Kontroversi Wasit di Tinju Commonwealth Games: Apakah AI Jawaban untuk Penilaian yang Lebih Adil?
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan kontroversial Dimeji Shittu di final Commonwealth Games memicu kembali perdebatan tentang kualitas wasit dan juri tinju.
- Usulan penggunaan AI untuk menilai pertandingan tinju semakin menguat, dengan World Boxing mulai menjajaki kemungkinan tersebut.
- Penerapan AI diharapkan dapat mengurangi subjektivitas penilaian, namun masih banyak tantangan teknis yang harus dipecahkan.

Kontroversi keputusan juri kembali mewarnai dunia tinju amatir. Petinju Inggris, Dimeji Shittu, harus puas dengan medali perak di Commonwealth Games Glasgow setelah kekalahan yang dianggap tidak adil dari wakil India, Ankush Panghal, Sabtu lalu. Insiden ini memicu kembali pertanyaan lama: apakah sudah saatnya kecerdasan buatan (AI) dilibatkan dalam penilaian pertandingan?
Shittu, yang berusia 24 tahun, kehilangan poin di ronde kedua dan ketiga karena dianggap menundukkan kepala. Namun, yang lebih mengejutkan, bahkan tanpa pengurangan poin tersebut, ia tetap kalah karena empat dari lima juri memberikan ronde terakhir untuk Panghal. Mantan juara dunia Richie Woodhall, yang menjadi komentator, menyebut keputusan wasit "sangat buruk" dan "mengejutkan". Ia menegaskan, "Wasit telah merampok kemenangan Shittu."
Kekalahan ini menjadi ironis karena Shittu tampil dominan di ronde pertama, memenangkan seluruh lima kartu juri dan bahkan membuat lawannya mendapat hitungan berdiri. Namun, di ronde kedua, tiga juri memihak Panghal meskipun Shittu lebih banyak melancarkan pukulan. Keputusan kontroversial ini membuat Shittu tertinggal secara keseluruhan, dan hukuman kedua di ronde ketiga semakin memupus harapannya.
Di tengah kekecewaan, Shittu memilih bersikap dewasa. "Saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri," ujarnya kepada BBC Sport. "Itu aturannya. Kita hidup dan belajar." Sikap ini menuai pujian, tetapi tidak meredakan kritik. Delicious Orie, juara superberat Inggris, bahkan menyebut wasit telah "mencuri medali" dari Shittu dan mendorong penggunaan AI untuk menilai pertandingan.
Wacana penggunaan AI dalam tinju sebenarnya bukan hal baru. Teknologi serupa telah diuji coba di balik layar pada pertandingan Tyson Fury melawan Oleksandr Usyk pada 2024. Federasi tinju amatir dunia, World Boxing, yang menaungi Olimpiade dan Commonwealth Games, di bawah kepemimpinan Gennadiy Golovkin, telah menyatakan minatnya untuk mengeksplorasi implementasi AI. Meski belum ada keputusan konkret, keinginan untuk meningkatkan transparansi dan integritas penilaian tampak jelas.
Namun, penerapan AI dalam tinju bukan tanpa tantangan. Berbeda dengan olahraga lain yang menggunakan teknologi untuk keputusan faktualโseperti offside dalam sepak bola atau bola keluar dalam tenisโtinju melibatkan penilaian subjektif tentang kekuatan pukulan dan efektivitas serangan. Pertanyaan mendasar seperti "apakah semua pukulan sama?" atau "bagaimana AI mengukur dampak pukulan?" masih membutuhkan jawaban. Para tradisionalis mungkin berpendapat bahwa subjektivitas adalah bagian tak terpisahkan dari olahraga ini.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat tinju amatir juga berkembang di tanah air. Atlet-atlet seperti petinju Asian Games atau SEA Games sering kali menghadapi keputusan kontroversial yang memengaruhi hasil pertandingan. Jika AI dapat diimplementasikan secara efektif, hal ini bisa menjadi angin segar bagi atlet Indonesia yang kerap merasa dirugikan oleh penilaian wasit. Namun, biaya dan infrastruktur teknologi menjadi pertimbangan tersendiri.
"Saya tidak akan menentangnya," kata Orie. "Jika ada aturan main yang jelas, saya akan mengikutinya daripada mengandalkan opini seseorang."
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah AI benar-benar menangkap nuansa pertarungan tinju yang kompleks? Atau justru akan memicu kontroversi baru? Yang jelas, tekanan untuk meningkatkan kualitas penilaian semakin kuat, dan dunia tinju tidak bisa lagi mengabaikan tuntutan akan keadilan yang lebih objektif.



