Ashton Kutcher dan Alison Brie Bintangi Komedi Gelap Gregg Araki, Produksi Dimulai di Los Angeles
Baca dalam 60 detik
- Gregg Araki menyutradarai The Decline of F****** Western Civilization, komedi gelap yang mulai syuting 16 September di Los Angeles.
- Ashton Kutcher dan Alison Brie didapuk sebagai pemeran utama, sementara Jesse Williams tengah dijajaki untuk peran ketiga.
- Naskah ditulis Kevin W. Koehler dan direvisi Araki, dengan Why Not Productions serta Goodfellas sebagai rumah produksi.

Gregg Araki kembali ke kursi sutradara dengan proyek ambisius bertajuk The Decline of F****** Western Civilization. Film komedi gelap ini resmi memasuki masa produksi pada Rabu, 16 September, di Los Angeles, dengan Ashton Kutcher dan Alison Brie sebagai dua bintang utamanya. Kabar tersebut pertama kali dilaporkan Deadline dan dikonfirmasi oleh sumber industri yang mengetahui jalannya proyek.
Kutcher, 48 tahun, dan Brie, 43 tahun, akan mengisi peran sentral dalam film yang digambarkan sebagai karya ansambel dengan nuansa yang disebut berada di antara Election dan American Beauty. Keduanya bukan nama baru di Hollywood, tetapi kombinasi mereka dalam sebuah komedi gelap garapan sutradara independen veteran seperti Araki menandai arah baru yang menarik untuk keduanya.
Aktor Jesse Williams, 45 tahun, dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk mengisi peran utama ketiga. Hingga kini, detail plot The Decline of F****** Western Civilization masih dirahasiakan. Naskahnya ditulis oleh Kevin W. Koehler, kemudian direvisi oleh Araki sendiri. Why Not Productions dan Goodfellas dipercaya sebagai rumah produksi yang menaungi proyek ini.
Proyek ini menyusul kesuksesan Araki dengan I Want Your Sex, sebuah thriller komedi erotis yang dibintangi Cooper Hoffman dan Olivia Wilde. Dalam film tersebut, Araki mengungkapkan bahwa ia sengaja menukar peran gender setelah gerakan #MeToo. Awalnya, cerita berpusat pada seorang intern perempuan dan bos laki-laki, dengan pendekatan komedi bergaya Fifty Shades of Grey. Namun, setelah #MeToo, ia mengubahnya menjadi intern laki-laki dan bos perempuan, yang kemudian melahirkan karakter Erika Tracy.
"Saya mengerjakan I Want Your Sex selama sepuluh atau sebelas tahun. Sebagai pembuat film independen, Anda mengerjakan banyak hal sekaligus. Dan itu berhasil, karena dalam tahun-tahun itu banyak hal berubah. Awalnya, itu adalah intern perempuan dan bos laki-laki, dan ditawarkan sebagai komedi bergaya Fifty Shades of Grey. Tapi setelah Me Too, saya mengubah peran menjadi intern laki-laki dan bos perempuan, yang menghasilkan Erika Tracy. Jauh lebih menarik memiliki dominan perempuan dan subordinat laki-laki," ujar Araki kepada Empire.
Araki juga menyoroti kiprah Olivia Wilde, yang menurutnya sering tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Hollywood. Ia membandingkan Wilde dengan bintang era 1940-an seperti Rita Hayworth atau Ingrid Bergman, memuji struktur tulang wajahnya yang khas dan kehadirannya yang magnetik. "Saya rasa Hollywood tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Dia bosan memainkan peran istri atau pacar yang seksi, saya pikir itu sebabnya dia mulai menyutradarai," kata Araki. Ia pertama kali memperhatikan Wilde saat membintangi The O.C. sebagai gadis biseksual yang keren.
Bagi industri film Indonesia, proyek ini bisa menjadi cermin bagaimana sutradara independen di Hollywood terus berevolusi menyesuaikan perubahan sosial, termasuk isu gender. Araki, yang dikenal lewat karya-karya seperti Nowhere dan Kaboom, menunjukkan bahwa komedi gelap tetap punya ruang di pasar global, terutama dengan nama-nama besar seperti Kutcher dan Brie. Di Indonesia, film-film dengan genre serupa sering kali kesulitan menembus pasar luas, tetapi keberhasilan Araki di kancah internasional dapat menjadi referensi bagi sineas lokal yang ingin mengangkat tema serupa dengan pendekatan yang lebih berani.
Dengan produksi yang baru dimulai, The Decline of F****** Western Civilization diperkirakan akan menjadi salah satu film independen paling dinanti. Apakah formula ansambel ala Election dan American Beauty masih relevan di tengah lanskap sinema yang didominasi waralaba superhero? Jawabannya akan terlihat saat film ini tayang, tetapi langkah Araki merekrut Kutcher dan Brie menunjukkan bahwa ia serius ingin menggabungkan bintang arus utama dengan visi artistiknya yang khas.



