Krisis FIFA Memuncak: COO Kevin Lamour Tantang Infantino, Desak Kudeta Internal
Baca dalam 60 detik
- COO FIFA Kevin Lamour secara terbuka menuntut penggantian Presiden Gianni Infantino, menyusul rencana kontroversial penjualan saham Piala Dunia.
- UEFA, AFC, dan Concacaf kompak menolak rencana tersebut, bahkan UEFA mengancam boikot turnamen, memperbesar tekanan terhadap Infantino.
- Langkah berani Lamour menandai eskalasi konflik internal FIFA, dengan kemungkinan besar posisi Infantino semakin tidak aman meski ia mundur dari rencana itu.

Krisis kepemimpinan di tubuh FIFA mencapai titik terpanas ketika Chief Operating Officer (COO) Kevin Lamour secara terbuka menyerukan penggulingan Presiden Gianni Infantino. Pernyataan ini muncul di tengah gelombang penolakan terhadap rencana kontroversial penjualan saham Piala Dunia kepada investor eksternal, yang memicu kemarahan luas dari berbagai konfederasi sepak bola dunia.
Lamour, yang menjabat sejak 2024, tidak hanya mengkritik kebijakan Infantino tetapi juga menantangnya untuk memecat dirinya. โIni adalah proyek satu orang,โ ujarnya kepada Associated Press, sambil menegaskan bahwa para staf FIFA merasa โtertipuโ oleh pengumuman yang terburu-buru dan โlayak mendapat perlakuan lebih baik daripada penghinaan dan intimidasi.โ Sikap ini menjadi puncak dari ketidakpuasan yang telah lama terpendam di internal FIFA.
Rencana yang dimaksud adalah pembentukan anak perusahaan komersial untuk mengelola turnamen, yang kemudian dapat dibeli oleh investor luar. Gagasan ini langsung menuai reaksi keras dari UEFA, yang mengancam akan memboikot Piala Dunia selama usulan tersebut masih ada. Italia, salah satu pendiri UEFA, otomatis akan terkena dampaknya. Tak hanya itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Concacaf juga menyatakan penolakan, memperluas front perlawanan terhadap Infantino.
Di dalam FIFA sendiri, penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, telah mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Langkah Lamour yang menyerukan โkudeta politikโ semakin memperdalam jurang pemisah antara pendukung dan penentang presiden. Lamour menegaskan, โSudah waktunya para pemimpin politik sepak bola bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang tepat dan membuat keputusan yang tepat.โ
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar dan ambisi untuk tampil di panggung dunia, stabilitas FIFA sangat memengaruhi peluang Indonesia dalam berbagai kompetisi internasional. Jika rencana penjualan saham Piala Dunia benar-benar diterapkan, hal itu dapat mengubah struktur pendapatan dan distribusi keuntungan turnamen, yang berpotensi memengaruhi alokasi dana untuk pengembangan sepak bola di negara berkembang seperti Indonesia.
Kekacauan ini terjadi di saat FIFA tengah berupaya memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim, sebuah langkah yang juga menuai kontroversi. Infantino, yang sebelumnya dipuji karena membawa Piala Dunia ke Qatar, kini menghadapi tekanan terbesar dalam kariernya. Bahkan jika ia menarik kembali rencananya, posisinya telah melemah secara signifikan. Para pengamat menilai bahwa kredibilitasnya di mata konfederasi dan publik telah terkikis.
Lamour, yang tidak berniat mundur, justru menantang Infantino untuk memecatnya. โDan jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini,โ ujarnya. Sikap ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam tubuh FIFA sendiri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu bertahan menghadapi badai ini. Dengan dukungan yang semakin menipis, mungkinkah ia akan mengambil langkah mundur untuk menyelamatkan kursinya? Atau justru konflik ini akan memicu perubahan besar dalam struktur kekuasaan FIFA, yang berujung pada era baru kepemimpinan yang lebih transparan dan akuntabel? Bagi sepak bola dunia, termasuk Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah organisasi induk sepak bola global dalam beberapa tahun ke depan.



