Singapura Genjot Produktivitas Tambak dengan AI dan Aplikasi Digital: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura melalui SAFEF dan IMDA meluncurkan SG Farm App untuk menggantikan pencatatan manual di tambak, guna meningkatkan efisiensi dan ketertelusuran.
- Teknologi AI seperti AquaEasy di Max Koi Farm mampu menganalisis gelombang suara udang saat makan untuk menentukan jumlah pakan optimal, mengurangi beban kerja manual.
- Inisiatif ini menjadi preseden bagi negara tetangga, termasuk Indonesia, dalam memodernisasi sektor perikanan budidaya di tengah keterbatasan tenaga kerja dan biaya operasional yang meningkat.

Singapura mempercepat transformasi digital di sektor akuakultur dengan meluncurkan SG Farm App, sebuah platform pencatatan digital yang dikembangkan oleh Singapore Agro-Food Enterprises Federation (SAFEF) bersama DEX, anak perusahaan Infocomm Media Development Authority (IMDA). Langkah ini diambil di tengah tekanan untuk meningkatkan produksi pangan lokal di tengah keterbatasan tenaga kerja dan biaya operasional yang terus merangkak naik.
Aplikasi yang telah beroperasi sejak Mei ini dirancang untuk menggantikan sistem pencatatan manual yang selama ini dianggap lambat dan rawan kesalahan. Dengan aplikasi tersebut, para petambak dapat memantau produksi, mengendalikan biaya, dan memperkuat ketertelusuran produk secara hampir real-time. Hingga kini, platform tersebut telah diadopsi oleh dua tambak, termasuk National Broodstock Centre yang menjadi pemasok benih ikan nila bagi industri akuakultur setempat.
Selain pencatatan digital, adopsi kecerdasan buatan (AI) juga mulai merambah operasional harian tambak. Di Max Koi Farm, sensor dipasang untuk menangkap gelombang suara yang dihasilkan udang saat makan. Data tersebut kemudian diolah oleh platform AI lokal bernama AquaEasy untuk merekomendasikan jumlah pakan dan jadwal pemberian yang paling efisien. Menurut Ken Cheong, CEO SAFEF, teknologi ini secara signifikan mengurangi beban kerja manual yang selama ini menyita waktu petambak dalam perencanaan, eksekusi, dan pemantauan.
“Dengan digitalisasi dan sensor, sistem kini dapat secara mandiri mengukur seberapa banyak hewan makan, berapa jumlahnya di kolam, dan berapa pakan yang harus digunakan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa teknologi ini memberi gambaran lebih jelas tentang stok, utilisasi sumber daya, dan biaya operasional, sehingga petambak dapat merencanakan produksi dengan lebih baik.
SG Farm App hadir sebagai pelengkap teknologi produksi tersebut dengan mendigitalisasi catatan tambak. Pekerja dapat memasukkan data seperti penggunaan pakan, jumlah benih, dan volume panen. Hal ini memungkinkan tambak untuk mengevaluasi produktivitas dan biaya setiap siklus produksi secara lebih akurat. Di National Broodstock Centre, pekerja menggunakan aplikasi untuk mencatat berat, ukuran, dan tingkat mortalitas ikan. Proses pengukuran sampel ikan nila yang sebelumnya memakan waktu, kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu menit.
Ketepatan dan keaslian catatan menjadi kunci bagi tambak yang ingin meraih sertifikasi industri, seperti Good Aquaculture Practice for Fish Farming dari Singapore Food Agency. Menurut Cheong, pencatatan yang baik adalah langkah pertama menuju standar yang diakui. “Pencatatan adalah kunci semua standar,” tegasnya. Dengan aplikasi ini, SAFEF berharap dapat membantu tambak lokal memenuhi standar tersebut secara lebih efektif dan efisien.
Max Koi Farm, yang tengah dalam proses adopsi aplikasi, menyambut baik inisiatif ini. Pemiliknya, Max Ng, menilai aplikasi ini akan melengkapi teknologi yang sudah ada dan meningkatkan efisiensi operasional. “Aplikasi ini seharusnya memberi kami catatan yang lebih akurat tentang jumlah pakan yang diberikan, yang akan meningkatkan rasio konversi pakan dan membantu kami menghemat biaya,” katanya.
Model bisnis aplikasi ini menggunakan sistem berlangganan untuk menutup biaya infrastruktur IT dan server. SAFEF berkomitmen menjaga harga tetap terjangkau agar keuntungan dari penghematan tenaga kerja dan peningkatan produktivitas lebih besar daripada biaya langganan. Ke depan, federasi ini berencana memperluas aplikasi ke sektor pertanian sayuran. “Kami ingin semua orang terlibat,” ujar Cheong. “Kami akan mencari skema yang memastikan usaha yang dihemat sebanding dengan biaya langganan.”
Di luar digitalisasi, SAFEF juga menjajaki budidaya spesies baru untuk diversifikasi, seperti ikan perch Cina (Mandarin fish atau Guihua Yu). Langkah ini diharapkan dapat memperluas ragam produk perikanan lokal dan memenuhi permintaan konsumen. Jika berhasil, Singapura akan memiliki lebih banyak pilihan seafood budidaya yang tidak bergantung pada impor.
Bagi Indonesia, inisiatif ini menjadi cermin bahwa modernisasi akuakultur bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dengan ribuan tambak yang tersebar dari Aceh hingga Papua, adopsi teknologi serupa dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar global. Namun, tantangan infrastruktur dan literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Akankah Indonesia segera meniru langkah Singapura?



