Tencent Ubah Strategi Investasi: Fokus Penuh ke AI, Lepas Genggaman di Bisnis Lama
Baca dalam 60 detik
- Tencent menggeser portofolio investasinya dari aset internet konvensional ke perusahaan AI unggulan China, seperti Moonshot AI dan DeepSeek.
- Langkah ini mencerminkan persaingan ketat di sektor AI global, dengan valuasi perusahaan rintisan yang meroket hingga miliaran dolar.
- Bagi Indonesia, pergeseran ini bisa menjadi sinyal bagi investor lokal untuk melirik potensi AI, meski perlu diimbangi dengan kesiapan regulasi dan infrastruktur.

Raksasa teknologi China, Tencent Holdings, tengah mengubah arah investasinya secara signifikan. Perusahaan yang selama ini dikenal dengan portofolio luas di bidang game, e-commerce, dan barang konsumen, kini secara agresif mengalihkan fokus ke perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) paling bergengsi di negeri Tirai Bambu. Langkah ini terlihat dari serangkaian aksi korporasi yang dilakukan Tencent dalam beberapa bulan terakhir, termasuk mengurangi kepemilikan saham di Kuaishou Technology, sebuah platform video pendek, hanya beberapa hari setelah menggelontorkan dana besar untuk unit AI Kuaishou, Kling AI.
Keputusan Tencent untuk merampingkan investasi di bisnis lama dan meningkatkan taruhan di AI bukanlah tanpa alasan. Persaingan di sektor AI global semakin memanas, dan China berusaha keras untuk tidak tertinggal. Tencent, dengan sumber daya keuangannya yang besar, tampaknya ingin memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam ekosistem AI domestik. Langkah ini juga terlihat dari partisipasi Tencent dalam pendanaan besar-besaran untuk perusahaan seperti DeepSeek, Moonshot AI, dan Zhipu AI, yang semuanya merupakan pengembang model AI terkemuka.
Salah satu langkah paling mencolok adalah keterlibatan Tencent dalam putaran pendanaan Seri A DeepSeek senilai US$7 miliar pada Juni lalu, yang menilai perusahaan rintisan asal Hangzhou itu hampir US$60 miliar. Tencent dilaporkan menyuntikkan dana sebesar 10 miliar yuan atau sekitar US$1,47 miliar. Kini, DeepSeek dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk putaran pendanaan baru dengan valuasi pra-investasi sekitar US$70 miliar dan berencana untuk melantai di Papan Bursa STAR Market Shanghai. Ini menunjukkan kepercayaan besar Tencent pada potensi DeepSeek, yang modelnya sempat memicu perbincangan sebagai 'momen DeepSeek' lainnya.
Selain DeepSeek, Tencent juga merupakan salah satu investor awal di Moonshot AI, pengembang model Kimi K3 yang baru saja dirilis. Moonshot AI sedang bersiap untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong dan menargetkan valuasi US$30 miliar. Tencent juga berinvestasi di Zhipu AI dan MiniMax, dua perusahaan AI yang telah mencatatkan kenaikan saham spektakuler setelah IPO di Hong Kong, masing-masing melonjak lebih dari 1.000 persen dan 130 persen dari harga perdana. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa investasi Tencent di bidang AI mulai membuahkan hasil.
Di sisi lain, Tencent juga memperkuat posisinya di sektor perangkat keras AI. Perusahaan ini merupakan pemegang saham eksternal terbesar di Shanghai Enflame Technology, sebuah perusahaan rintisan chip AI, dengan kepemilikan 20,26 persen. Enflame, yang dijuluki salah satu 'empat naga kecil' dalam chip AI domestik, baru saja mendapatkan persetujuan regulasi untuk IPO di STAR Market. Menariknya, Tencent juga menjadi klien utama Enflame, menyumbang 84 persen dari pendapatan perusahaan chip tersebut pada 2025. Ini menunjukkan integrasi vertikal yang erat antara Tencent dan perusahaan chip yang didukungnya.
Keputusan Tencent untuk memangkas investasi di Kuaishou dan beralih ke AI mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan raksasa teknologi China. Mereka semakin selektif dalam memilih sektor yang akan digarap, dengan AI menjadi prioritas utama. Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga. Investasi di bidang AI memang menjanjikan, tetapi juga membutuhkan kesiapan infrastruktur, regulasi, dan sumber daya manusia yang mumpuni. Pemerintah Indonesia perlu memperhatikan perkembangan ini dan memastikan bahwa ekosistem AI di dalam negeri juga siap bersaing di kancah global.
Langkah Tencent juga menunjukkan bahwa persaingan di industri AI tidak hanya terjadi di level perusahaan, tetapi juga di level negara. China, dengan dukungan penuh pemerintahnya, berusaha keras untuk menjadi pemimpin global dalam teknologi AI. Hal ini terlihat dari upaya Beijing yang memblokir akuisisi Meta Platforms atas Manus operator Butterfly Effect, dan kemudian mendorong investor asli untuk membeli kembali perusahaan tersebut. Tencent, yang pertama kali berinvestasi pada 2024, kini berupaya menjadi pemegang saham eksternal terbesar di perusahaan itu.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah strategi agresif Tencent ini akan terus berlanjut dan bagaimana dampaknya terhadap lanskap AI global. Dengan valuasi yang terus meroket, risiko gelembung juga semakin nyata. Namun, bagi Tencent, tampaknya ini adalah taruhan yang harus diambil untuk memastikan relevansinya di masa depan. Bagi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa AI bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis yang harus diantisipasi sejak dini.



