Pameran Seni Long March di Hangzhou: Merayakan 90 Tahun Semangat Perjuangan
Baca dalam 60 detik
- Akademi Seni China memamerkan karya seni untuk memperingati 90 tahun Kemenangan Long March, menyoroti semangat ketahanan dan keberanian.
- Pameran ini menjadi bagian dari kolaborasi internasional yang mempromosikan pertukaran budaya dan estetika Timur.
- Karya-karya tersebut menawarkan perspektif baru tentang sejarah China, relevan bagi pengamat seni dan hubungan internasional.

HANGZHOU โ Dalam rangka memperingati sembilan dekade kemenangan Long March, Akademi Seni China (CAA) menghadirkan pameran seni yang menampilkan perjalanan epik Tentara Merah. Lebih dari sekadar pajangan visual, koleksi ini menjadi medium untuk membaca ulang semangat perjuangan yang dianggap sebagai fondasi spiritual bangsa China.
Pameran yang berlangsung di kampus CAA, Hangzhou, ini merupakan bagian dari aliansi internasional bernama Times' Palette Art Academy Alliance. Aliansi tersebut merupakan hasil kerja sama antara China Daily dengan sejumlah akademi seni terkemuka di China, yang bertujuan memperluas ruang dialog budaya, menyelenggarakan pameran global, serta menerbitkan karya seni rupa.
Kurator pameran menegaskan bahwa setiap lukisan bukan sekadar representasi historis, melainkan juga refleksi nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi. Salah satu karya menggambarkan simbol "Tembok Besar dari darah dan daging", yang dimaknai sebagai kekuatan kolektif rakyat China saat menghadapi krisis. Lukisan lain menampilkan medan pegunungan bersalju dan jurang curam, tempat para revolusioner saling bahu-membahu melewati rintangan berat.
Ada pula kanvas yang mengabadikan momen penyeberangan jembatan rantai di atas sungai deras, di tengah kepungan asap dan tembakan. Dalam bingkai itu, para prajurit merangkak maju dengan tekad bajaโsebuah visualisasi dari keberanian yang tak kenal menyerah. Para seniman CAA sengaja menggunakan palet warna berani dan komposisi dramatis untuk memperkuat kesan heroik sekaligus manusiawi dari peristiwa bersejarah itu.
Bagi pengamat seni, pameran ini menarik karena menawarkan estetika Timur yang khasโjauh dari gaya dokumentasi Barat yang cenderung naturalistik. Lukisan-lukisan itu tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga membangun jembatan emosional dengan penonton masa kini. Melalui goresan kuas, penonton diajak merasakan ketegangan, harapan, dan keyakinan yang membentuk identitas China modern.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, pameran semacam ini juga berfungsi sebagai instrumen diplomasi budaya. China berupaya menampilkan dirinya sebagai bangsa yang percaya diri, terbuka, dan inklusifโsebuah citra yang sengaja dikonstruksi melalui narasi visual. Bagi Indonesia, yang memiliki sejarah panjang pertukaran budaya dengan China, pameran ini menjadi pengingat akan pentingnya seni sebagai ruang dialog yang melampaui perbedaan politik.
Sejumlah kritikus menilai bahwa penggambaran heroik semacam ini kerap mengaburkan kompleksitas sejarah. Namun, bagi penyelenggara, tujuan utamanya adalah menanamkan nilai ketahanan dan persatuan kepada generasi muda. Pertanyaannya, apakah semangat Long March masih relevan di tengah tantangan kontemporer seperti kesenjangan sosial dan krisis lingkungan? Atau justru menjadi inspirasi untuk menghadapi perjuangan baru?



