China Gelar Latihan Gabungan di Laut China Selatan, Filipina Tak Berkomentar
Baca dalam 60 detik
- Militer China menggelar latihan gabungan udara-laut di sekitar Scarborough Shoal yang disengketakan, sebagai respons terhadap tindakan yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan.
- Bersamaan dengan latihan, Beijing memberlakukan aturan baru yang melarang aktivitas ekstraktif di cagar alam Huangyan, memperketat kontrol di wilayah yang juga diklaim Filipina.
- Langkah ini berpotensi memicu ketegangan baru di Laut China Selatan, dengan implikasi bagi dinamika keamanan regional termasuk jalur perdagangan yang dilalui Indonesia.

Pasukan militer China menggelar latihan tempur gabungan yang melibatkan armada udara dan laut di sekitar Scarborough Shoal, kawasan yang selama ini menjadi sumber ketegangan dengan Filipina. Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengumumkan manuver tersebut pada Sabtu (1/8) sebagai bagian dari upaya menguji kesiapan tempur pasukan dalam menjaga kedaulatan teritorial dan hak maritim nasional.
Latihan yang berlangsung di wilayah udara dan perairan sekitar gosong yang oleh China disebut Huangyan Dao itu digambarkan sebagai tanggapan yang diperlukan terhadap tindakan "sejumlah negara" yang dinilai merusak perdamaian dan stabilitas kawasan. Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, Manila yang mengklaim gosong tersebut dengan nama Bajo de Masinloc, hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan resmi. Kedutaan Besar Filipina di Beijing tidak segera menjawab permintaan konfirmasi terkait latihan militer tersebut.
Langkah ini bukan sekadar unjuk kekuatan. Pada hari yang sama, Beijing menerbitkan kebijakan baru untuk pengelolaan Cagar Alam Nasional Pulau Huangyan yang dibentuk sejak September 2025. Melalui kantor berita Xinhua, pemerintah China mengumumkan larangan tegas terhadap penangkapan ikan tanpa izin, penambangan, pengambilan karang atau kerang raksasa, serta aktivitas lain yang dianggap merusak ekosistem di kawasan tersebut. Pelanggar akan dikenakan sanksi hukum, dan Penjaga Pantai China akan melakukan patroli rutin untuk menegakkan aturan itu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi langsung. Meski bukan pihak yang bersengketa di Scarborough Shoal, stabilitas Laut China Selatan adalah prasyarat bagi keamanan jalur pelayaran dan aktivitas ekonomi di kawasan. Sebagai negara yang juga memiliki klaim di bagian selatan laut tersebut, Indonesia berkepentingan untuk memastikan bahwa eskalasi di titik-titik panas tidak meluas dan mengganggu arus perdagangan yang melintasi Selat Malaka dan Laut Natuna Utara.
Para pengamat menilai bahwa kombinasi latihan militer dan kebijakan konservasi ini adalah strategi China untuk memperkuat klaim kedaulatannya melalui pendekatan ganda: pengerahan kekuatan dan pengelolaan sumber daya. Dengan menyebut tindakan "negara tertentu" sebagai pemicu, Beijing sebenarnya mengirim sinyal bahwa ia tidak akan ragu merespons secara militer jika merasa kepentingannya terancam. Namun, langkah ini juga berisiko meningkatkan ketegangan diplomatik dengan Filipina, yang selama ini mendapat dukungan dari sekutu-sekutunya di kawasan.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Manila maupun negara-negara lain yang menanggapi latihan tersebut. Namun, sejarah menunjukkan bahwa insiden serupa di Scarborough Shoal pada 2012 sempat memicu krisis diplomatik yang berkepanjangan antara China dan Filipina. Pertanyaannya kini, apakah latihan ini akan menjadi pemicu baru bagi ketegangan yang lebih luas, atau sekadar pengingat bahwa Laut China Selatan tetap menjadi salah satu titik rawan konflik di Asia? Jawabannya akan sangat menentukan arah kebijakan keamanan regional dalam beberapa bulan ke depan.



