Harga Minyak Menguat di Tengah Ketegangan Selat Hormuz: Eskalasi Baru Mengancam Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Iran mengklaim menghentikan dua kapal tanker di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak lebih dari 1%.
- Ketegangan meningkat setelah AS dan sekutu melancarkan serangan ke posisi pro-Iran, sementara Iran membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.
- Arab Saudi mengusulkan koalisi pertahanan maritim multilateral, sementara Oman menawarkan rencana pengelolaan selat, namun Iran masih belum menerima.

Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak setelah Iran mengumumkan telah menghentikan dua kapal yang mencoba keluar dari Selat Hormuz, jalur air strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global. Langkah ini langsung memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan energi di tengah konflik yang sudah berlangsung lima bulan, dan mendorong kenaikan harga lebih dari satu persen pada Jumat (31/7).
Meski klaim Iran belum dapat diverifikasi secara independen, laporan tersebut cukup untuk mengguncang pasar. Teheran juga menyebut empat kapal tanker lainnya berbalik arah setelah intervensi pasukannya. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan dua kapal tanker besar bermuatan minyak dari Teluk tetap melintas, namun tidak menutup kemungkinan ada kapal yang mematikan transpondernya untuk menghindari deteksi.
Sejak konflik dimulai, Iran telah memblokir sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Sekutu Iran, kelompok Houthi di Yaman, juga mulai mengancam jalur pelayaran di Bab el-Mandeb, yang merupakan pintu masuk ke Terusan Suez dari arah selatan. Situasi ini menciptakan tekanan ganda pada rute pengiriman energi utama dunia, terutama bagi eksportir seperti Arab Saudi.
Analis memperkirakan harga minyak akan terus meningkat. Kontrak berjangka Brent tercatat naik 23 persen sepanjang Juli, dan survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan tren kenaikan masih akan berlanjut. "Pasar sedang memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang lebih parah," ujar seorang analis energi di Singapura, yang enggan disebut namanya.
Ketegangan militer juga meningkat. Setelah AS dan Arab Saudi melancarkan serangan gabungan terhadap pasukan pro-Iran di Irak, Iran membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Militer Kuwait mengonfirmasi berhasil menghancurkan drone penyerang, meski ada kerusakan akibat puing-puing yang jatuh, tanpa korban jiwa. Sementara itu, Komando Pusat AS menyatakan blokade terhadap ekspor minyak Iran masih berlanjut dan serangan gelombang besar telah berhasil dilakukan.
Di tengah ketegangan, Arab Saudi mengumumkan rencana pembentukan koalisi pertahanan maritim multilateral untuk melindungi jalur pelayaran dan pasokan energi di kawasan Laut Merah. Langkah ini menyusul meluasnya zona "berisiko tinggi" yang ditetapkan pasar asuransi maritim London, yang kini mencakup lebih banyak garis pantai di dekat pelabuhan Saudi. Sementara itu, Oman menawarkan rencana pengelolaan Selat Hormuz yang didukung negara-negara Teluk, termasuk pengumpulan biaya sukarela untuk penggunaan selat tersebut. Meski Iran secara terbuka menolak, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan pembicaraan dengan Oman masih berlanjut.
Bagi Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat akan kerentanan pasokan energi nasional. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan inflasi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menjaga ketahanan stok BBM dan mengantisipasi potensi kenaikan harga di pasar domestik.
Serangan drone di pelabuhan Damietta, Mesir, yang menyebabkan kebakaran pada dua kapal, juga menambah dimensi baru. Mesir belum mengidentifikasi pelaku, sementara Iran membantah keterlibatan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, justru menuding adanya "konspirasi Israel" dan operasi bendera palsu yang dirancang untuk merusak perdamaian regional. Israel belum memberikan tanggapan resmi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah eskalasi ini akan berujung pada konflik terbuka yang lebih luas, atau justru membuka ruang negosiasi. Rencana Oman dan koalisi Saudi menunjukkan adanya upaya untuk meredakan ketegangan, namun tanpa komitmen Iran, stabilitas Selat Hormuz masih jauh dari kata pasti. Bagaimana respons Indonesia dan negara-negara Asia lainnya yang sangat bergantung pada jalur ini akan menjadi kunci dalam menjaga keamanan energi kawasan.



