Gelombang Panas Ekstrem Landa Korea Selatan: Suhu 41,4 Derajat Cetak Rekor Terpanas Sepanjang Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan modern, mencapai 41,4 derajat Celsius di Yangsan.
- Fenomena ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi ganda yang memerangkap panas, memicu peringatan gelombang panas level tertinggi.
- Dampaknya berpotensi meluas hingga ke Indonesia, mengingat perubahan iklim global yang semakin nyata.

Korea Selatan baru saja mencatat rekor suhu terpanas sepanjang sejarah pengamatan meteorologi modern. Pada Jumat (1/8/2026), kota Yangsan di bagian tenggara negara itu menembus angka 41,4 derajat Celsius, memecahkan rekor sebelumnya yang bertahan delapan tahun. Kejadian ini bukan sekadar angka; ia menjadi alarm bagi kawasan Asia Timur yang tengah bergulat dengan gelombang panas berkepanjangan.
Menurut Administrasi Meteorologi Korea (KMA), suhu ekstrem tersebut tercatat pada pukul 13.40 waktu setempat. Angka ini mengungguli rekor nasional lama sebesar 41,0 derajat Celsius yang diukir di Hongcheon pada Agustus 2018. Yangsan sendiri telah mengalami suhu di atas 40 derajat selama tiga hari berturut-turut, menjadikannya episentrum krisis panas di Semenanjung Korea.
KMA telah menaikkan peringatan gelombang panas ke level tertinggi untuk sebagian wilayah Provinsi Gyeongsang Selatan, termasuk Yangsan. Sementara itu, hampir seluruh wilayah Korea Selatan masih berada dalam status advisori atau peringatan panas. โSejak sistem pengamatan otomatis (ASOS) beroperasi pada 1973, angka 41,4 derajat ini adalah yang tertinggi yang pernah kami catat,โ ujar juru bicara KMA, seperti dikutip Reuters.
Penyebab utama cuaca ekstrem ini adalah kombinasi dua sistem tekanan tinggi: Tekanan Tinggi Pasifik Utara dan Tekanan Tinggi Tibet. Keduanya bekerja seperti tutup raksasa yang menyelimuti Semenanjung Korea, memerangkap panas di permukaan dan menekan pembentukan awan. Akibatnya, radiasi matahari terus menerus menghantam bumi tanpa penghalang, menaikkan suhu secara drastis.
Fenomena ini sejalan dengan tren pemanasan global yang juga berdampak pada Indonesia. Meski secara geografis berbeda, pola tekanan tinggi yang memicu gelombang panas di Asia Timur kerap berkaitan dengan dinamika atmosfer yang lebih luas. Bagi Indonesia, perubahan pola cuaca ekstrem ini bisa memicu kemarau lebih panjang atau curah hujan tidak menentu, yang berimbas pada sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Para peramal cuaca juga memantau pergerakan Topan Dolphin di Pasifik Barat. Meski dampaknya terhadap gelombang panas masih belum pasti, lintasan topan tersebut berpotensi mengubah kondisi cuaca di Semenanjung Korea pekan depan. Jika topan bergerak mendekat, ia bisa membawa angin dan hujan yang meredakan panas, atau justru memperparah situasi jika menjauh.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Adaptasi terhadap cuaca ekstrem, seperti sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan panas, menjadi semakin mendesak. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia, sudah cukup siap menghadapi skenario terburuk dari perubahan iklim?



