya mewujudkannya ke layar lebar layak diperjuangkan.
Film ini mengisahkan James Belmont, seorang perwira pasukan khusus, yang harus bertahan hidup bersama Odin—anjing tempur pensiunnya—setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Alaska. Alur cerita berpusat pada perjuangan mereka menghadapi alam liar dan ikatan emosional yang terbangun di antara keduanya.
Bagi Pitt, kehadiran anjing dalam hidup manusia memberi perspektif tersendiri. "Hidup ini lebih baik dengan anjing. Tidak peduli seberapa berat hari Anda, begitu masuk rumah, ada ekor yang bergoyang dan sambutan penuh sukacita. Anda lalu berpikir, apa sih yang saya keluhkan?" tuturnya.
Ia pun membandingkan Uber dengan rekan-rekan aktingnya yang lain. "Uber sejajar dengan Morgan Freeman dan Anthony Hopkins. Setelah itu, barulah yang lain," candanya, sembari menyebut nama George Clooney dan Matt Damon sebagai "karakter-karakter" yang berada di belakang.
"Pada titik hidup saya sekarang, saya tidak terlalu peduli pada hal-hal lain selain menemukan kebenaran dan cerita yang berarti bagi saya, serta yang saya yakini bisa saya angkat. Kalau tidak, saya lebih baik duduk di sofa."
— Brad Pitt
Pitt mengakui bahwa seiring perjalanan kariernya, ia semakin tertarik pada proyek-proyek yang menyentuh hati dan bermakna. Heart of the Beast menjadi salah satu wujud dari preferensi barunya itu. Ia juga menyoroti pentingnya koneksi antarmanusia. "Untuk apa kita ada di sini kalau bukan untuk terhubung, saling menjaga, dan membuat satu sama lain lebih baik? Perjuangan manusia itu nyata, dan kita tidak bisa melakukannya sendiri," tegasnya.
Bagi industri film global, pernyataan Pitt ini menandai pergeseran minat aktor senior ke arah cerita yang lebih intim dan reflektif. Film bertema survival dengan elemen hubungan manusia-hewan memang kerap menyita perhatian penonton, terutama jika didukung nama besar seperti Pitt. Namun, tantangan tetap ada: apakah Heart of the Beast mampu menembus pasar internasional yang sedang lesu, termasuk Indonesia?
Di Indonesia, film-film Hollywood dengan tema petualangan dan emosi personal biasanya mendapat sambutan hangat di platform streaming dan bioskop jaringan besar. Kehadiran Pitt sebagai produser sekaligus aktor utama bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton Tanah Air. Meski demikian, jadwal rilis dan strategi distribusi akan sangat menentukan seberapa jauh film ini menjangkau audiens lokal.
Yang jelas, Pitt tampaknya tidak lagi mengejar popularitas semata. Ia memilih cerita yang menurutnya punya bobot dan resonansi. Apakah pilihan ini akan berbuah manis di box office, atau justru menegaskan bahwa ia kini lebih nyaman berada di balik layar? Waktu yang akan menjawab, tetapi arah kariernya sudah semakin jelas.



