Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas': Refleksi 8 Bulan Setelah Bencana yang Melumpuhkan Aceh
Baca dalam 60 detik
- Pameran foto jurnalistik di Museum Tsunami Aceh menampilkan 68 karya dari 38 fotografer, menjadi ruang refleksi atas bencana November 2025.
- Lebih dari sekadar dokumentasi, pameran ini menghadirkan kisah kehilangan dan harapan, sekaligus menjadi media edukasi kebencanaan bagi publik.
- PFI Aceh tidak hanya memamerkan foto, tetapi juga membangun sumur bor dan menggelar lokakarya untuk melahirkan pewarta foto yang humanis.

Banda Aceh โ Sebuah foto hitam-putih seorang warga bermantel hujan di tengah kegelapan mampu menghentikan langkah Rizka Alifah. Delapan bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan 18 kabupaten/kota di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, rasa sesak dan cemas yang sama kembali menghampirinya. Bagi pengunjung pameran foto jurnalistik "Prahara Pulau Emas" di Museum Tsunami Aceh, setiap bingkai bukan sekadar gambar, melainkan pintu menuju memori November 2025 yang masih membekas.
Pameran yang berlangsung 3โ8 Agustus 2026 ini menampilkan 68 karya dari 38 pewarta foto terbaik se-Indonesia. Namun, bagi Rizka, pameran ini lebih dari sekadar apresiasi visual. Ia mengaku tidak pernah menginjakkan kaki di lokasi bencana, tetapi kerabatnya di Aceh Tamiang, Lhokseumawe, dan Bener Meriah ikut terdampak. Berhari-hari ia tak bisa menghubungi mereka karena jaringan komunikasi lumpuh; baru setelah sepekan, pesan singkat masuk: "Aku baik-baik saja. Kami mengungsi dan harus antre internet untuk memberi kabar." Pesan itu menjadi penanda keselamatan, namun di baliknya tersimpan kisah rumah terendam dan kehidupan yang berubah.
Bagi Rizka, kekuatan sebuah foto terletak pada kemampuannya menghentikan waktu. Berbeda dengan video yang bergerak cepat, foto memaksanya berhenti lebih lama, mengamati detail, dan membangun cerita sendiri. Saat melihat foto anak-anak sekolah yang kebingungan, ia bertanya-tanya: "Kalau aku jadi mereka, bagaimana pulang? Orang tuaku ada di mana?" Ketika matanya tertuju pada foto longsor, bayangannya melompat pada petugas SAR yang berjibaku mengevakuasi korban. "Lihat foto-foto itu kepala saya seperti berisik. Kita benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa ketika semuanya hilang," ujarnya.
Pameran ini memang dirancang sebagai ruang refleksi, bukan sekadar dokumentasi. Ketua PFI Aceh, M. Anshar, menegaskan bahwa Aceh adalah daerah yang memahami arti kehilangan. Tsunami, gempa, dan banjir telah mengajarkan masyarakat tentang ketangguhan dan gotong royong. PFI Pusat menggagas road show pameran ini sebagai media edukasi; setelah Yogyakarta dan Sumatra Barat, Aceh menjadi tuan rumah sebelum ditutup di Sumatra Utara. "Bencana boleh berlalu, namun pelajarannya tidak boleh hilang," tutup Anshar.
Semangat refleksi ini diwujudkan dalam aksi nyata. PFI Aceh mendapat amanah membangun sumur bor air bersih di rumah ibadah di Desa Meunasah Lhok, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Selain itu, mereka menggelar lokakarya fotografi jurnalistik yang diikuti mahasiswa dan komunitas fotografi dari berbagai daerah, menghadirkan pewarta foto senior Oscar Motuloh. Langkah ini diharapkan melahirkan pewarta foto yang tidak hanya mampu merekam peristiwa, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi pengunjung seperti Rizka, pameran ini menjadi cermin bahwa bencana tidak hanya menyisakan puing, tetapi juga pelajaran tentang solidaritas. Namun, pertanyaan yang menggantung: apakah delapan bulan cukup untuk membangun kembali kehidupan yang hancur? Atau justru pameran ini menjadi pengingat bahwa pemulihan sejati masih jauh dari selesai? Yang jelas, melalui lensa kamera, para pewarta foto telah memastikan bahwa ingatan kolektif tentang bencana tidak akan pudar, dan semangat untuk bangkit terus menyala.



