Yealimi Noh Kokoh di Puncak, Lima Pemburu Gelar Mengintai di Final Women's British Open
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Amerika Serikat, Yealimi Noh, memimpin tiga pukulan menjelang putaran final Women's British Open, dengan lima pesaing terdekat hanya berjarak tiga pukulan.
- Noh, yang belum pernah memenangkan major, tampil konsisten di sembilan hole terakhir, sementara pemain Korea Selatan Haeran Ryu yang sempat unggul lima pukulan justru terpeleset.
- Persaingan di Royal Lytham diprediksi berlangsung sengit, dengan peluang terbuka bagi sejumlah nama besar termasuk Jeeno Thitikul dan bintang tuan rumah Charley Hull.

Yealimi Noh, pegolf Amerika Serikat berusia 25 tahun, sukses menjaga asa meraih gelar major pertamanya setelah memimpin klasemen Women's British Open dengan keunggulan tiga pukulan memasuki putaran final, Minggu (2/8). Noh menuntaskan putaran ketiga di Royal Lytham dengan skor dua-under-par 69, sekaligus menegaskan konsistensinya di tengah tekanan kompetisi yang semakin memanas.
Perjalanan Noh di hari Sabtu tidak sepenuhnya mulus. Ia sempat mencatat dua bogey di sembilan hole pertama sebelum akhirnya menemukan ritme permainan. Namun, ketenangannya di sembilan hole terakhir menjadi pembeda. Dengan tiga birdie dan sejumlah penyelamatan par krusial, ia menutup hari dengan total tujuh-under par. "Saya sempat kehilangan tempo, tapi berhasil bangkit di back nine. Beberapa par save penting membuat saya tetap di jalur," ujar Noh, seperti dikutip laman resmi turnamen.
Di belakangnya, persaingan untuk memperebutkan gelar justru semakin terbuka. Lima pegolf berbagi posisi kedua dengan skor empat-under, termasuk Jepang Shiho Kuwaki, Korea Selatan Haeran Ryu, serta bintang dunia Jeeno Thitikul. Lucy Li dari Amerika Serikat dan Esther Henseleit dari Jerman juga masih berpeluang. Situasi ini menciptakan skenario final yang menarik: Noh hanya butuh konsistensi, sementara para pengejar memiliki modal kepercayaan diri yang berbeda-beda.
Kisah dramatis justru datang dari Haeran Ryu, yang memulai hari sebagai pemimpin klasemen. Ia sempat memperlebar jarak menjadi lima pukulan setelah mencapai skor sembilan-under di awal putaran. Namun, enam bogey menghancurkan performanya. Ryu harus puas dengan skor 74 dan turun ke posisi kedua bersama kelompok pengejar. "Angin di back nine benar-benar kencang, mungkin yang terkuat sepanjang pekan. Par saja sudah seperti kemenangan," komentar Lottie Woad, pegolf amatir asal Inggris yang juga masih bersaing di posisi keempat.
Bagi penggemar golf di Indonesia, ajang ini kembali mengingatkan bahwa persaingan di level tertinggi golf putri tidak pernah bisa ditebak. Meski tidak ada wakil Indonesia di Royal Lytham, perkembangan ini relevan dengan semakin tumbuhnya minat masyarakat terhadap golf, terutama setelah kesuksesan sejumlah pegolf Asia di kancah internasional. Kehadiran nama-nama seperti Jeeno Thitikul dan Haeran Ryu menunjukkan dominasi Asia yang semakin kuat, sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi pegolf muda Tanah Air.
Sementara itu, Nelly Korda, yang sempat menjadi sorotan, kembali menunjukkan inkonsistensinya. Setelah birdie di hole 17, ia justru melakukan double-bogey di hole pamungkas akibat tee shot yang melenceng. Korda harus puas berada di posisi ke-17 dengan skor even par. Situasi ini menegaskan bahwa tekanan di major selalu mampu mengubah peta persaingan dalam sekejap.
Putaran final yang akan digelar Minggu dijadwalkan berlangsung dengan kondisi angin yang diprediksi masih kencang. Noh, yang belum pernah memenangkan major, akan menghadapi ujian mental terbesarnya. Para pengejar seperti Thitikul yang dikenal tenang dan Hull yang didukung publik tuan rumah, siap memanfaatkan setiap celah. Pertanyaannya, akankah Noh mampu mempertahankan keunggulannya, atau justru menjadi bagian dari drama lain di Royal Lytham? Semua akan terjawab di lapangan.



