Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Perang AS-Iran: Selat Hormuz Masih Jadi Titik Rawan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia bangkit sekitar satu persen setelah anjlok tajam, dipicu kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah yang belum mereda.
- Klaim AS tentang perundingan dengan Iran dibantah Teheran, membuat prospek resolusi konflik dan keamanan Selat Hormuz masih kabur.
- Eskalasi lanjutan berpotensi mendorong harga lebih tinggi, berdampak pada inflasi global dan harga energi domestik Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali menghijau pada perdagangan Selasa (4/8), setelah sehari sebelumnya terpukul aksi jual besar-besaran. Meski rebound, pasar masih dibayangi ketidakpastian penyelesaian konflik Amerika SerikatโIran yang hingga kini belum menunjukkan titik terang, terutama menyangkut nasib Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi global.
Kontrak berjangka Brent tercatat naik 1,3 persen ke level 84,89 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat satu persen ke 81,11 dolar AS. Padahal, pada sesi sebelumnya Brent sempat terperosok hingga tujuh persen ke titik terendah dalam tiga pekan, sedangkan WTI kehilangan lebih dari lima persen. Pemicu awal aksi jual adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut akan menahan diri dari serangan baru ke Iran demi memberi ruang negosiasi.
Namun, klaim tersebut langsung ditepis juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. Teheran menegaskan tidak ada perundingan dengan Washington dan tidak ada jadwal pertemuan yang disepakati. Sikap saling bertolak belakang ini membuat pasar gamang: apakah gencatan senjata benar-benar akan terwujud atau justru berujung pada eskalasi baru.
Analis ING menilai aksi jual yang terjadi berlebihan mengingat ketidakpastian yang masih tinggi. "Kami sudah beberapa kali berada di situasi seperti ini, dan akhirnya keadaan justru memburuk," tulis mereka dalam catatan riset. Dengan Iran yang membantah adanya perundingan dan Trump yang mengeluarkan ancaman bila kesepakatan gagal, ruang untuk eskalasi kembali terbuka lebar.
Selat Hormuz memang menjadi titik sentral sengketa. Washington merujuk pada nota kesepahaman Juni lalu yang dinilai mewajibkan Iran membuka kembali jalur pelayaran, sementara Teheran bersikeras dokumen itu tetap mengakui otoritasnya. Data pelayaran menunjukkan enam kapal supertanker berbendera Saudi baru-baru ini mengubah rute di Teluk Aden menuju Afrika Selatan, sementara dua kapal pengangkut minyak Saudi tetap melintasi Bab el-Mandeb. Meski lalu lintas di dua jalur utama itu relatif stabil, risiko tetap menganga. Insiden terbaru dilaporkan terjadi di dekat perairan Oman, ketika sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal.
Bagi Indonesia, gejolak harga minyak dunia selalu punya implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Kementerian Keuangan dan Pertamina perlu mencermati pergerakan ini, terutama jika konflik berkepanjangan memicu lonjakan harga lebih lanjut. Sebelumnya, pemerintah telah mengalokasikan tambahan subsidi untuk menjaga harga bahan bakar tetap terjangkau, namun ruang fiskal bisa menyempit jika harga minyak bertahan tinggi.
Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan diplomatik dan potensi gangguan pasokan. Tim Waterer, analis pasar utama KCM Trade, mengingatkan bahwa konflik di Laut Merah dan Selat Hormuz menciptakan risiko ganda yang menghalangi minyak untuk sepenuhnya melepas premi geopolitiknya. Pertanyaannya, akankah ada kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang, atau justru eskalasi baru yang mengguncang pasar energi global? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan, sekaligus menjadi ujian ketahanan ekonomi negara-negara importir seperti Indonesia.



