Coinbase Terpuruk di Kuartal III, tapi Analis Yakin Diversifikasi Jadi Penyelamat
Baca dalam 60 detik
- Saham Coinbase merosot 5,6% setelah laporan rugi kuartalan ketiga berturut-turut, sejalan dengan penurunan bitcoin lebih dari 27% sepanjang 2026.
- Meski kinerja pasar kripto lesu, pangsa pasar perdagangan Coinbase justru mencetak rekor 10,3%, menandakan fundamental bisnis yang solid.
- Langkah ekspansi ke stablecoin dan derivatif ritel dinilai analis sebagai kunci pertumbuhan jangka panjang, dengan beberapa lembaga merekomendasikan aksi beli.

Saham Coinbase Global ambles 5,6% dalam perdagangan pramarket Jumat (31/7) setelah membukukan rugi kuartalan untuk ketiga kalinya beruntun. Meski demikian, para analis menilai fundamental perusahaan tetap kokoh dan strategi diversifikasi bisnis akan menjadi tameng saat siklus pasar kripto sedang tertekan.
Penurunan ini sejalan dengan pelemahan pasar aset digital dalam beberapa pekan terakhir. Bitcoin, sebagai mata uang kripto terbesar, kehilangan lebih dari 27% nilainya sepanjang 2026. Saham Coinbase yang kerap bergerak mengikuti siklus kripto pun ikut terkoreksi hingga nyaris 28%. Pemicunya adalah data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan, memupus harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Kondisi itu membuat investor menarik dana dari spot exchange-traded fund (ETF) dan menjauhi aset berisiko.
Analis Raymond James mengakui bahwa kondisi perdagangan kripto masih penuh tantangan. "Visibilitas terhadap pemulihan volume perdagangan masih sangat terbatas," tulis mereka dalam catatan riset. Namun, mereka meyakini kerugian kuartalan ini lebih disebabkan oleh siklus pasar, bukan kelemahan fundamental. Coinbase dinilai akan menjadi pusat pemulihan ketika pasar kripto kembali bangkit.
Data menunjukkan pangsa pasar perdagangan Coinbase justru menembus rekor 10,3% pada kuartal ketiga berturut-turut. "Ini membuktikan perusahaan terus merebut pangsa pasar bahkan di tengah lingkungan kripto yang lesu," ujar David Bartosiak, Strategis Saham di Zacks Investment Research. Ia menambahkan bahwa komposisi bisnis Coinbase kian membaik seiring upaya diversifikasi.
Coinbase memang gencar melebarkan sayap ke luar perdagangan spot bitcoin. Perusahaan menggarap bisnis stablecoin dan derivatif ritel untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga kripto. Pada Mei lalu, Coinbase bersama platform prediksi Kalshi meluncurkan kontrak berjangka kripto abadi (perpetual futures) โ instrumen pertama yang ditawarkan kepada investor AS melalui bursa domestik yang teregulasi. Langkah ini disambut positif oleh William Blair. "Kami terdorong oleh diversifikasi bisnis Coinbase dan yakin investor akan mengapresiasi pertumbuhan pangsa pasar berbasis derivatif," tulis mereka. William Blair bahkan merekomendasikan aksi beli untuk saham Coinbase saat ini.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat bahwa investasi aset kripto tetap sarat risiko. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti telah mengatur perdagangan aset kripto di dalam negeri, namun volatilitas global tetap menjadi faktor eksternal yang tak bisa dihindari. Investor ritel Indonesia yang mulai melirik aset digital sebaiknya mencermati strategi diversifikasi seperti yang dilakukan Coinbase, sembari tetap waspada terhadap gejolak harga jangka pendek.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah Coinbase masuk ke derivatif dan stablecoin mampu menjadi penopang pendapatan yang stabil di tengah ketidakpastian regulasi dan siklus pasar. Jika berhasil, bukan tidak mungkin sahamnya akan kembali diminati investor institusional. Namun, jika tekanan inflasi dan suku bunga tinggi berlanjut, pemulihan pasar kripto bisa tertunda lebih lama dari perkiraan.



