Sophia KATSEYE: 'Internet Bukan Seluruh Dunia', Sindir Warganet yang Tak Punya Pikiran Orisinal
Baca dalam 60 detik
- Vokalis KATSEYE, Sophia Laforteza, mengecam perundung siber yang dianggapnya hanya mengikuti arus tanpa pemikiran mandiri.
- Ia menegaskan bahwa dunia maya tidak mewakili realitas, dengan contoh pengalaman panggung di Coachella yang jauh lebih ramai daripada hiruk-pikuk komentar negatif.
- Pernyataan ini menjadi pengingat bagi penggemar K-pop di Indonesia untuk lebih bijak bermedia sosial dan tidak terjebak dalam polarisasi opini.

Sophia Laforteza, vokalis grup pop KATSEYE, melontarkan kritik tajam terhadap perundung siber yang menurutnya tidak memiliki pemikiran orisinal. Dalam wawancara dengan Jake Shane di podcast Therapuss, perempuan 23 tahun itu menegaskan bahwa dunia maya bukanlah representasi keseluruhan realitas, melainkan hanya sebagian kecil dari kehidupan yang sesungguhnya.
Pernyataan Sophia muncul saat diskusi mengenai cara KATSEYE menghadapi komentar negatif di media sosial. Ia mengamati bahwa banyak komentar pedas justru lahir dari informasi yang sangat terbatas, bahkan hanya berdasarkan unggahan singkat di layar gawai. "Mereka bisa memenuhi ruangan ini, tapi bersuara seperti di stadion," ujarnya, menggambarkan bagaimana kebisingan maya sering kali tidak sebanding dengan jumlah orang yang sebenarnya.
Fenomena ini bukan hal baru di industri hiburan, terutama bagi artis yang tengah naik daun. Namun, Sophia menekankan pentingnya menjaga perspektif. Ia menceritakan pengalamannya ketika ponselnya dipenuhi notifikasi saat KATSEYE sedang ramai diperbincangkan, namun saat ia berada di restoran, tidak ada seorang pun yang mengenalinya. "Internet itu keras, tapi dunia nyata tidak selalu demikian," katanya.
Lebih lanjut, Sophia membandingkan jumlah penggemar yang hadir di konser dengan jumlah perundung di dunia maya. Ia mencontohkan penampilan KATSEYE di panggung Sahara Tent saat Coachella. Ribuan penonton memadati area tersebut, bahkan banyak yang datang hanya untuk menyaksikan mereka dari kejauhan. "Mereka tidak bisa melihat atau mendengar kami dengan jelas, tapi mereka tetap datang. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang membuat keributan di internet," jelasnya.
Bagi penggemar K-pop di Indonesia, pernyataan Sophia ini relevan dengan budaya fandom yang sering kali terpolarisasi. Media sosial memang menjadi ruang utama interaksi, namun tidak jarang memicu perdebatan yang tidak sehat. Pesan Sophia mengingatkan bahwa dukungan nyata โ seperti menghadiri konser atau membeli album โ lebih bermakna daripada sekadar berkomentar di dunia maya.
Sophia juga menegaskan bahwa KATSEYE bukan sekadar grup musik, melainkan kelompok yang ingin memberdayakan dan memberi dampak positif bagi dunia. "Kami hanya perempuan yang berusaha mewujudkan mimpi," tuturnya. Ia menutup wawancara dengan pesan ringan: "Internet bukan segalanya. Pergilah mengejar kupu-kupu."
Pernyataan Sophia ini sejalan dengan tren di industri hiburan global yang mulai menyuarakan kesehatan mental di tengah tekanan media sosial. Pertanyaannya, akankah para penggemar, termasuk di Indonesia, mampu meniru sikap bijak tersebut dalam berinteraksi di dunia maya?



