Dolar Menguat di Tengah Ketidakpastian Kesepakatan Iran dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed
Baca dalam 60 detik
- Dolar AS menguat terhadap yen dan euro setelah laporan FT mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
- Kekhawatiran gagalnya kesepakatan Iran-Oman meningkatkan harga minyak dan mendorong permintaan aset safe-haven.
- Data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat ini menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan dominasinya di pasar valuta asing pada Jumat pagi (7/8), menguat terhadap yen dan euro setelah laporan Financial Times yang mengutip sumber dekat Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga pada September. Gerak ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, yang turut mendorong permintaan terhadap aset safe-haven.
Penguatan dolar ini merupakan kelanjutan dari apresiasi 0,4 persen pada Kamis, membawa mata uang Paman Sam menuju kenaikan mingguan sekitar 0,7 persen. Pergerakan ini menarik perhatian karena terjadi hanya beberapa hari setelah intervensi bersama Jepang-AS yang sempat menjatuhkan dolar dari level tertinggi empat dekade di atas 163 yen ke titik terendah 13 minggu di 155,20 yen pada Senin. Kini, dolar diperdagangkan di kisaran 158,50 yen, sementara terhadap euro menguat tipis ke level 1,1521.
Sentimen pasar masih dibayangi oleh buntunya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah laporan Reuters mengenai proposal kesepakatan yang melibatkan Oman. Dalam proposal tersebut, Iran disebut akan mendapatkan kendali atas lalu lintas masuk melalui Selat Hormuzโjalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Meskipun Presiden Donald Trump sempat menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali selat itu sudah dekat, para pejabat AS secara konsisten menolak gagasan memberikan kendali penuh kepada Teheran atas rute energi paling penting di dunia tersebut.
Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak langsung mendorong harga Brent naik lebih dari satu dolar menjadi 83,55 dolar per barel pada Jumat, setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 3 dolar. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya menekan pasar obligasi dan mendorong imbal hasil Treasury AS naik. Kondisi ini semakin memperkuat daya tarik dolar sebagai instrumen investasi.
Menurut Kristina Clifton, ekonom dari Commonwealth Bank of Australia, dolar mendapat dukungan dari harga minyak yang lebih tinggi setelah kabar bahwa kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali selat tersebut masih jauh dari harapan. Ia juga menyoroti laporan FT yang menyebut Warsh terbuka terhadap kenaikan suku bunga September jika data inflasi kuat. Namun, Clifton tetap memperkirakan The Fed akan menunggu hingga Desember sebelum memulai siklus pengetatan yang moderat.
Bank sentral AS sendiri masih terbelah dalam keputusan suku bunga bulan lalu, dengan Warsh menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Data nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat ini menjadi penentu utama arah kebijakan. Konsensus ekonom memperkirakan penambahan 80.000 lapangan kerja pada Juli, naik dari 57.000 pada Juni, dengan tingkat pengangguran yang diperkirakan stabil di 4,2 persen. Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga lebih cepat.
Bagi Indonesia, penguatan dolar AS dan potensi kenaikan suku bunga The Fed membawa implikasi signifikan. Nilai tukar rupiah berpotensi tertekan, yang dapat meningkatkan beban impor dan memicu inflasi. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengelola arus modal asing. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan defisit transaksi berjalan, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak.
Dengan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis dalam hitungan jam, pasar akan mencermati apakah sinyal kenaikan suku bunga September hanyalah wacana atau akan menjadi kenyataan. Jika data menunjukkan perekonomian AS masih tangguh, dolar berpeluang melanjutkan penguatannya, memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sebaliknya, data yang mengecewakan dapat meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan ruang bagi penguatan mata uang Asia. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi gejolak eksternal yang masih tinggi ini?



