Space-Eyes Melantai di Bursa AS: Bisnis Pertahanan AI yang Menarik Keluarga Trump
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan teknologi pertahanan Space-Eyes akan go public melalui merger SPAC senilai US$638 juta, dengan dukungan investasi dari Eric Trump.
- Space-Eyes mengandalkan pertumbuhan kontrak pemerintah, bukan pendapatan saat ini yang baru sekitar US$1 juta per tahun.
- Kesepakatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor pada perusahaan pertahanan berbasis AI, sejalan dengan tren belanja militer global.

Space-Eyes, perusahaan teknologi pertahanan asal Miami yang mengembangkan sistem anti-drone berbasis kecerdasan buatan, resmi mengambil jalur go public melalui merger dengan perusahaan cangkang McKinley Acquisition Corp. Kesepakatan yang diumumkan pada Jumat (31/7) itu menilai gabungan kedua entitas mencapai US$638 juta, sebuah langkah yang langsung menarik perhatian karena melibatkan Eric Trump, putra mantan Presiden AS Donald Trump, sebagai investor strategis.
Eric Trump, yang baru-baru ini menjadi investor swasta terbesar ketiga di Space-Eyes, akan menjabat sebagai penasihat strategis setelah transaksi rampung. Ia juga disebut-sebut membantu memperkenalkan calon anggota dewan untuk perusahaan publik yang baru. Meski perannya terbilang prestisius, pertanyaan mengenai potensi konflik kepentingan masih menggantung, mengingat kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan di Washington.
Space-Eyes sendiri selama ini lebih banyak beroperasi sebagai perusahaan riset dan pengembangan dengan pendapatan tahunan yang masih kecil, sekitar US$1 juta. Namun, perusahaan berencana untuk mengekspansi bisnisnya dengan memanfaatkan manufaktur pihak ketiga, membuka peluang kontrak dengan pemerintah di berbagai benua serta klien korporasi, mulai dari perusahaan kapal pesiar hingga pusat data. Tesis investasi yang ditawarkan bukan berdasarkan pendapatan yang sudah ada, melainkan proyeksi pertumbuhan kontrak yang sedang dinegosiasikan, yang nilainya mencapai sekitar US$35 juta selama lima tahun ke depan.
Kontrak-kontrak potensial itu mencakup pemantauan penyelundupan narkoba di Karibia, aplikasi pertahanan di Timur Tengah, hingga pencegahan penyelundupan barang terlarang ke penjara AS melalui drone. Peter Wright, CEO McKinley Acquisition Corp, menggambarkan peran penasihat strategis seperti Eric Trump sebagai jembatan untuk memahami masalah keamanan yang dihadapi pemerintahan, termasuk penyelundupan narkoba ke penjara yang kini marak dilakukan lewat drone.
Kesepakatan ini juga menyoroti tren yang lebih luas: meningkatnya minat investor terhadap perusahaan teknologi pertahanan, seiring dengan kenaikan belanja pemerintah di seluruh dunia untuk sistem deteksi drone, otonom, dan intelijen medan perang berbasis AI. Model bisnis Space-Eyes terinspirasi dari Palantir, perusahaan analitik data yang menjadi kontraktor utama pemerintah AS, yang mencatat margin operasi 60 persen pada kuartal pertama, jauh di atas margin tipikal kontraktor pertahanan tradisional yang hanya satu digit.
Space-Eyes mendefinisikan dirinya sebagai perusahaan perangkat lunak dan sistem yang menggabungkan data dari satelit, radar, sensor frekuensi radio, dan sumber lainnya untuk mendeteksi, melacak, dan merespons ancaman drone, serta memberikan intelijen geospasial secara real-time. Produk unggulannya mencakup SeaWatch, platform intelijen maritim yang melacak kapal, dan Morpheus, sistem anti-drone bertenaga AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Di tengah meningkatnya ancaman drone di kawasan, termasuk potensi penyelundupan dan terorisme, teknologi serupa bisa menjadi relevan bagi TNI dan Polri. Namun, perlu diingat bahwa model bisnis Space-Eyes yang mengandalkan kontrak pemerintah juga menyiratkan pentingnya tata kelola dan transparansi, terutama ketika melibatkan tokoh politik. Pertanyaannya, apakah tren investasi di perusahaan pertahanan AI akan mendorong negara-negara seperti Indonesia untuk lebih serius mengembangkan industri pertahanan dalam negeri?



