Emmy Rossum dan Sam Esmail: Kartu Remi untuk Membagi Tugas Rumah Tangga
Baca dalam 60 detik
- Aktris Emmy Rossum dan suaminya, sutradara Sam Esmail, menggunakan dek kartu Fair Play untuk membagi tugas domestik secara adil.
- Metode ini menekankan transparansi dan kesetaraan dalam rumah tangga, sekaligus menjadi tren baru di kalangan selebritas.
- Praktik ini menginspirasi pasangan di Indonesia untuk mengeksplorasi cara kreatif dalam mengelola tanggung jawab keluarga.

Emmy Rossum, pemeran utama dalam serial 'Shameless', mengungkapkan bahwa ia dan suaminya, sutradara Sam Esmail, menggunakan setumpuk kartu remi untuk membagi tugas rumah tangga. Metode yang dikenal sebagai 'The Fair Play Deck' ini menjadi sorotan setelah Rossum membaginya dalam wawancara dengan majalah People. Bagi pasangan yang telah menikah sejak 2017 ini, sistem tersebut bukan sekadar permainan, melainkan alat untuk menciptakan keseimbangan dalam mengurus dua anak mereka yang masih balita.
Dalam wawancara tersebut, Rossum menjelaskan bahwa saat ini Sam memegang tanggung jawab untuk bangun di tengah malam. "Anak saya terbangun empat kali semalam, dan dia bangun setiap kali untuk memastikan kebutuhannya terpenuhi," ujarnya. Rossum juga memuji keterlibatan Sam sebagai ayah yang luar biasa, meskipun ia memiliki karier yang padat sebagai penulis, sutradara, dan produser. "Menarik melihat seseorang yang begitu cakap mengelola ratusan orang di lokasi syuting, tetapi juga bisa menjadi manusia yang baik," tambahnya.
Metode Fair Play Deck sendiri dirancang oleh Eve Rodsky, seorang penulis dan aktivis kesetaraan gender. Dek ini berisi kartu-kartu yang mewakili berbagai tugas rumah tangga, mulai dari memasak, membersihkan, hingga mengurus anak. Setiap pasangan dapat membagi kartu sesuai kesepakatan, sehingga tidak ada satu pihak yang merasa terbebani secara tidak proporsional. Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi konflik rumah tangga yang sering muncul akibat pembagian peran yang tidak seimbang.
Di Indonesia, isu pembagian kerja domestik masih menjadi tantangan. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, beban ganda yang ditanggung perempuan sering kali tidak diimbangi partisipasi laki-laki dalam urusan rumah tangga. Tren seperti yang dilakukan Rossum dan Esmail bisa menjadi inspirasi bagi pasangan muda Indonesia untuk lebih terbuka dalam mendiskusikan peran masing-masing. Psikolog keluarga, Ratna Juwita, menilai bahwa komunikasi dan kesepakatan bersama adalah kunci utama. "Metode seperti ini membantu pasangan untuk melihat tugas rumah tangga sebagai tanggung jawab bersama, bukan beban salah satu pihak," ujarnya.
Rossum juga berbagi refleksi pribadi tentang pengalaman masa kecilnya yang penuh dinamika. Ia dibesarkan oleh ibunya, Cheryl, sebagai orang tua tunggal. Rossum baru bertemu ayahnya pertama kali saat berusia empat tahun, kemudian sekali lagi pada usia delapan tahun, dan tidak bertemu lagi hingga ia dewasa. Pengalaman ini membentuk pandangannya tentang pengasuhan. "Banyak orang tumbuh dengan satu orang tua karena yang lain tidak tertarik untuk menyayangi mereka. Itu adalah kisah saya dan banyak orang," tuturnya. Meski demikian, Rossum merasa beruntung karena merasakan kasih sayang ibunya secara mendalam.
Ia menambahkan bahwa menjadi dewasa membuatnya memahami bahwa setiap orang melakukan yang terbaik, meski terkadang mengecewakan. "Sebagai anak, wajar untuk menginginkan kasih sayang orang tua, dan tidak mendapatkannya sangat menyakitkan," katanya. Namun, melihat suaminya berinteraksi dengan anak-anak mereka, terutama putrinya, memberikan kebahagiaan tersendiri. "Saya bisa melihat dia mendapatkan sesuatu yang tidak saya miliki, dan untuk saat ini itu sudah cukup," pungkas Rossum.
Kisah Rossum dan Esmail menyoroti pentingnya kolaborasi dalam rumah tangga, sebuah nilai yang universal. Di tengah kesibukan karier, mereka membuktikan bahwa kesetaraan peran bukanlah hal yang mustahil. Pertanyaannya, akankah tren ini mendorong lebih banyak pasangan di Indonesia untuk mengadopsi metode serupa? Atau justru memicu diskusi yang lebih luas tentang peran gender dalam keluarga modern?



