Madonna di Balik Layar The Studio: Bintang Pop yang Tetap Rendah Hati dan Kisah Biopik yang Gagal
Baca dalam 60 detik
- Aktris Chase Sui Wonders mengungkap pengalaman bekerja dengan Madonna di serial komedi The Studio, menyebutnya lucu dan pekerja keras.
- Kegagalan biopik Madonna dengan Universal Pictures disebabkan perbedaan pendapat soal anggaran, meski ia sempat menawarkan syuting di Serbia untuk menekan biaya.
- Proyek biopik tersebut kemudian beralih ke Netflix, namun proses pengembangan serialnya juga menemui kendala karena hak atas naskah yang dimiliki Universal.

Chase Sui Wonders, salah satu bintang serial komedi Apple TV+ The Studio, memberikan pujian tinggi untuk Madonna yang tampil sebagai bintang tamu. Dalam wawancara dengan Entertainment Tonight, Wonders menyebut pengalaman bekerja dengan pelantun "Vogue" itu jauh melampaui ekspektasi. "Madonna adalah orang paling kerenโsemua orang tahu itu, tapi dia juga sangat lucu dan pekerja keras. Dia benar-benar antusias tampil di acara kami, itu terasa sangat surreal," ujarnya. Wonders juga memuji Julia Garner, lawan mainnya di serial tersebut, sebagai "bintang sejati".
Momen syuting bersama Madonna dan Garner berlangsung di Venesia, Italia, pada Maret lalu. Keduanya terlibat dalam adegan yang tampaknya menjadi homage terhadap rencana biopik Madonna yang sempat digarap Universal Pictures, namun akhirnya batal. Dalam video yang sempat beredar, Madonna dan Garner terlihat melintasi kanal sambil lipsync lagu "Like a Virgin". Kehadiran Madonna di lokasi syuting pun menjadi sorotan, apalagi ia bergabung dengan deretan aktor papan atas seperti Seth Rogen, Michael Keaton, Donald Glover, Bryan Cranston, Kathryn Hahn, dan Ike Barinholtz.
Di balik keceriaan di lokasi syuting, Madonna ternyata menyimpan kisah pahit tentang proyek biopik yang gagal. Dalam wawancara dengan Interview Magazine, pelantun "Like a Prayer" itu mengungkapkan bahwa ia menghabiskan dua tahun menulis skenario dan dua tahun bekerja sama dengan Universal Studios untuk urusan anggaran dan casting. Namun, perbedaan pandangan soal biaya produksi menjadi ganjalan. "Saya punya hidup yang luar biasa, hidup yang besar, jadi saya butuh anggaran yang besar," kata Madonna. Sayangnya, pihak studio tidak sependapat.
Madonna bahkan sempat mengusulkan syuting di Serbia untuk menekan biaya, namun tawaran itu ditanggapi sinis. "Mereka bilang, 'Kami tidak percaya kamu akan bertahan di Serbia lebih dari empat hari.' Saya jawab, 'Apa kalian sudah baca naskahnya?' Seluruh hidup saya adalah tentang bertahan hidup. Saya ke sana bukan untuk liburan," kenangnya. Kegagalan proyek ini membuat Madonna sempat kehilangan arah, hingga akhirnya Netflix datang menawarkan kerja sama untuk membuat serial. Namun, prosesnya kembali rumit karena ia tidak bisa menggunakan naskah yang sama tanpa membeli haknya dari Universal dengan harga yang menurutnya sangat mahal.
Kisah Madonna ini menarik untuk dicermati, terutama bagi industri kreatif di Indonesia. Fenomena perbedaan visi antara kreator dan studio soal anggaran bukan hal asing. Banyak sineas lokal yang kerap menghadapi dilema serupa ketika ingin mewujudkan karya besar dengan dana terbatas. Namun, kegigihan Madonna dalam memperjuangkan visinya bisa menjadi pelajaran bahwa negosiasi dan kompromi adalah bagian tak terpisahkan dari proses kreatif. Di sisi lain, respons sinis Universal terhadap usulan syuting di Serbia juga mengingatkan kita pada stereotip yang kerap menghambat kolaborasi lintas negara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Madonna akan menemukan rumah produksi yang mau mendukung visi besarnya, atau justru memilih jalur independen seperti yang dilakukan banyak musisi saat ini. Dengan pengalaman dan pengaruhnya, bukan tidak mungkin ia akan kembali mencoba mewujudkan biopik tersebut, baik di layar lebar maupun serial. Yang jelas, perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa kreativitas sejati tidak pernah mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.



