Gelombang Penolakan Mengguncang FIFA: Rencana Investasi Piala Dunia Kian Terisolasi
Baca dalam 60 detik
- Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, secara terbuka mengkritik rencana penjualan saham kompetisi kepada investor swasta, menyebutnya sebagai 'proyek satu orang'.
- Tiga konfederasi sepak bola (AFC, UEFA, Concacaf) menolak rencana tersebut, dan penasihat senior Gianni Infantino, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri sebagai bentuk protes.
- Dengan potensi 136 dari 211 negara anggota menentang, masa depan rencana investasi ini diragukan, sementara FIFA tetap bersikukuh melanjutkan konsultasi.

Tekanan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA semakin memuncak setelah pejabat internalnya sendiri angkat bicara. Kevin Lamour, Chief Operating Officer FIFA, mengkritik habis-habisan rencana kontroversial untuk menjual saham kompetisi kepada investor swasta. Dalam pernyataan yang dirilis Associated Press, Lamour menyebut rencana itu sebagai "proyek satu orang" dan menyerukan para pemimpin sepak bola untuk mengambil keputusan yang tepat. Ini adalah pertama kalinya seorang eksekutif puncak FIFA secara terbuka menentang presidennya, menandakan keretakan serius di dalam organisasi.
Kritik Lamour datang di tengah badai penolakan yang melanda rencana tersebut. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan solidaritas dengan UEFA dan Concacaf, yang sebelumnya telah menolak rencana itu. AFC menegaskan bahwa Piala Dunia adalah milik semua konfederasi dan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan komersial. Sementara itu, Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global, memilih mundur dari jabatannya. Cordeiro, mantan bankir Goldman Sachs, menilai rencana ini sebagai "kesepakatan buruk" yang akan "menggadaikan masa depan sepak bola".
Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, juga ikut mengkritik dengan menyebut Infantino sebagai "orang yang salah" untuk memimpin FIFA. Bahkan Presiden AS Donald Trump, yang memiliki hubungan dekat dengan Infantino, mengaku belum berbicara dengannya mengenai rencana tersebut. Di tengah krisis ini, FIFA justru mengumumkan akan membentuk anak perusahaan komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola Piala Dunia dan mengundang investor eksternal untuk membeli saham minoritas. Rencana ini didukung oleh bank investasi JP Morgan, yang memperkirakan pendapatan meningkat hingga 24 juta euro per asosiasi anggota pada siklus 2035-2039.
Yang menarik, dokumen setebal 25 halaman yang disusun JP Morgan tidak menyebutkan sepak bola wanita sama sekali. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa rencana ini hanya akan menguntungkan segelintir pihak, sementara mengabaikan pengembangan sepak bola secara menyeluruh. UEFA, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa "Piala Dunia tidak untuk dijual" dan menolak memperlakukan turnamen sebagai produk investasi. Mereka bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia jika rencana ini disetujui. Namun, tidak semua pihak sepakat. Rogers Byamukama dari Federasi Sepak Bola Uganda justru melihat peluang positif. Menurutnya, tambahan dana dari investor dapat membantu negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada pendanaan FIFA untuk infrastruktur dan program akar rumput.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia tentu berharap Piala Dunia tetap menjadi ajang yang inklusif dan tidak dikuasai kepentingan komersial. PSSI, sebagai anggota FIFA, perlu mencermati arah kebijakan ini. Jika rencana investasi disetujui, ada potensi perubahan dalam distribusi pendanaan yang bisa berdampak pada program pengembangan sepak bola nasional. Namun, jika ditolak, stabilitas FIFA akan terancam, yang juga bisa mempengaruhi berbagai program bantuan teknis dan finansial yang selama ini diterima Indonesia.
Mundurnya Cordeiro dan kritik dari internal FIFA menunjukkan bahwa organisasi ini berada di persimpangan jalan. Pertanyaan mendasar yang diajukan Cordeiro โ "Mengapa kesepakatan ini? Mengapa sekarang? Pengawasan apa yang ada? Siapa yang diuntungkan?" โ masih belum terjawab. Dengan tenggat waktu yang hanya 50 hari bagi anggota untuk memutuskan, tekanan semakin besar. FIFA berdalih bahwa konsultasi terganggu oleh pemberitaan yang tidak akurat, tetapi gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sulit diabaikan. Apakah Infantino mampu bertahan menghadapi badai ini, atau justru rencana ini akan menjadi bumerang bagi kepemimpinannya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: dunia sepak bola sedang menantikan keputusan yang akan menentukan arah olahraga ini untuk dekade mendatang.



