Ryu Hae-ran Kokoh di Puncak Women's British Open, Korda dan Woad Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Korea Selatan Ryu Hae-ran memimpin klasemen setelah dua putaran dengan total 7-under, meski sempat tertatih di awal putaran kedua.
- Persaingan di puncak ketat: Nelly Korda dan Lydia Ko hanya terpaut beberapa pukulan, sementara Lottie Woad berjuang untuk sejarah kemenangan tuan rumah.
- Putaran final akhir pekan diprediksi berlangsung dramatis, dengan kondisi lapangan yang menantang dan persaingan multi-negara.

Ryu Hae-ran, unggulan utama asal Korea Selatan, memantapkan posisinya di puncak klasemen Women's British Open setelah putaran kedua yang penuh gejolak. Ia mencatat skor 69 (2-under) di Royal Lytham, Jumat, dan mengumpulkan total 7-under, unggul dua pukulan dari para pengejarnya. Pebulu tangkis putri yang baru saja menjuarai PGA Championship dan Evian Championship ini membuktikan mental juaranya setelah sempat terpuruk di awal putaran.
Perjalanan Ryu di putaran kedua tidak mulus. Ia melakukan bogey di hole ketiga dan double-bogey di hole kelima, membuatnya terlempar ke belakang. Namun, ia bangkit dengan lima birdie, termasuk di hole 18 yang memberinya keunggulan penuh. "Saya tidak ingin fokus pada pemain lain. Saya hanya akan terus berpikir tentang golf saya dan lapangan ini," ujarnya kepada wartawan. Sikap tenang ini menjadi kunci kebangkitannya.
Persaingan di papan atas sangat ketat. Nelly Korda, peringkat satu dunia, bangkit dari putaran pertama yang buruk dengan skor 68 (6 birdie) dan kini berada di posisi 1-under, bersama Lydia Ko dari Selandia Baru. Sementara itu, Lottie Woad dari Inggris, yang berusaha menjadi juara tuan rumah pertama sejak Georgia Hall pada 2018, bertahan di 2-under setelah mencatat 71. Ia sempat terhambat bogey di hole 18 karena jatuh ke bunker dalam, tetapi masih dalam jarak lima pukulan dari Ryu.
Jeeno Thitikul dari Thailand, yang memimpin setelah putaran pertama dengan 64, justru kesulitan dan hanya mampu mencatat 73. Ia kini berbagi posisi ketiga dengan Yealimi Noh dari Amerika. "Saya tidak bisa mendekatkan bola ke pin seperti kemarin. Mungkin posisi pin memang sulit," kata Thitikul. Ia harus bersabar di akhir pekan untuk mengejar ketertinggalan.
Bagi penggemar golf di Indonesia, ajang ini menarik karena persaingan Asia yang kuat, termasuk dari Korea Selatan dan Jepang. Meski belum ada wakil Indonesia, performa Ryu dan Thitikul menunjukkan dominasi Asia di kancah golf putri dunia. Ini bisa menjadi inspirasi bagi pegolf muda Indonesia yang mulai menembus turnamen internasional.
Putaran ketiga akan menjadi ujian mental bagi Ryu. Ia harus mempertahankan fokus di tengah tekanan para pengejar yang berpengalaman. Korda, yang sudah mengoleksi banyak gelar major, pasti akan tampil agresif. Sementara Woad, yang bermain di depan publik sendiri, akan mendapat dukungan luar biasa. Pertanyaannya, akankah Ryu mampu mempertahankan keunggulannya hingga akhir, atau justru drama baru akan tercipta di Royal Lytham?



