Alex Cooper Balas Troll soal Kehamilan: 'Ceritakan Pengalaman Hamilmu, Sayang'
Baca dalam 60 detik
- Bintang podcast Call Her Daddy, Alex Cooper, menanggapi komentar negatif warganet yang mengecilkan perjuangannya selama hamil.
- Ia mengungkap diagnosis diabetes gestasional yang dialaminya, sebuah kondisi yang kerap memicu rasa bersalah dan isolasi pada ibu hamil.
- Pengalaman ini diharapkan membuka ruang empati bagi perempuan lain yang menghadapi tantangan serupa di tengah tekanan sosial.

Alex Cooper, pembawa acara podcast populer Call Her Daddy, dengan tegas membalas seorang pengguna Instagram yang mengecilkan perjuangannya selama kehamilan. Dalam unggahan Instagram Stories pada Minggu (2/8), ia memperlihatkan tangkapan layar pesan langsung dari akun bernama Chris yang menulis, "Jangan mengeluh soal hamil. Itu pilihanmu. Kehamilan memang sulit." Respons Cooper langsung tajam: "'Kehamilan memang sulit.' Oh Chris, ceritakan pengalaman hamilmu, aku ingin mendengarnya, sayang!"
Pembelaan diri ini bukan sekadar adu komentar. Di baliknya, Cooper tengah berjuang melawan diabetes gestasional, kondisi yang baru-baru ini didiagnosis saat kehamilan pertamanya bersama suami, produser film Matt Kaplan. Dalam video yang diunggahnya, ia mengaku nyaris menangis saat menerima diagnosis tersebut. "Aku tidak akan menangis di internet karena aku tidak pernah melakukannya, tapi aku hampir saja," ujarnya, menggambarkan betapa beratnya kabar itu.
Diabetes gestasional, menurut layanan kesehatan Inggris NHS, adalah tingginya kadar gula darah yang muncul selama kehamilan dan biasanya hilang setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika hormon plasenta menyebabkan resistensi insulin, sehingga pankreas tidak mampu memproduksi insulin cukup untuk menjaga gula darah tetap normal. Yang mengejutkan, seperti ditegaskan Cooper, "Siapa pun bisa terkena, apa pun berat badan, pola makan, atau tingkat kebugaran sebelumnya."
Namun, yang paling membebani bukan hanya aspek medis. Cooper mengaku merasa sangat terisolasi pada hari-hari pertama setelah diagnosis. "Aku sangat menyalahkan diri sendiri dan merasa seperti berada di pulau terpencil," katanya. Meski keluarga dan suami mendukung, ia tetap merasa sendirian. "Diagnosis ini sangat menyedihkan karena selama kehamilan sudah banyak hal emosional yang harus dihadapi."
Fenomena ini tidak hanya dialami selebritas. Di Indonesia, diabetes gestasional juga menjadi perhatian serius. Data dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) menunjukkan prevalensi diabetes gestasional mencapai 1,9โ3,6% dari seluruh kehamilan, dan angka ini berpotensi meningkat seiring tingginya kasus obesitas dan gaya hidup sedentari. Sayangnya, masih banyak ibu hamil yang enggan membicarakan kondisi ini karena stigma dan rasa malu, persis seperti yang dirasakan Cooper.
Menariknya, Cooper justru menjadikan pengalaman pahit ini sebagai misi berbagi. Ia berharap ceritanya mampu membuat perempuan lain yang mengalami hal serupa merasa tidak sendirian. "Jika ada perempuan lain yang sedang mengalami ini sekarangโsayang, aku melihatmu lebih dari yang pernah kau lihat," tuturnya. Sikap ini mendapat apresiasi luas dari warganet, yang menilai responsnya terhadap troll justru menunjukkan kedewasaan dan empati.
Di tengah budaya media sosial yang kerap mengabaikan kompleksitas kehamilan, kasus Cooper menjadi pengingat bahwa komentar sinis dari orang lain bisa melukai, terutama bagi mereka yang sedang berjuang dengan kondisi medis. Para ahli kesehatan pun menekankan pentingnya dukungan sosial bagi ibu hamil dengan diabetes gestasional, bukan justru menambah beban psikologis.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah semakin banyak figur publik yang berani terbuka tentang komplikasi kehamilan seperti ini? Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin stigma seputar diabetes gestasional akan semakin terkikis, membuka jalan bagi edukasi yang lebih baik dan dukungan yang lebih tulus bagi para ibu di seluruh dunia, termasuk Indonesia.



