Gagal di Marvel, Mahershala Ali Temukan Kembali Kreativitasnya Lewat Film Baru
Baca dalam 60 detik
- Proyek film Blade yang batal membuka jalan bagi Mahershala Ali untuk kembali berkolaborasi dengan sutradara awal, Bassam Tariq.
- Ali mengaku keterampilan yang diasah selama setahun persiapan Blade justru terpakai maksimal di film aksi terbarunya.
- Marvel mengakui standar kualitas yang terlalu tinggi menjadi penyebab proyek tersebut tidak pernah terwujud.

Dua tahun setelah proyek film Blade yang digadang-gadang menjadi tonggak baru kariernya di Marvel Studios resmi dibatalkan, Mahershala Ali akhirnya buka suara. Aktor peraih dua Piala Oscar itu justru merasa terbebaskan secara kreatif setelah kegagalan tersebut, karena membawanya pada sebuah proyek baru yang dinilainya lebih sesuai dengan perjalanan artistiknya.
Ali pertama kali diumumkan sebagai pemeran Blade pada San Diego Comic-Con 2019, berdampingan dengan presiden Marvel Studios, Kevin Feige. Namun, setelah bertahun-tahun tertunda, dengan berbagai pergantian sutradara—dari Bassam Tariq hingga Yann Demange—film tersebut tak pernah memasuki tahap produksi. Kini, Ali justru bersatu kembali dengan Tariq dalam film aksi Amazon MGM Studios berjudul Your Mother Your Mother Your Mother yang dijadwalkan rilis musim gugur tahun ini.
Dalam wawancara dengan GQ, Ali mengungkapkan bahwa kegagalan Blade justru menjadi berkah tersembunyi. “Ketika saya melihat proyek ini dan Blade, saya tidak mungkin mengerjakan keduanya. Alasan proyek ini ada justru karena proyek itu gagal, dan Bassam punya waktu serta energi untuk menulis naskah ini dan kembali menawarinya kepada saya,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa keterampilan yang ia asah selama lebih dari setahun berlatih untuk Blade akhirnya terpakai maksimal di film ini. “Dalam hal itu, saya merasa ditebus secara kreatif, dalam perjalanan saya sendiri,” katanya.
Bagi publik Indonesia, kisah ini menarik karena mencerminkan dinamika industri hiburan global yang kerap berubah cepat. Proyek besar dengan anggaran fantastis pun bisa batal, sementara peluang baru muncul dari celah yang tak terduga. Hal ini juga mengingatkan pada fenomena film-film Marvel yang selalu dinanti di bioskop Tanah Air, di mana penundaan atau pembatalan proyek sering kali menimbulkan kekecewaan besar di kalangan penggemar.
Di sisi lain, Kevin Feige juga angkat bicara mengenai kegagalan tersebut. Dalam podcast Happy Sad Confused, ia mengaku merasa seperti “pecundang besar” karena tak mampu mewujudkan film tersebut. “Kami tidak ingin sekadar mengenakan jaket kulit dan membuatnya membunuh vampir. Itu harus unik. Saat itu kami sedang dalam fase ‘hanya menerima yang luar biasa hebat’, dan Blade belum mencapai standar itu,” ungkap Feige. Ia menambahkan bahwa Marvel tidak ingin memberikan hasil yang setengah hati kepada Ali maupun kepada diri mereka sendiri.
Ali sendiri kini telah menerima kenyataan bahwa Blade memang bukan takdirnya. “Saya sudah berkecimpung di dunia akting profesional selama hampir 30 tahun. Satu hal yang saya pelajari adalah apa yang menjadi milik kita akan datang, dan yang bukan akan pergi. Jika mereka benar-benar ingin membuat film itu, kami pasti sudah melakukannya. Jadi, saya sudah move on,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menyindir bahwa dengan sumber daya yang dimiliki Marvel, seharusnya proyek tersebut bisa diwujudkan jika memang ada kemauan.
Komentar Ali dan Feige muncul di tengah upaya Marvel merombak jajaran filmnya setelah beberapa judul terbaru kurang memuaskan di box office, seperti Captain America: Brave New World dan The Fantastic Four: First Steps. Namun, kabar baik datang dari Spider-Man: Brand New Day yang baru saja mencetak rekor pendapatan, memberikan angin segar bagi semesta sinematik Marvel.
Ke depan, publik akan menantikan apakah keputusan Marvel untuk mengubur Blade akan menjadi pelajaran berharga atau justru penyesalan panjang. Sementara itu, Ali telah membuktikan bahwa di balik kegagalan, selalu ada ruang untuk berkarya dan menemukan makna baru. Pertanyaannya, akankah Marvel berani menghidupkan kembali Blade dengan pendekatan yang berbeda, atau justru membiarkannya menjadi kenangan pahit yang memperkaya perjalanan para kreatornya?



