Taika Waititi: Kematian Bukan Akhir, Hanya Perpisahan Sementara dengan Sam Neill
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Hunt for the Wilderpeople, Taika Waititi, menyampaikan pandangan filosofisnya tentang kematian usai kepergian sahabatnya, Sam Neill.
- Dalam acara peringatan 10 tahun film tersebut di London, Waititi mengenang ketenangan Neill yang tak pernah goyah di lokasi syuting.
- Kepergian Neill pada 13 Juli lalu meninggalkan duka mendalam, namun Waititi meyakini pertemuan kembali hanyalah soal waktu.

Taika Waititi, sineas asal Selandia Baru yang dikenal lewat karya-karya humor gelapnya, menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir segalanya. Pernyataan ini disampaikan di tengah duka mendalam atas kepergian sahabat dekatnya, aktor Sam Neill, yang wafat pada 13 Juli lalu di usia 78 tahun akibat pneumonia.
Momen reflektif itu muncul saat Waititi menghadiri acara peringatan satu dekade film Hunt for the Wilderpeople di London, Kamis malam (30/7). Film komedi yang dirilis 2016 itu menjadi titik awal kedekatan keduanya; Waititi bertindak sebagai penulis, sutradara, sekaligus produser, sementara Neill berperan sebagai Hec, pria pemarah yang menjadi figur ayah bagi karakter utama.
Bagi Waititi, kehilangan memang menyisakan kesedihan, tetapi ia memilih memandangnya dari perspektif yang berbeda. "Aku melihat kematian dengan cara yang sangat berbeda dari kebanyakan orang," ujarnya kepada Press Association. "Sedih karena tak bisa lagi mengobrol atau menghabiskan waktu bersama sahabatku, tapi aku akan menemuinya lagi sebentar lagi. Aku tak merasa ini adalah akhir dari segalanya."
Pernyataan ini sejalan dengan pengalaman pribadi Waititi yang kerap mengeksplorasi tema kematian dalam karya-karyanya, seperti Jojo Rabbit yang mengangkat absurditas perang. Namun, di balik sikapnya yang tampak tenang, ia mengakui bahwa kehadiran Neill di lokasi syuting Hunt for the Wilderpeople memberinya pelajaran berharga tentang ketenangan menghadapi tekanan.
"Semua orang panik: apakah kita akan selesai tepat waktu? Matahari mau tenggelam. Bisakah kita mengambil gambar ini?" kenang Waititi sambil tertawa. "Tapi Sam? Dia sudah main di Jurassic Park, The Piano, Event Horizon, Omen 3. Dia sudah berkecimpung lama dan melakukan banyak hal... Tidak ada yang bisa membuatnya goyah."
Ketenangan Neill, menurut Waititi, menjadi penyeimbang di tengah kekacauan produksi. "Aku bersyukur punya seseorang yang kalem di sekelilingku. Dia membuatku melihat segala sesuatu dari perspektif yang lebih luas," tambahnya. Sikap Neill yang tidak pernah terbawa stres ini pula yang membuat Waititi merasa tak memiliki penyesalan sedikit pun atas kebersamaan mereka.
Kepergian Neill meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan, tidak hanya bagi Waititi, tetapi juga bagi industri perfilman dunia. Neill, yang namanya melambung lewat peran sebagai Dr. Alan Grant di Jurassic Park, dikenal sebagai aktor serba bisa yang membintangi lebih dari 70 judul film dan serial. Ia juga sempat membuka diri tentang perjuangannya melawan kanker darah pada 2023, meski kemudian dinyatakan remisi.
Bagi penikmat film di Indonesia, kisah persahabatan Waititi dan Neill mengingatkan bahwa di balik layar, industri kreatif dibangun oleh relasi manusiawi yang autentik. Neill sendiri pernah menyatakan kekagumannya pada Waititi sebagai "suara baru dan orisinal dalam sinema indie" โ sebuah pengakuan yang menunjukkan bahwa kolaborasi sejati lahir dari saling menghargai, bukan sekadar profesionalisme.
Kini, dengan kepergian Neill, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Waititi akan mengenang sahabatnya dalam karya-karya mendatang. Akankah ia menyisipkan dedikasi khusus, atau justru menjadikan pengalaman ini sebagai bahan eksplorasi tematik baru? Yang jelas, bagi Waititi, kematian hanyalah jeda singkat sebelum ia kembali bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.



