Banjir Terjang Sumatera Utara di Tengah Musim Kemarau: Tanda Ketimpangan Iklim Kian Nyata
Baca dalam 60 detik
- Ribuan rumah di Binjai, Pematang Siantar, dan Simalungun terendam banjir setinggi lutut akibat hujan deras, sementara sebagian besar Indonesia memasuki musim kemarau.
- BMKG memperingatkan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah lereng barat Sumatera Utara, dengan hujan diperkirakan berlanjut hingga Jumat.
- Fenomena ini memperkuat indikasi pola cuaca ekstrem yang dipicu El Niño, menuntut kesiapsiagaan dan solusi infrastruktur jangka panjang.

Medan — Banjir menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada Jumat (1/8/2026), merendam ribuan rumah di Binjai, Pematang Siantar, dan Simalungun. Peristiwa ini terjadi justru di saat mayoritas wilayah Indonesia tengah dilanda musim kemarau yang kian intensif, menegaskan ketimpangan pola cuaca yang kian ekstrem di Nusantara.
Di Pematang Siantar, genangan air setinggi lutut orang dewasa melumpuhkan ruas Jalan Trans-Sumatera yang menghubungkan kota tersebut dengan Medan. Arus lalu lintas tersendat berjam-jam, memaksa warga mengubah rute dan aktivitas harian mereka. Sementara di Binjai, hujan deras yang mengguyur sejak Kamis malam merobohkan sebatang pohon yang menimpa pedagang bakso hingga mengalami luka serius.
Wan Agus Yahya, warga Kabupaten Simalungun, menuturkan air mulai menerobos permukimannya pada Jumat dini hari. "Warga masih siaga karena air belum surut hingga pagi ini," ujarnya. Baginya, banjir bukan peristiwa baru—hampir setiap tahun kawasan itu terendam, namun ia menilai pemerintah belum memberikan solusi permanen. "Banjir terjadi tiap tahun, tapi pemerintah tidak berbuat apa-apa. Jangan sampai menunggu warga jadi korban dulu baru bertindak," keluhnya.
Jhon Vhento Hasudungan Purba, Kepala Divisi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun, menyebut tujuh personel telah diterjunkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Ia mengimbau warga tidak memaksakan diri melintasi genangan air. "Keselamatan harus diutamakan. Jangan paksakan kendaraan melewati area banjir," tegasnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Medan memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih akan mengguyur sejumlah daerah di Sumatera Utara hingga Jumat malam. Wilayah yang terdampak meliputi Deli Serdang, Batubara, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Simalungun, hingga kawasan Tapanuli dan Dairi. Defri Mendoza, pejabat BMKG Medan, mengingatkan angin selatan-utara dengan kecepatan 3–10 km/jam turut meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi. "Warga di lereng barat Sumatera Utara agar waspada terhadap hujan lebat yang bisa memicu banjir dan longsor," katanya.
Fenomena banjir di tengah kemarau ini menjadi ironi yang merefleksikan dampak perubahan iklim. Data BMKG per akhir Juli menunjukkan lebih dari dua pertiga wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan curah hujan diprediksi di bawah normal hingga akhir tahun. Intensifikasi El Niño disebut memperpanjang musim kemarau dan mengurangi pasokan hujan dari Samudra Pasifik.
Namun, di Sumatera Utara, dinamika atmosfer lokal justru memicu hujan lebat. Para ahli menilai kombinasi anomali suhu muka laut dan pola angin muson menciptakan kantong uap air yang kemudian mengguyur wilayah tersebut. Kondisi ini menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi menghadapi pola musim yang seragam—sebagian wilayah bisa mengalami kekeringan ekstrem, sementara lainnya justru dilanda banjir.
Bagi warga yang terdampak, banjir tahunan ini bukan sekadar bencana alam, melainkan juga kegagalan tata kelola lingkungan. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan penegakan aturan tata ruang menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah akan menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk bertindak nyata, atau kembali membiarkan warga berjibaku dengan air yang datang silih berganti?



