Krisis Kepercayaan FIFA: UEFA dan CONCACAF Desak Evaluasi Total Kepemimpinan Infantino
Baca dalam 60 detik
- FIFA membatalkan rencana investasi swasta senilai US$4,2 miliar setelah mendapat tentangan keras dari UEFA dan konfederasi lainnya.
- UEFA menyatakan kehilangan kepercayaan pada Presiden FIFA Gianni Infantino, menyebut rencana tersebut sebagai 'kesepakatan gelap' yang melanggar janji transparansi.
- Desakan untuk reformasi tata kelola FIFA semakin kuat, dengan FA Inggris dan DFB Jerman menuntut perubahan fundamental dalam budaya organisasi.

Keputusan FIFA menarik kembali rencana investasi swasta untuk turnamen Piala Dunia justru memicu gelombang kritik yang lebih tajam terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. UEFA dan CONCACAF, dua konfederasi berpengaruh, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan pada presiden FIFA tersebut, bahkan menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap masa kepemimpinannya.
Rencana yang diumumkan pada Selasa lalu itu bertujuan membentuk anak usaha komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan valuasi US$20 miliar. Melalui skema ini, FIFA berharap dapat menggalang dana hingga US$4,2 miliar untuk kemudian dibagikan kepada 211 asosiasi anggota, masing-masing menerima US$20 juta pada awal 2027. Selain itu, alokasi dana untuk periode 2027-2030 juga direncanakan naik dari US$8 juta menjadi US$20 juta per asosiasi.
Namun, UEFA menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelanggaran janji transparansi yang pernah diucapkan Infantino saat pertama kali terpilih pada 2016. Dalam pernyataannya, UEFA menyebut rencana itu sebagai "kesepakatan yang buruk, di belakang layar, dan tidak transparan". UEFA juga menyoroti cadangan dana FIFA yang mencapai lebih dari US$5 miliar, yang dinilai tidak digunakan secara optimal untuk kepentingan sepak bola global.
CONCACAF, yang menaungi tuan rumah Piala Dunia 2026 (AS, Kanada, Meksiko), bahkan lebih keras lagi. Mereka menyebut tindakan Infantino sebagai "bentuk tata kelola dan kepemimpinan yang buruk" serta menuntut "pertanggungjawaban menyeluruh terhadap kepresidenan ini". AFC, yang mewakili 47 negara Asia, juga mengingatkan agar FIFA menghormati prosedur yang berlaku dan melibatkan semua pemangku kepentingan dalam setiap keputusan besar.
Kritik tidak hanya datang dari konfederasi. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) mendesak adanya "kajian penuh dan kuat terhadap kepemimpinan dan tata kelola FIFA". Sementara itu, Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menyerukan perubahan budaya fundamental di dalam FIFA, di mana keputusan harus kembali dibahas dan ditetapkan oleh anggota melalui badan pemerintahan yang sah.
Di tengah tekanan yang semakin besar, Infantino mendapat dukungan dari presiden federasi Maroko, Fouzi Lekjaa, yang memuji langkah mundurnya sebagai keputusan "bijaksana" demi menjaga persatuan. Namun, dukungan ini tampaknya tidak cukup meredam gelombang kritik yang mengarah pada tuntutan perubahan sistemik di tubuh FIFA.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. PSSI sebagai anggota FIFA tentu akan merasakan dampak dari perubahan kebijakan dan alokasi dana. Jika reformasi tata kelola benar-benar terjadi, ada harapan bahwa distribusi dana pembangunan sepak bola akan lebih transparan dan merata, termasuk untuk pengembangan sepak bola nasional. Namun, jika krisis kepercayaan ini berlarut, stabilitas organisasi sepak bola dunia bisa terganggu, dan Indonesia perlu mencermati arah kebijakan FIFA ke depan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Infantino mampu memulihkan kepercayaan yang hilang, atau justru akan semakin terisolasi? Dengan pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan tahun depan, tekanan untuk melakukan perombakan besar-besaran akan semakin menguat. Keputusan FIFA untuk menarik rencana investasi swasta mungkin mengakhiri satu kontroversi, tetapi justru membuka babak baru perjuangan kekuasaan di puncak organisasi sepak bola dunia.



