30 Tahun 'Jack': Coppola Bela Film yang Dulu Dihujat, Kini Dipuji Sineas
Baca dalam 60 detik
- Francis Ford Coppola merayakan tiga dekade film 'Jack' dengan merilis cuplikan latihan bersama Robin Williams.
- Film yang sempat dikritik keras itu kini dianggap sebagai mahakarya oleh sutradara Luca Guadagnino.
- Coppola mengungkapkan bahwa 'Jack' masih menghasilkan royalti besar, membantah anggapan sebagai film terburuknya.

Tiga puluh tahun setelah dirilis, Francis Ford Coppola angkat bicara membela film 'Jack' yang sempat dianggap sebagai titik terendah kariernya. Melalui akun Instagram American Zoetrope, sutradara berusia 87 tahun itu membagikan cuplikan latihan yang memperlihatkan Robin Williams berimprovisasi dengan lawan mainnya, Adam Zolotin. Langkah ini sekaligus menjadi penanda bahwa sang sineas tetap bangga pada karya yang sempat dihujat kritikus tersebut.
Dalam unggahannya, Coppola menyebut 'Jack' sebagai film imajinatif dan tak biasa, meski mengakui tema serupa sudah pernah diangkat sempurna oleh Penny Marshall lewat 'Big'. Bagi Coppola, momen emosional di akhir film menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya tetap dikenang. Cuplikan yang dibagikan memperlihatkan Williams dan Zolotin bernyanyi sambil berakting, menggambarkan adegan di mana karakter Jack yang berusia 10 tahun dalam tubuh 40 tahun berpura-pura menjadi kepala sekolah.
Film 'Jack' mengisahkan seorang anak dengan kondisi langka yang membuatnya menua empat kali lebih cepat dari normal. Dibintangi Robin Williams, Diane Lane, Jennifer Lopez, dan Fran Drescher, film ini awalnya menuai kritik pedas. Roger Ebert, kritikus legendaris, menulis bahwa Williams bekerja keras tetapi terhambat skenario yang dangkal. Namun, Coppola tak pernah gentar. Dalam wawancara dengan Esquire pada 2009, ia mengungkapkan bahwa 'Jack' justru menjadi salah satu film yang paling banyak menghasilkan royalti baginya.
Kini, apresiasi terhadap 'Jack' mulai bangkit. Sutradara Luca Guadagnino, dalam wawancara dengan British Film Institute pada 2024, menyebut 'Jack' sebagai salah satu mahakarya Coppola. Menurutnya, Coppola mampu menyuntikkan kemanusiaan ke dalam cerita konvensional dan menciptakan dunia yang indah. Pandangan ini kontras dengan reputasi awal film yang dianggap gagal, namun sejalan dengan keyakinan Coppola bahwa film tersebut memiliki nilai artistik yang tak lekang waktu.
Bagi penonton Indonesia, kisah 'Jack' mengingatkan pada perjuangan sineas lokal yang kerap menghadapi kritik tajam namun tetap bertahan. Film ini juga menjadi pengingat bahwa penilaian publik bisa berubah seiring waktu, terutama ketika karya tersebut memiliki pesan universal tentang penerimaan dan keunikan. Coppola sendiri mengaku bahwa motivasi utamanya membuat 'Jack' hanyalah keinginan untuk bekerja dengan Robin Williams, aktor yang ia kagumi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah film-film yang kini dianggap gagal akan mengalami nasib serupaโdirehabilitasi oleh generasi baru sineas dan penonton. 'Jack' membuktikan bahwa waktu bisa menjadi hakim paling adil bagi sebuah karya seni.



