Rencana Investasi FIFA Ancam Masa Depan Sepak Bola Wanita: Boikot UEFA dan Dampaknya bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- UEFA dan 55 asosiasi anggotanya memboikot kompetisi FIFA sebagai protes atas rencana penjualan saham turnamen kepada investor swasta.
- Turnamen wanita, seperti Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia, menjadi korban pertama yang terancam batal atau terganggu akibat kebuntuan ini.
- Jika tidak ada kesepakatan, kualifikasi Piala Dunia Wanita 2026 di Brasil, termasuk yang melibatkan Inggris, bisa tertunda, berdampak pada jadwal padat pemain.

Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membuka keran investasi swasta ke turnamen-turnamen utamanya berbuntut panjang. UEFA, melalui 55 asosiasi anggotanya, memilih jalan boikot sebagai bentuk penolakan. Langkah ini, menurut mantan bek timnas Inggris Anita Asante, akan membuat sepak bola wanita menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.
Ketegangan ini akan diuji pada Piala Dunia U-20 Wanita yang dijadwalkan bergulir di Polandia mulai 5 September mendatang. Asosiasi Sepak Bola Polandia (PZPN) menyatakan belum menerima informasi resmi mengenai pengunduran diri tim mana pun, dan persiapan tetap berjalan. Namun, kekhawatiran akan pembatalan atau pengurangan partisipasi tim-tim Eropa masih menggantung.
Asante, yang kini menjadi pengamat, menyayangkan kurangnya pertimbangan FIFA atas konsekuensi keputusan ini. โKorban pertama adalah turnamen wanita. Saya rasa FIFA tidak memikirkan implikasi dari keputusan mereka,โ ujarnya kepada BBC Sport. Ia menambahkan bahwa para pemain tidak bisa menganggap remeh kesempatan tampil di Piala Dunia, dan jika kebuntuan ini tidak segera teratasi, dampaknya bisa sangat besar, terutama dengan jadwal yang sudah padat.
Selain Piala Dunia U-20, turnamen wanita lain yang terancam adalah Piala Dunia U-17 di Maroko pada Oktober, serta kualifikasi Piala Dunia Wanita 2026 di Brasil yang akan diikuti Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales. Baroness Sue Campbell, mantan direktur sepak bola wanita FA, menyebut situasi ini tragis. Ia mendukung sikap tegas federasi regional, namun menekankan bahwa investasi komersial tidak boleh mengambil alih esensi olahraga.
Di tengah boikot, FIFA justru membantah menjual sepak bola. Mereka mengklaim proses konsultasi terganggu oleh pemberitaan yang tidak akurat. Namun, Concacaf, yang menaungi Amerika Utara dan Tengah, juga menolak proposal ini, dan AFC menyatakan solidaritas dengan UEFA. Bahkan Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino, mengundurkan diri dan menyebut rencana tersebut sebagai kesepakatan buruk yang akan menggadaikan masa depan sepak bola.
FIFA ingin membentuk anak usaha komersial untuk mengelola turnamen utamanya, termasuk Piala Dunia, dan mengundang pihak ketiga untuk membeli saham minoritas. Dokumen dari JP Morgan menyebutkan potensi peningkatan pendapatan hingga 24 juta euro per asosiasi pada siklus 2035-2039, namun tidak menyebutkan sepak bola wanita sama sekali. Investor yang disebut-sebut akan memimpin adalah Thrive Eternal, perusahaan modal ventura Amerika yang didirikan Joshua Kushner, saudara ipar Donald Trump.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang bersih dan transparan dalam sepak bola. Meski tidak terlibat langsung dalam boikot, Indonesia sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar perlu mencermati bagaimana kebijakan FIFA dapat berdampak pada perkembangan sepak bola wanita di Asia. AFC yang mendukung UEFA menunjukkan bahwa solidaritas regional penting untuk menjaga integritas olahraga.
Pertanyaan besarnya, akankah FIFA menarik kembali rencananya atau justru memaksakan tenggat 19 September? Jika boikot berlanjut, bukan tidak mungkin turnamen-turnamen besar, termasuk Piala Dunia, akan kehilangan partisipasi tim-tim Eropa. Ini akan menjadi pukulan telak bagi FIFA dan sepak bola global. Apakah Infantino akan bertahan dengan rencananya atau berkompromi demi menyelamatkan citra FIFA?



