Dokumenter Jared Leto: Sutradara Sebut Misteri Mengapa Aktor Itu Kebal dari Tuntutan
Baca dalam 60 detik
- Sutradara dokumenter BBC, Alice McShane, mengaku bingung mengapa tuduhan pelecehan seksual terhadap Jared Leto tidak berdampak pada kariernya, berbeda dengan kasus Russell Brand.
- McShane mengaitkan fenomena ini dengan meredanya gelombang #MeToo, bangkitnya 'manosphere', dan normalisasi tuduhan terhadap tokoh berkuasa di mata publik.
- Tim produksi mengirim surat hak jawab kepada Leto, tetapi tidak mendapat respons sama sekali; sang aktor membantah tuduhan sebagai 'kategoris palsu'.

Alice McShane, sutradara di balik dokumenter BBC berjudul Jared Leto: Hollywood's Dark Secret, mengungkapkan kebingungannya mengapa karier Jared Leto tampaknya tidak terguncang oleh tuduhan pelecehan seksual yang dilayangkan sepuluh perempuan. Padahal, kasus serupa yang menimpa komedian Russell Brand berujung pada tuntutan hukum. Dalam wawancara dengan Variety, McShane menyebut fenomena ini sebagai 'misteri' yang mencerminkan perubahan sikap publik terhadap isu kekerasan seksual satu dekade setelah gerakan #MeToo.
Dokumenter yang tayang di BBC itu memuat kesaksian sepuluh perempuan yang mengaku menjadi korban perilaku predatoris vokalis Thirty Seconds to Mars tersebut dalam rentang 2002 hingga 2016. Tuduhan mencakup pelecehan seksual, intimidasi, hingga pemaksaan hubungan seksual. Berbeda dengan kasus Brand yang diangkat dalam film investigasi Channel 4, Russell Brand: In Plain Sight, dan berujung pada dakwaan resmi pada April 2025, tuduhan terhadap Leto nyaris tidak mengguncang posisinya di industri hiburan.
McShane, yang juga menyutradarai film dokumenter tentang Brand, menilai perbedaan perlakuan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, ada semacam 'pendinginan' emosi publik terhadap kasus-kasus semacam ini. Ia menyebut kebangkitan 'manosphere'โkomunitas daring yang kerap meremehkan isu perempuanโserta banyaknya tokoh berpengaruh yang juga menghadapi tuduhan serupa, telah membuat publik menganggap hal ini lumrah. "Sepertinya kemarahan atas kisah-kisah seperti ini sedikit mereda," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kasus-kasus ini tidak lagi mendapat perhatian sebesar satu dekade lalu.
Selain faktor budaya, McShane juga menyoroti citra yang sengaja dibangun Leto selama bertahun-tahun. Persona 'aneh, misterius, dan penuh teka-teki' yang melekat pada aktor pemenang Oscar itu, menurutnya, menjadi tameng yang melindunginya dari tuntutan. "Dia juga pria yang sangat tampan, dan saya pikir ada elemen 'pretty privilege' di sini," kata McShane, merujuk pada keuntungan yang kerap dinikmati orang berpenampilan menarik dalam kasus pelecehan.
Tim produksi dokumenter telah berupaya memberikan hak jawab kepada Leto sebelum film tayang. Surat resmi yang merinci seluruh kesaksian perempuan dikirim langsung ke sang aktor melalui produser eksekutif Mike Radford. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, tidak ada respons sama sekali. "Kami menelepon, mengirim pesan, menghubungi semua orang yang kami kenal terhubung dengannya, tetapi hanya ada keheningan," ungkap McShane. Ia mengaku belum pernah mengalami situasi seperti ini dalam kariernya.
Setelah dokumenter rilis, Leto mengeluarkan pernyataan yang membantah semua tuduhan sebagai 'kategoris palsu'. Namun, hingga kini, McShane belum menerima tanggapan langsung dari aktor tersebut. "Kami mungkin akan menerima surat, mungkin juga tidak. Dia bisa saja menuntut kami, atau tidak. Apa pun yang terjadi, kami siap," tuturnya.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas gerakan #MeToo di era sekarang. Di Indonesia, kasus-kasus pelecehan seksual di industri hiburan juga kerap berakhir tanpa keadilan bagi korban, sering kali karena kuatnya pengaruh pelaku dan minimnya dukungan publik. Apakah kasus Jared Leto akan menjadi titik balik, atau justru menegaskan bahwa kekuasaan dan popularitas masih mampu meredam tuntutan? Hanya waktu yang bisa menjawab.



