Ekonomi Filipina Melambat di Kuartal II, Tanda Tekanan Domestik Menguat
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan PDB Filipina kuartal II-2024 hanya 2,3% (year-on-year), di bawah ekspektasi pasar 2,8%.
- Perlambatan ini mengindikasikan melemahnya permintaan domestik dan tekanan eksternal, berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Bank Sentral Filipina.
- Kinerja ekonomi Manila menjadi sinyal bagi Indonesia untuk mencermati ketahanan ekonomi regional di tengah ketidakpastian global.

Ekonomi Filipina mencatat pertumbuhan 2,3 persen pada kuartal kedua 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jauh di bawah perkiraan para analis yang memproyeksikan 2,8 persen. Angka yang dirilis otoritas statistik Manila ini menjadi alarm bagi pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. yang tengah berupaya menggenjot investasi dan konsumsi di tengah tekanan global.
Angka tersebut tidak hanya lebih rendah dari ekspektasi pasar yang disurvei Reuters, tetapi juga menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal pertama yang tumbuh 2,8 persen. Padahal, banyak ekonom berharap momentum pertumbuhan dapat dipertahankan sepanjang tahun. Melambatnya laju ekonomi ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik, yang selama ini menjadi penopang utama, mulai kehilangan daya dorong.
Beberapa faktor disebut menjadi biang keladi. Inflasi yang masih tinggi, meski mulai mereda, telah menggerus daya beli masyarakat. Suku bunga acuan yang dinaikkan Bank Sentral Filipina (BSP) untuk menjinakkan harga juga membuat biaya pinjaman meningkat, sehingga menekan konsumsi dan investasi. Di sisi eksternal, perlambatan ekonomi Tiongkok, mitra dagang utama, turut menekan ekspor dan arus investasi.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. Sebagai sesama ekonomi berkembang di Asia Tenggara, Filipina kerap dianggap sebagai barometer ketahanan kawasan. Jika negara dengan fundamental konsumsi domestik yang kuat pun mengalami perlambatan, maka risiko penularan ke negara lain, termasuk Indonesia, patut diwaspadai. Namun, perlu dicatat bahwa Indonesia memiliki basis ekonomi yang lebih terdiversifikasi, dengan sektor komoditas yang masih memberikan penyangga.
Para ekonom kini mengamati langkah BSP dalam rapat kebijakan berikutnya. Sebelumnya, bank sentral sempat mengisyaratkan akan mulai melonggarkan kebijakan moneter pada kuartal ketiga. Namun, dengan pertumbuhan yang melambat, tekanan untuk memangkas suku bunga semakin besar. Di sisi lain, BSP juga harus berhati-hati agar pelonggaran tidak memicu lonjakan inflasi baru.
Pemerintah Filipina sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen untuk tahun 2024. Dengan capaian semester pertama yang hanya sekitar 2,5 persen, target tersebut tampak sulit tercapai. Menteri Perencanaan Ekonomi Arsenio Balisacan sebelumnya menyatakan optimisme bahwa kuartal-kuartal berikutnya akan lebih baik, didorong oleh belanja pemerintah dan pemulihan sektor pertanian. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa optimisme tersebut perlu dikaji ulang.
Bagi Indonesia, perlambatan Filipina menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada konsumsi domestik tidak selamanya aman. Kebijakan fiskal dan moneter yang responsif, serta upaya meningkatkan daya saing ekspor, menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan tetap stabil. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu belajar dari kasus Filipina dan memperkuat fundamental ekonominya sebelum badai global benar-benar datang?



