Foto Buram 2008 Menguak Spesies Monyet Baru di Kongo, Primata Besar yang Langka Ditemukan
Baca dalam 60 detik
- Para ilmuwan mengonfirmasi spesies monyet baru, Colobus congoensis, dari hutan Kongo setelah penelusuran panjang yang berawal dari sebuah foto tahun 2008.
- Penemuan ini menandai salah satu dari sedikit deskripsi primata besar dalam beberapa dekade, dengan analisis genetik menunjukkan perpecahan evolusi jutaan tahun lalu.
- Spesies yang baru diidentifikasi ini menghadapi ancaman perburuan dan habitat yang sempit, sehingga status konservasinya menjadi prioritas mendesak.

Setelah hampir dua dekade penelusuran yang berawal dari sebuah foto buram di kanopi hutan Republik Demokratik Kongo (DRC), para ilmuwan akhirnya mengonfirmasi keberadaan spesies monyet baru yang belum pernah tercatat dalam literatur ilmiah. Temuan ini menjadi salah satu deskripsi primata besar paling langka dalam beberapa dekade terakhir, mengingat sebagian besar mamalia besar telah dipetakan sejak abad lalu.
Jejak penemuan ini dimulai pada 2008 ketika kamera seorang peneliti menangkap sosok monyet berbulu hitam pekat dari belakang, hanya memperlihatkan punggung dan sebagian ekor. Meski gambar itu parsial, cukup untuk memicu rasa ingin tahu Junior Amboko, primatolog dari Florida Atlantic University, dan koleganya. Selama 2018 hingga 2022, tim melakukan pengamatan berulang di kawasan yang juga menjadi rumah bagi tujuh spesies monyet lain dan bonobo, mencatat ciri khas berupa bercak oranye di sekitar mulut serta raungan dalam yang khas.
Monyet ini termasuk dalam genus Colobus, kelompok primata pemakan daun yang tersebar di hutan tropis Afrika dan dikenal karena tidak memiliki ibu jari. Sebelumnya, genus ini telah mencakup beberapa spesies, termasuk Colobus satanas yang hidup di pesisir Gabon. Namun, pemeriksaan tengkorak dari bangkai yang disita otoritas taman nasional Kongo menunjukkan perbedaan mencolok. "Berdasarkan warna bulunya, kami tahu ini Colobus, tetapi bentuk tengkoraknya lebih mirip C. satanas dengan ukuran jauh lebih kecil," ujar Julia Arenson, ahli biologi evolusi dari Yale University.
Analisis genetik kemudian memastikan bahwa monyet ini merupakan garis keturunan yang terpisah dari C. satanas setidaknya empat juta tahun lalu. Temuan ini dipublikasikan pada 15 Juli di jurnal PLOS ONE dengan nama ilmiah Colobus congoensis. Menariknya, komunitas lokal di DRC telah lama mengenal hewan ini sebagai Likweli, meski peneliti belum mengetahui sejak kapan nama itu digunakan.
Penemuan ini menggarisbawahi bahwa kekayaan biodiversitas global masih menyimpan misteri, terutama di kawasan terpencil. Tim Davenport, direktur Afrika untuk organisasi konservasi Re:wild, menilai bahwa deskripsi primata baru biasanya hanya muncul dari wilayah yang sulit dijangkau dan minim penelitian. "Ini adalah peristiwa langka dalam sains," katanya. Namun, kegembiraan ini diiringi kekhawatiran: Colobus congoensis diperkirakan sudah menghadapi tekanan perburuan untuk daging, sementara wilayah jelajahnya yang sempit membuatnya rentan terhadap kepunahan.
Alexander Georgiev, ekolog primata dari Bangor University yang tidak terlibat dalam penelitian, menekankan perlunya kajian mendalam terhadap ancaman yang dihadapi spesies baru ini. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan masyarakat lokal untuk menjaga habitat C. congoensis. Namun, karena status konservasinya belum dinilai oleh lembaga internasional seperti IUCN, langkah penilaian menjadi mendesak.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat akan pentingnya eksplorasi ilmiah di kawasan biodiversitas tinggi, termasuk hutan-hutan tropis Nusantara yang masih menyimpan banyak spesies belum teridentifikasi. Dengan ancaman deforestasi dan perburuan yang juga melanda, penemuan seperti ini menegaskan bahwa perlindungan habitat dan keterlibatan komunitas lokal adalah kunci, bukan hanya untuk sains, tetapi juga untuk kelangsungan hidup spesies yang baru dikenal.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah langkah konservasi akan bergerak secepat laju penemuan. Dengan habitat yang hanya seluas 1.700 kilometer persegi dan tekanan perburuan yang nyata, nasib Colobus congoensis akan menjadi ujian bagi komitmen global dalam menjaga keanekaragaman hayati.



