Shanti Pereira Finis Kedelapan di Final 200m Commonwealth Games: Sejarah Tetap Tercatat
Baca dalam 60 detik
- Sprinter Singapura Shanti Pereira menorehkan namanya sebagai finalis pertama negaranya di nomor sprint individu Commonwealth Games, meski harus puas di posisi kedelapan.
- Catatan waktu 23,21 detik di final 200m Glasgow menjadi penanda konsistensinya di panggung internasional, dengan rekor nasional 22,57 detik masih dipegangnya.
- Pencapaian ini membuka peluang bagi atlet Asia Tenggara untuk bersaing di level tertinggi, sekaligus menjadi tolok ukur bagi pengembangan atletik di kawasan.

Shanti Pereira, pelari cepat asal Singapura, mengukir sejarah di Commonwealth Games 2026 dengan menjadi wakil pertama negaranya yang tampil di final nomor lari individu. Meski harus puas di posisi kedelapan pada final 200 meter putri di Scotstoun Stadium, Glasgow, Jumat (31/7) waktu setempat, namanya tetap tercatat dalam buku rekor olahraga Singapura.
Pereira yang kini berusia 29 tahun menuntaskan laga final dengan catatan waktu 23,21 detik. Gelar juara diraih Adaejah Hodge dari British Virgin Islands dengan waktu 22,07 detik, disusul Shaniqua Bascombe dari Trinidad dan Tobago (22,35 detik) serta Alana Reid dari Jamaika (22,56 detik) yang merebut perunggu. Meski tidak membawa pulang medali, penampilan Pereira di final ini merupakan loncatan besar setelah sehari sebelumnya ia menjadi finalis pertama Singapura di nomor sprint individu sepanjang sejarah keikutsertaan negaranya di ajang tersebut.
Pada babak semifinal, Pereira mencatat waktu terbaik musimnya, 22,81 detik, yang mengantarkannya lolos dengan status kualifikasi kedelapan. Rekor nasionalnya di nomor 200 meter, 22,57 detik, masih kokoh dipegangnya sejak Kejuaraan Dunia 2023. Pereira juga merupakan juara bertahan Asian Games untuk nomor ini, sebuah pencapaian yang menegaskan dominasinya di kancah Asia Tenggara dan Asia.
Kiprah Pereira di Glasgow tidak berhenti di nomor 200 meter. Sebelumnya, ia juga tampil di nomor 100 meter dan berhasil melaju ke semifinal dengan waktu 11,24 detik, hanya terpaut 0,04 detik dari rekor nasionalnya yang ia cetak pada Kejuaraan Atletik Asia 2023. Pada Commonwealth Games 2022 lalu, Pereira juga berhasil memecahkan rekor nasional untuk nomor 100 dan 200 meter serta menembus semifinal di kedua nomor tersebut.
Pencapaian Pereira ini menjadi sorotan tidak hanya di Singapura, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, capaian sprinter seperti Pereira dapat menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda, terutama mengingat persaingan di nomor sprint Asia yang semakin ketat. Keberhasilan Pereira menembus final Commonwealth Games menunjukkan bahwa atlet dari negara kecil pun mampu bersaing di panggung dunia, asalkan didukung oleh pembinaan yang konsisten dan mental juara.
Bagi Indonesia, prestasi Pereira menjadi pengingat bahwa investasi jangka panjang pada atletik, khususnya lari cepat, dapat membuahkan hasil. Meski Indonesia belum memiliki sprinter sekelas Pereira, perkembangan atletik di kawasan ini patut dicermati. Kejuaraan seperti SEA Games dan Asian Games menjadi ajang pembuktian bagi atlet-atlet Asia Tenggara untuk mengukur kemampuan mereka.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Pereira dapat mempertahankan performa ini hingga Olimpiade berikutnya. Dengan usia yang masih produktif, peluang untuk terus memecahkan rekor dan meraih medali di ajang internasional masih terbuka lebar. Bagi para pengamat olahraga Asia Tenggara, perjalanan Pereira adalah studi kasus tentang bagaimana dedikasi dan dukungan sistem dapat mengantarkan seorang atlet ke level tertinggi.



