India Gelontorkan Rp 141 Triliun untuk Eksplorasi Migas Lepas Pantai: Strategi Kurangi Ketergantungan Impor
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah India menyetujui paket dukungan senilai US$8,81 miliar untuk eksplorasi minyak dan gas di lepas pantai, sebagai respons atas krisis energi global.
- Langkah ini menyusul gangguan pasokan di Selat Hormuz dan diversifikasi pemasok minyak mentah dari 27 menjadi 41 negara.
- Selain migas, India juga menargetkan tambahan 102 GW kapasitas tenaga surya dalam lima tahun untuk menekan emisi karbon.

New Delhi, 31 Juli 2026 โ India mengambil langkah strategis dengan mengucurkan dana sebesar US$8,81 miliar untuk mendorong eksplorasi minyak dan gas bumi di wilayah lepas pantainya. Keputusan ini diambil di tengah tekanan gejolak geopolitik yang mengganggu jalur pasokan energi global, sekaligus sebagai upaya negeri berpenduduk 1,4 miliar itu untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi menyetujui paket insentif finansial tersebut pada Jumat (31/7). Menteri Informasi dan Penyiaran Ashwini Vaishnaw menyebut program ini sebagai langkah yang "sangat ambisius" untuk menggali potensi cadangan minyak dan gas yang belum tergarap di perairan yurisdiksi India. "Jika eksplorasi dilakukan dengan benar, India dapat mencapai produksi yang substansial," ujarnya kepada wartawan di New Delhi.
Krisis energi yang dipicu konflik Amerika SerikatโIran dan pembatasan di Selat Hormuz telah memukul India, yang merupakan importir minyak terbesar ketiga dunia dan pembeli LPG terbesar kedua. Untuk meredam dampaknya, New Delhi telah memperluas daftar pemasok minyak mentah dari 27 menjadi 41 negara, termasuk Venezuela, Rusia, dan sejumlah negara Afrika. Namun, langkah tersebut dinilai tidak cukup tanpa peningkatan produksi domestik.
Data menunjukkan produksi minyak mentah dalam negeri India baru mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kebutuhan. Menteri Perminyakan dan Gas Alam Hardeep Singh Puri, dalam wawancara dengan AFP bulan lalu, menegaskan bahwa krisis energi justru menjadi momentum bagi India untuk mempercepat pengembangan pasokan domestik. Inisiatif eksplorasi lepas pantai ini sebenarnya telah digaungkan Modi sejak pidato Hari Kemerdekaan Agustus tahun lalu, namun baru terealisasi kini.
Dalam rapat yang sama, kabinet juga menyetujui rencana perluasan energi terbarukan, khususnya pemasangan panel surya fotovoltaik di waduk, kanal, dan badan air industri. Targetnya, tambahan kapasitas 102 gigawatt dalam lima tahun ke depan. Saat ini, kapasitas terpasang tenaga surya India sudah mencapai sekitar 162 GW, salah satu yang tertinggi di dunia. Vaishnaw menyebut program ini berpotensi mencegah emisi karbon dioksida hingga 10 juta ton.
Langkah India ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Sebagai sesama negara berkembang dengan kebutuhan energi yang besar, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa: produksi minyak yang terus menurun sementara konsumsi meningkat. Kebijakan India untuk memadukan eksplorasi migas ofensif dengan percepatan transisi energi bisa menjadi pelajaran berharga. Namun, perlu diingat bahwa kondisi geologis dan regulasi di Indonesia berbeda, sehingga tidak bisa serta-merta ditiru.
Ke depan, keberhasilan program eksplorasi ini akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik dan iklim investasi. Apakah India mampu menarik investor asing untuk mengeksplorasi blok-blok lepas pantai yang berisiko tinggi? Dan apakah target ambisius energi surya dapat tercapai di tengah kebutuhan listrik yang terus melonjak? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah India benar-benar dapat mewujudkan kemandirian energi, atau justru terjebak dalam ketergantungan baru.



