Amgen Umumkan Kebocoran Data Pasien: Serangan Siber Terbaru di Sektor Kesehatan Global
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan farmasi AS, Amgen, mengonfirmasi peretasan data perusahaan dan informasi kesehatan pasien yang tersimpan di cloud pihak ketiga.
- Insiden ini memperpanjang daftar panjang serangan siber di industri kesehatan, menyusul Abbott, Medtronic, dan Novo Nordisk.
- Amgen tengah mengevaluasi dampak penuh, sementara regulator dan pasien menanti kejelasan mengenai data yang terekspos.

Amgen, raksasa bioteknologi asal Amerika Serikat, secara resmi mengakui telah menjadi korban peretasan yang mengakibatkan bocornya data perusahaan dan informasi kesehatan pasien. Insiden ini menimpa sistem penyimpanan cloud yang dikelola oleh penyedia pihak ketiga, menjadikan Amgen sebagai entitas terbaru dalam gelombang serangan siber yang melanda industri farmasi global.
Dalam laporan regulasi yang diajukan pada Jumat (31/7), perusahaan menyatakan bahwa pada 29 Juli mereka menilai insiden ini bersifat material. Penilaian tersebut didasarkan pada jumlah file yang terdampak dan potensi sensitivitas informasi di dalamnya. Amgen telah mengaktifkan rencana tanggap darurat siber, menerapkan langkah-langkah penahanan, serta menggandeng tim forensik independen untuk menyelidiki akar permasalahan.
Perusahaan masih mendalami apakah data pasien, informasi bisnis rahasia, kekayaan intelektual, atau hasil riset dan pengembangan telah diakses atau dicuri. Hingga saat ini, Amgen memastikan tidak ada dampak terhadap produk, operasi manufaktur, sistem pelaporan keuangan, maupun kemampuan memenuhi kebutuhan pasien. Namun, mereka belum mengumumkan jumlah pasti pasien yang terdampak.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman siber terhadap sektor kesehatan. Sebelumnya, Abbott Laboratories, Clover Health, Stryker, Medtronic, Novo Nordisk, dan West Pharmaceutical Services juga mengungkapkan insiden serupa. Menurut laporan industri, rumah sakit dan perusahaan farmasi menjadi target utama karena menyimpan data medis yang sangat bernilai di pasar gelap.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok digital di sektor kesehatan. Banyak rumah sakit dan perusahaan farmasi di tanah air yang mulai mengadopsi layanan cloud untuk menyimpan data pasien. Otoritas seperti Kementerian Kesehatan dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) perlu memperketat regulasi tentang keamanan data kesehatan, terutama yang melibatkan vendor pihak ketiga. Kasus Amgen menunjukkan bahwa keamanan tidak hanya bergantung pada perusahaan itu sendiri, tetapi juga pada ekosistem penyedia layanan.
Di sisi lain, reputasi Amgen tengah diuji. Perusahaan ini masih menghadapi sorotan terkait obat penyakit langka Tavneos, setelah jurnal medis terkemuka menarik publikasi studi kunci dan regulator AS serta Eropa meminta penghapusan obat tersebut dari pasar. Kebocoran data ini menambah beban bagi Amgen yang sedang berupaya memulihkan kepercayaan publik.
Amgen menegaskan komitmennya terhadap privasi pasien dan keamanan data. Mereka masih mengevaluasi kewajiban hukum dan akan memberi tahu pihak-pihak yang terdampak, termasuk pasien, berdasarkan hasil investigasi. Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah: seberapa jauh data pasien telah terekspos dan bagaimana perusahaan akan mencegah insiden serupa di masa depan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah kepercayaan terhadap industri farmasi dapat bertahan di tengah ancaman siber yang kian canggih.



