Dari Dapur Kontrakan ke Rak Selfridges: Kisah Rempah Singapura yang Menaklukkan Inggris
Baca dalam 60 detik
- Shu Han Lee, yang berangkat ke London tanpa bisa memasak, kini mendirikan Rempapa Spice Co yang produknya tembus ritel premium Inggris.
- Perjalanan bisnisnya dimulai dari dapur rumah dan pasar petani, lalu berkembang berkat dukungan Whole Foods dan Selfridges.
- Lee berambisi menjadikan rempah sepopuler pesto di Inggris, sebuah misi yang juga membuka peluang bagi kuliner Nusantara di pasar global.

Seorang perempuan Singapura yang 17 tahun lalu berangkat ke London tanpa bisa memasak kini menjadi salah satu duta kuliner Asia Tenggara paling dikenal di Inggris. Shu Han Lee, pendiri Rempapa Spice Co, berhasil membawa rempah dan sambal buatannya ke rak-rak Whole Foods dan Selfridges, sebuah pencapaian yang berawal dari rasa rindu akan masakan rumah.
Kisah Lee dimulai pada 2008 ketika ia meninggalkan Singapura untuk belajar desain grafis di Central Saint Martins. Ibunya memaksanya membawa rice cooker dan sebungkus beras dalam koper 25 kilogram—sebuah bekal yang ironisnya justru menjadi fondasi kariernya di kemudian hari. Padahal, saat itu Lee sama sekali tidak tertarik pada dunia kuliner; ia bahkan membakar nasi pertamanya di asrama.
Namun, rasa rindu akan cita rasa Singapura mendorongnya untuk belajar memasak secara otodidak. Setiap akhir pekan, ia menjelajahi London untuk mencari serai dan bahan-bahan Asia lainnya, lalu menghabiskan malam untuk bereksperimen di dapur. Dari situ, ia mulai membuat rempah sendiri, sebuah langkah yang ia anggap sebagai 'ritus kedewasaan' sebagai juru masak Singapura.
Perjalanan Lee tidak berhenti di dapur pribadi. Ia mulai mengunggah foto masakannya di Facebook dengan album bertajuk 'Mummy, What I Cook' untuk meyakinkan keluarganya bahwa ia makan dengan baik. Album itu berkembang menjadi blog yang menghubungkannya dengan komunitas makanan Singapura di London. Ia juga bergabung dengan supper club pertama di kota itu, tempat orang-orang asing berkumpul untuk menikmati hidangan rumahan—pengalaman yang membentuk jejaring sosial dan profesionalnya.
Setelah bertahun-tahun bekerja di agensi branding di siang hari dan memasak rempah di malam hari, Lee akhirnya memilih fokus penuh pada Rempapa. Keputusan itu diambil setelah Whole Foods menawarkan kerja sama, sementara agensinya memberi sinyal promosi menjadi direktur. "Saat itu saya tidak punya cicilan rumah atau anak. Kapan lagi saya mencoba?" ujarnya, menggambarkan momen penting dalam hidupnya.
Namun, membawa rempah ke pasar Inggris bukan tanpa tantangan. Lee harus berjuang menjelaskan apa itu rempah kepada konsumen yang tidak familiar. Ia bahkan mengubah label dari 'spice paste' menjadi 'curry paste' agar lebih mudah dipahami, meski tidak sepenuhnya akurat. Setiap penjualan menjadi ajang edukasi budaya, dan ia kerap mengadakan demonstrasi memasak untuk memperkenalkan rempah.
Konteks Indonesia: Kisah Lee relevan bagi pelaku industri kuliner Nusantara yang ingin menembus pasar global. Rempah, yang juga menjadi akar budaya memasak Indonesia, memiliki potensi besar untuk diperkenalkan ke dunia. Namun, tantangan utamanya adalah edukasi pasar—konsumen internasional perlu diperkenalkan pada rasa dan cara penggunaan rempah, seperti yang dilakukan Lee dengan sabar.
Lee sendiri terinspirasi oleh kisah pesto yang dulu asing di Inggris, kini menjadi bumbu umum di dapur rumah tangga. "Saya bermimpi suatu hari rempah akan menjadi seumum pesto," katanya. Mimpi itu mungkin tidak mustahil, mengingat meningkatnya minat global pada kuliner Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah rempah akan diterima di Inggris, tetapi bagaimana produk-produk serupa dari Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya dapat memanfaatkan momentum ini. Apakah akan ada 'Lee' lain yang membawa rempah Indonesia ke panggung dunia?



