KOSPI Cetak Rekor Kenaikan 17,9%, Saham Teknologi Asia Bangkit: Isyarat AI Boom Kembali?
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI melesat 17,9% pada Jumat (31/7), rebound terbesar dalam sejarah, dipimpin saham SK Hynix yang melonjak 30%.
- Pembelian saham oleh ketua SK Group dan rencana pemerintah Korea Selatan mengucurkan dana US$14 miliar untuk AI menjadi katalis utama.
- Koreksi tajam sebelumnya dipicu kekhawatiran overinvestasi AI, namun aksi borong ini menandakan kepercayaan investor mulai pulih.

Indeks KOSPI Korea Selatan mencatat rekor kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah, melesat 17,9% pada Jumat (31/7), setelah aksi jual besar-besaran yang berlangsung sebulan terakhir berbalik arah. Saham-saham teknologi Asia, terutama produsen chip, menjadi motor utama kebangkitan ini, dengan SK Hynix melonjak hampir sepertiga nilainya dalam sehari. Pasar seolah memberi sinyal bahwa gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) yang sempat diragukan kembali mendapat kepercayaan.
Sejak pertengahan Juli, bursa Asia diguncang aksi jual masif akibat kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal perusahaan teknologi untuk pengembangan AI yang belum jelas imbal hasilnya. KOSPI, yang sebulan lalu sempat menyentuh rekor tertinggi, menjadi episentrum koreksi. Dua raksasa semikonduktor, SK Hynix dan Samsung Electronics, kehilangan sekitar separuh nilai pasarnya dalam sepekan. Namun, rilis laba kuat dari Microsoft dan Amazon pekan ini memicu aksi borong saham teknologi di Wall Street, yang kemudian menjalar ke Asia.
Analis menilai koreksi yang terjadi lebih disebabkan oleh kekhawatiran jangka pendek tentang kapan investasi AI akan menghasilkan keuntungan, bukan karena fundamental industri yang memburuk. "Investor mulai skeptis seberapa jauh harga chip memori bisa naik," ujar Ryu Hyung-keun dari Daishin Securities, seperti dikutip AFP. Namun, ia menambahkan bahwa pembelian saham oleh Chey Tae-won, ketua SK Group, ditafsirkan sebagai sinyal positif.
Katalis lain datang dari pemerintah Korea Selatan yang mengumumkan rencana mengucurkan dana hampir US$14 miliar dari sovereign wealth fund untuk investasi AI dan pembangunan pusat data. Langkah ini diikuti rencana pembatasan akses investor ritel ke leveraged ETF, yang sebelumnya dinilai memperparah aksi jual. Di sisi lain, laporan bahwa hedge fund Citadel mengakuisisi sebagian besar saham AI milik Situational Awareness, yang sebelumnya melepas kepemilikan di sejumlah perusahaan Asia termasuk SK Hynix, turut memperkuat sentimen positif.
Kepercayaan diri terhadap SK Hynix semakin kokoh setelah Chey Tae-won membeli saham senilai sekitar US$3 juta, pembelian pribadi pertamanya. Sebelumnya, ia sempat menyepelekan gejolak pasar sebagai penyesuaian dan menyarankan investor untuk berpandangan jangka panjang. "Chip memori akan selalu dibutuhkan, jadi nilainya pada akhirnya akan naik seiring waktu," ujarnya. Saham Samsung Electronics juga melonjak hampir 27% pada hari yang sama.
Kebangkitan ini tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Indeks Nikkei Tokyo naik 4%, didorong lonjakan saham Advantest (16%), Kioxia (17,7%), dan SoftBank (13,8%). Bursa Taiwan menguat 8% berkat kenaikan TSMC sebesar 10%. Shanghai, Sydney, Mumbai, Bangkok, dan Jakarta juga menguat, sementara Hong Kong dan Singapura mencatat penurunan tipis. Pergerakan ini menunjukkan bahwa optimisme terhadap sektor teknologi kembali meluas di kawasan Asia.
Bagi Indonesia, reli ini menjadi angin segar di tengah gejolak pasar global. Meski indeks domestik ikut menguat, investor perlu mencermati apakah tren ini berkelanjutan atau sekadar technical rebound. Kenaikan saham teknologi global dapat berdampak positif pada ekspor dan investasi di sektor hilir, namun fluktuasi nilai tukar yen dan dolar AS tetap menjadi variabel yang perlu diwaspadai. Bank Indonesia dan otoritas pasar modal akan terus memantau pergerakan ini untuk menjaga stabilitas.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah aksi borong ini akan bertahan atau hanya euforia sesaat. Dengan adanya dukungan pemerintah dan fundamental perusahaan yang solid, ada peluang pasar memasuki fase bullish baru. Namun, investor tetap harus waspada terhadap potensi koreksi lanjutan jika data ekonomi global memburuk. Akankah AI boom benar-benar kembali, atau ini hanya jeda sebelum badai berikutnya?



