Ekonomi Filipina Melambat di Kuartal II: Pertumbuhan 2,3% di Bawah Ekspektasi, Inflasi Mulai Mereda
Baca dalam 60 detik
- PDB Filipina kuartal II-2024 hanya tumbuh 2,3% year-on-year, di bawah perkiraan pasar sebesar 2,8%.
- Pelemahan ini dipicu oleh lesunya belanja pemerintah akibat skandal korupsi infrastruktur dan dampak konflik Timur Tengah.
- Inflasi Juli turun ke 6,2%, memberi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Ekonomi Filipina kembali menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Badan statistik setempat melaporkan produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 2,3% pada kuartal kedua 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jauh di bawah target pemerintah dan ekspektasi para analis. Angka ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi negara itu masih rapuh di tengah tekanan global dan domestik.
Konsensus ekonom yang dihimpun Reuters sebelumnya memperkirakan pertumbuhan mencapai 2,8%, sama dengan capaian kuartal pertama. Realisasi yang lebih rendah ini menunjukkan bahwa meskipun konsumsi rumah tangga relatif kuat, sektor-sektor lain belum mampu mendorong roda perekonomian secara optimal. Secara kuartalan, ekonomi hanya tumbuh 0,6% (seasonally adjusted), turun dari 0,9% pada tiga bulan sebelumnya.
Salah satu biang keladi perlambatan adalah merosotnya belanja pemerintah. Sejak pertengahan tahun, eksekutif di Manila terpaksa memangkas anggaran infrastruktur menyusul skandal korupsi yang melibatkan pejabat tinggi. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mengganggu rantai pasok dan menekan aktivitas ekspor-impor. Pemerintah pun telah merevisi target pertumbuhan tahun ini menjadi 3,5โ4,5%, dari sebelumnya 4โ5%.
Di tengah lesunya pertumbuhan, ada secercah kabar baik: inflasi terus melandai. Pada Juli, laju kenaikan harga barang dan jasa tercatat 6,2%, turun dari 6,4% pada Juni. Perlambatan ini utamanya didorong oleh penurunan tarif transportasi. Meski masih di atas batas atas target bank sentral, tren ini memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan guna menstimulasi ekonomi.
Bagi Indonesia, perlambatan Filipina menjadi pengingat bahwa negara-negara ASEAN saling terhubung. Sebagai mitra dagang utama, penurunan permintaan dari Filipina dapat berdampak pada ekspor Indonesia, terutama komoditas seperti minyak sawit dan produk manufaktur. Di sisi lain, kebijakan moneter Filipina yang lebih longgar berpotensi memperkuat daya saing ekspor mereka, yang bisa menjadi tantangan bagi produk domestik.
Para ekonom menilai bahwa pemerintah Filipina perlu segera mengatasi hambatan struktural, seperti birokrasi yang lambat dan infrastruktur yang belum memadai, agar pertumbuhan bisa kembali ke jalur 6โ7% seperti sebelum pandemi. Komite perencanaan anggaran telah menetapkan target pertumbuhan 5โ6% untuk periode 2027โ2030, namun tanpa perbaikan tata kelola, target tersebut tampak ambisius.
Ke depan, semua mata akan tertuju pada langkah bank sentral Filipina dalam rapat kebijakan mendatang. Apakah penurunan inflasi akan direspons dengan pemangkasan suku bunga? Jika ya, seberapa cepat dampaknya akan terasa pada investasi dan konsumsi? Jawabannya akan menentukan apakah ekonomi Filipina mampu bangkit pada paruh kedua tahun ini atau justru terperosok lebih dalam.



