Saham Amazon Melonjak 14%: AWS Bukti Belanja AI Raksasa Teknologi Mulai Menuai Hasil
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan saham Amazon 14% dipicu pertumbuhan pendapatan AWS 37% pada kuartal kedua, meredakan kekhawatiran investor atas belanja AI yang membengkak.
- Kontras dengan Meta dan Alphabet yang anjlok 7% karena arus kas bebas menipis, Amazon dinilai berhasil menunjukkan monetisasi AI secara langsung.
- Dengan kapasitas cloud 2027-2028 yang sudah dipesan pelanggan, Amazon optimistis belanja modal $220 miliar pada 2026 akan terus menghasilkan pertumbuhan.

Saham Amazon melesat hampir 14 persen pada Jumat (31/7) setelah pertumbuhan pendapatan cloud-nya yang solid memulihkan keyakinan investor terhadap investasi besar-besaran perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI). Pergerakan ini sekaligus mematahkan kekhawatiran bahwa raksasa e-commerce tersebut tertinggal dari rival-rival teknologi besar dalam perlombaan AI.
Amazon mencatatkan pertumbuhan cloud terkuat dalam lebih dari empat tahun, menandakan gelombang permintaan baru yang membenarkan kenaikan 10 persen belanja modal yang direncanakan untuk 2026 menjadi $220 miliar. Jika kenaikan saham bertahan, nilai pasar perusahaan berpotensi bertambah lebih dari $340 miliar, didorong lonjakan pendapatan cloud kuartal kedua sebesar 37 persen. Sebelumnya, Microsoft juga melonjak lebih dari 15 persen setelah unit cloud-nya mengalahkan estimasi dengan pertumbuhan pendapatan 43 persen.
Namun, di balik euforia tersebut, muncul jurang pemisah yang semakin lebar di antara investor mengenai toleransi terhadap belanja AI yang terus meningkat, yang diperkirakan menembus $730 miliar tahun ini. "Pasar tidak lagi mempertanyakan apakah permintaan AI itu nyata. Garis pemisah baru adalah apakah pengeluaran yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menghasilkan pendapatan dan ekspansi margin yang terlihat dalam waktu dekat," ujar Bill Birmingham, managing director REX Financial. "Pasar menghukum pengeluaran ketika monetisasi tertunda, tidak langsung, atau sulit diukur."
Kontras dengan Meta dan Alphabet yang sama-sama anjlok 7 persen meski pendapatan tumbuh kuat, karena mereka menaikkan proyeksi belanja modal sementara arus kas bebas justru tergerus. "Amazon berhak untuk terus membelanjakan uangnya. Di mana perusahaan lain meminta investor untuk percaya bahwa hasilnya akan datang, Amazon sudah menunjukkannya pada kuartal ini," kata Thomas Monteiro, analis senior Investing.com. "Selama AWS terus berakselerasi dan margin bertahan, pasar tampak bersedia mendanai pembangunan ini, bahkan dengan arus kas bebas yang negatif."
Memang, arus kas bebas Amazon berbalik tajam menjadi negatif pada kuartal tersebut, dengan pembakaran kas $7,6 miliar dalam basis 12 bulan berjalan, dibandingkan arus kas bebas positif $18,2 miliar tahun sebelumnya. Meski demikian, CEO Andy Jassy meyakinkan investor bahwa Amazon hanya mengucurkan dana untuk melayani permintaan yang sudah ada. Sebagian besar kapasitas cloud Amazon untuk 2027 dan sebagian kapasitas untuk 2028 telah dipesan pelanggan.
Bagi pasar Indonesia, kinerja AWS ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan lokal yang mengandalkan layanan cloud. Pertumbuhan AWS yang konsisten dapat berarti harga layanan cloud yang lebih stabil atau bahkan inovasi baru yang lebih cepat hadir di pasar Asia Tenggara. Namun, investor Indonesia juga perlu mencermati tren belanja AI global, karena gejolak di saham teknologi AS kerap berdampak pada pasar modal domestik.
Setidaknya 15 firma pialang menaikkan target harga saham Amazon setelah rilis laporan keuangan ini. Dengan rasio harga terhadap laba (P/E) 24,67, Amazon diperdagangkan lebih mahal dibanding Microsoft (22,94) dan Alphabet (19,35), mencerminkan ekspektasi pasar yang tinggi terhadap pertumbuhan AWS ke depan.
Chris Ballard, managing partner Check Capital, menilai pendekatan belanja Amazon sebagai "metodis dan bertanggung jawab". "Tingkat penempatan modal ini masih sangat baru, jadi Amazon yang langsung menunjukkan hasil adalah pertanda yang sangat baik," ujarnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menghasilkan, melainkan seberapa cepat dan seberapa besar dampaknya terhadap laba. Dengan kapasitas yang sudah dipesan hingga 2028, Amazon tampaknya berada di jalur yang tepat. Namun, apakah para pesaingnya mampu mengejar ketertinggalan, atau justru akan semakin tertinggal dalam perlombaan yang semakin mahal ini?



